ochimath

Just another WordPress.com site

KETERKAITAN KECERDASAN EMOSIONAL SISWA DALAM PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA

KETERKAITAN KECERDASAN EMOSIONAL SISWA

DALAM PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA

  1. Kecerdasan Emosional
    1. Pengertian Kecerdasan

Kata kecerdasan adalah dalam bahasa latin dikenal sebagai intellectus dan intelligentia. Selanjutnya dalam bahasa inggris diterjemahkan sebagai intellect dan intelligence. Intellegence dalam bahasa indonesia disebut kecerdasan (intelegensi). Dalam perkembangannya pengertian intelegensi banyak mengalami perubahan, Namun selalu mengandung pengertian bahwa intelegensi merupakan kekuatan atau kemampuan untuk melakukan sesuatu.

Feldam mendefinisikan kecerdasan sebagai kemampuan memahami dunia, berfikir secara rasional dan menggunakan sumber-sumber secara efektif pada saat dihadapkan dengan tantangan. Dalam pengertian ini kecerdasan terkait dengan kemampuan memahami lingkungan atau alam sekitar, kemampuan penalaran atau berfikir logis, dan sikap bertahan  hidup dengan menggunakan sumber-sumber yang ada.

Sejak tahun 1904, Binet seorang ahli psikologi berbangsa perancis telah berhasil membaut suatu alat mengukur kecerdasan yang disebut intelligence Quotient (IQ). Dan Gardiner mengemukakan 7 kecerdasan dasar, yaitu :

1. Kecerdasaan Musik (Musical intelligence)

2. Kecerdasan Gerakan badan (Bodily – kinesthetic intelligence)

3. Kecerdasan Logika matematika (Logical – Mathematical intelligence)

4. Kecerdasan Linguistik (Linguistic intelligence)

5. Kecerdasan Antar pribadi (Interpersonal intelligence)

6. Kecerdasan Ruang (Spartial intelligence)

7. Kecerdasan Intra Pribadi (Interpersonal Intellegence)

    1. Pengertian Emosi

Kata Emosi berasal dari bahsa latin yaitu Emovere yang berarti bergerak menjauh. Arti kata ini menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak merupakan  hal mutlak dalam emosi. Menurut Daniel Goleman (2002 : 411) emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak.

Menurut Beck yang mengungkapkan pendapat James dan Lange yang menjelaskan bahwa “Emotion is the perception of body changes which occur in response to an event”. Emosi adalah persepsi perubahan jasmaniah yang teradi dalam memberi tanggapan terhadap suatu peristiwa.

Emosi berkaitan dengan perubahan fisiologis dan berbagai pikiran. Jadi emosi merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia, karena emosi bias menjadi motivator perilaku dalam arti meningkatkan, tapi juga dapat mengganggu perilaku intsional manusia.

Daniel Goleman (2002:411) mengemukakan beberapa macam emosi yaitu:

  1. Amarah : beringas, mengamuk, benci, jengkel, kesal hati
  2. Kesedihan : pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihi diri,
  3. Rasa takut : cemas, gugup, khawatir, was-was, perasaan takut sekali,
  4. Kenikmatan : bahagia, gembira, riang, puas, riang, senang, terhibur,   bangga
  5. Cinta : penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati,
  6. Terkejut:
  7. Jengkel : hina, jijik, muak, mual, tidak suka
  8. Malu : malu hati, kesal
    1. Pengertian Kecerdasan Emosional

Kecerdasan Emosional atau Emotional Intelligence (EI) adalah kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustasi, mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stress tidak melumpuhkan kemampuan berpikir, berempati, dan  berdoa.

Menurut Goleman (2002 : 512), kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang mengatur kehidupan emosinya dengan inteligensi (to manage our emotional life with intelligence); menjaga keselarasan emosi dan pengungkapannya (the appropriateness of emotion and its expression) melalui keterampilan kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi diri, empati dan keterampilan sosial.

Walaupun EQ merupakan hal yang relatif baru dibandingkan IQ, namun beberapa penelitian telah mengisyaratkan bahwa kecerdasan emosional tidak kalah penting dengan IQ (Goleman, 2002:44).

Ketrampilan kecerdasan emosi bekerja secara sinergi dengan ketrampilan kognitif. Orang-orang yang berprestasi tinggi memiliki keduanya. Semakin kompleks pekerjaan, semakin penting kecerdasan emosi. Emosi yang lepas kendali dapat membuat orang menjadi bodoh. Tanpa kecerdasan emosi, orang tidak akan mampu menggunakan kemampuan  kognitif mereka sesuai dengan potensi maksimum.

  1. Faktor kecerdasan Emosional

Menurut Goleman yang mengutip Salovey (2002 : 58-59) memperluas kemampuan tersebut menjadi 5 kemampuan yaitu :

  1. Mengenal Emosi Diri

Mengenali emosi diri sendiri merupakan suatu kemampuan untuk mengenali perasaan sewaktu perasan itu terjadi.

  1. Mengelola Emosi

Kemampuan Peserta Didik dalam menangani perasaan agar dapat terungkap dengan tepat atau selaras, sehinga tercapai keseimbangan dalam diri peserta didik.

  1. Memotivasi Diri Sendiri

Memberi dorongan pada dirinya sendiri untuk memberi semangat dalam mencapai prestasi yang diinginkan.

  1. Mengenali Emosi Orang Lain

Peserta didik yang memiliki kemampuan empati lebih mampu menangkap sinyal-sinyal sosial yang tersembunyi yang mengisyaratkan apa-apa yang dibutuhkan orang lain sehingga  ia lebih mampu menerima sudut pandang lain, peka terhadap perasaan orang lain dan lebih mampu untuk mendengarkan orang lain.

  1. Membina Hubungan

Ketrampialan dalam berkomunikasi merupakan kemampuan dasar dalam membina hubaungan.

  1. Pengaruh Kecerdasan dengan Penyelesaian Soal Matematika

Kecerdasan emosional berperan penting saat peserta didik dihadapkan pada suatu permasalahan, misalnya saat mengerjakan soal-soal matematika. Keadaan emosi yang dibutuhkan adalah suasana yang tenang dan merasa yakin dapat mengerjakan. Apabila keadaanya seperti itu, maka mereka akan dengan mudah mengerjakan soal tersebut. Berbeda dengