ochimath

Just another WordPress.com site

INOVASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA

BAB 1

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Salah satu masalah yang dihadapi dalam pembelajaran matematika adalah siswa kurang didorong untuk mengembangkan dan menerapkan konsep-konsep yang dipelajarinya dalam menyelesaikan masalah kehidupan mereka. Proses pembelajaran lebih banyak diarahkan pada kemempuan untuk menghafal informasi. Akibatnya, ketika siswa lulus sekolah, mereka hanya paham teori secara konseptual tanpa memahami makna kontekstualnya.

Sugeng, M (2001:2) menyatakan pengembangan pembelajaran matematika sangat dibutuhkan karena keterkaitan peneneman konsep pada siswa, yang nantinya para siswa tersebut juga akan ikut andil dalam pengembangan matematika lebih lanjut ataupun dalam mengaplikasikan matematika dalam kehidupan sehari-hari. Namun demikian, pengembangan matematika tersebut akan ikut terhambat oleh pandangan masyarakat yang keliru tentang kemudahan dalam proses pembelajaran. Akibatnya, mata pelajaran matematika diampu oleh guru yang tidak profesional, tidak mau kreatif dalam pengembangkan pembelajaran. Semua ini akan dapat berakibat terhadap rendahnya motivasi dan minat siswa dalam mempelajari matematika. Akibat lebih lanjut adalah rendahnya pencapaian prestasi belajar siswa.

Pendapat yang menyatakan bahwa hasil pembelajaran matematika masih kurang memenuhi harapan. Seperti Windayana (2004) mengungkapkan bahwa pembelajaran matematika masih berorientasi pada pengembangan aspek kognitif yang menstransfer pengetahuan dari guru kesiswa yang diikuti dengan latihan-latihan untuk membentuk kemampuan sesaat.

Salah satu faktor penyebab kurang berhasilan tersebut adalah proses pembelajaran yang hanya bersifat monoton sehingga membuat siswa merasa bosan. Saat ini, di kalangan guru, senantiasa berdengung istilah pembelajaran inovatif. Di mana-mana, inovatif menjadi barang yang diburu guru untuk diketahui, dipelajari, dan dipraktikkan di kelas. Seolah-olah, tanpa inovatif, dunia guru tidak harum namanya. Sebenarnya, pembelajaran inovatif itu apa?

Inovasi pembelajaran muncul dari perubahan paradigma pembelajaran. Perubahan paradigma pembelajaran berawal dari hasil refleksi terhadap eksistensi paradigma lama
yang mengalami anomali menuju paradigma baru yang dihipotesiskan mampu memecahkan masalah. Terkait dengan pembelajaran di kelas, paradigma pembelajaran yang dirasakan telah mengalami anomali, Paradigma pembelajaran yang merupakan hasil gagasan baru adalah (1) peran guru lebih sebagai fasilitator, pembimbing, konsultan, dan kawan belajar, (2) belajar diarahkan oleh siswa sendiri, (3) berbasis masalah,proyek, dunia nyata, tindakan nyata, dan refleksi, (4) fokus masyarakat, (5) komputer sebagai alat. Paradigma pembelajaran tersebut diyakini mampu memfasilitasi siswa untuk mengembangkan kecakapan hidup dan siap terjun di masyarakat.

Berdasarkan latar belakang di atas maka kami tertarik untuk melakukan observasi di SMP Muhammadiyah 7 Surakarta.

  1. B.     Tujuan
    1. Meningkatkan kompetensi guru dalam pengelolaan pembelajaran
    2. Memotivasi guru dalam memfasilitasi dan mengelola pembelajaran yang efektif
    3. C.    Manfaat

Bagi siswa:

  • Dapat meningkatkan motivasi belajar matematika.
  • Dapat meningkatkan prestasi belajar matematika.

Bagi Guru:

  • Dapat membuat variasi pembelajaran sehingga tidak membosankan.
  • Dapat meningkatkan kualitas pembelajaran.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A.    Narasumber

Nama                                             : Makhfudin, S.Pd.

Pekerjaan                                       : Guru Matematika

Jenis kelamin                                 : Laki – laki

Waktu Wawancara                        : Kamis, 26 Mei 2011

Sekolah                                         : SMP Muhammadiyah 7  Surakarta

  1. B.     Daftar Pertanyaan
    1. Apakah guru tersebut pernah melaksanakan pembelajaran yang sifatnya inovatif?
    2. Apakah latar belakang kegiatan pembelajaran tersebut dilaksanakan?
    3. Bagaimana mekanisme pelaksanaannya?
    4. Bagaimana hasilnya?
  1. C.    Hasil Observasi
  • Guru tersebut pernah melaksanakan pembelajaran inovatif, yaitu dengan menggunakan model pembelajaran dalam bentuk kelompok, seperti Student Teams Achievement Division (STAD)
  • Model pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) ini dipilih karena model pembelajaran ini memungkinkan keterlibatan siswa sebagai anggota kelompok dalam usaha pencapaian tujuan. Belajar secara berkelompok memungkinkan siswa belajar secara efektif dan mereka dapat saling membantu. Dengan demikian, dengan mengelompokkan siswa pada saat belajar dan pemberian tugas adalah langkah yang baik dikarenakan memungkinkan siswa belajar secara efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran dengan baik. Pembelajaran inovatif tujuannya dapat langsung mengena ke siswa yaitu siswa mengalami kemudian menyimpulkan materi yang dibimbing oleh guru.
  • Mekanisme pelaksanaa dari model pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) antara lain :

1)      Para siswa di dalam kelas dibagi menjadi beberapa kelompok , jadi ada 8 kelompok, masing – masing kelompok mempunyai anggota yang heterogen, baik jenis kelamin, ras, etnik, maupun kemampuannya (prestasinya).

2)      Guru menyampaikan materi pelajaran

3)      Guru membagikan materi yang berbeda pada masing-masing kelompok dengan menggunakan lembar kerja akademik, dan kemudian saling membantu untuk menguasai materi pelajaran yang telah diberikan melalui tanya jawab atau diskusi antar sesama anggota kelompok.

4)      Selanjutnya masing-masing kelompok mempresentasikan kedepan kelas.

5)      Selanjutnya tanggapan dari masing-masing kelompok.

6)      Selanjutnya guru memberikan tanggapan dan penegasan.dan tiap kelompok diberi skor atas penguasaannya terhadap materi pelajaran, dan kepada siswa secara individual atau kelompok yang meraih prestasi tinggi atau memperoleh skor sempurna diberi penghargaan.

7)      Kesimpulan Pelaksanaan tipe STAD melalui tahapan sebagai berikut :

  1. Penjelasan materi pembelajaran;
  2. Diskusi atau kerja kelompok belajar;
  3. Validasi oleh guru;
  4. Evaluasi (Tes);
  5. Menentukan nilai individu dan kelompok;
  6. Penghargaan individu atau kelompok;
  • Hasil dari penggunaan model pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) ini akan mampu membawa siswa dalam situasi yang lebih kondusif, karena siswa lebih berperan dan lebih terbuka serta sensitif dalam kegiatan belajar mengajar. Hal ini terlihat mayoritas siswa beraktivitas dalam pembelajaran, aktivitas pembelajaran didominasi oleh kegiatan siswa dan mayoritas siswa mampu mengerjakan tugas yang diberikan guru melalui model pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD).

BAB III

PENUTUP

  1. A.    SIMPULAN
    1. Pembelajaran inovatif sangat diperlukan dalam pembelajaran.
    2. Model pembelajaran STAD merupakan salah satu inovasi pembelajaran yang mampu meningkatkan hasil belajar siswa.
  1. B.     SARAN
    1. Guru lebih meningkatkan strategi pembelajaran yang inovatif yang lebih bervariasi.
    2. Siswa perlu dikondisikan belajar mandiri secara kelompok melalui kerja-sama.
    3. Perlu dilakukan suatu penelitian tindakan kelas (action research) tentang pengaruh tipe model pembelajaran STAD terhadap peningkatan prestasi belajar siswa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: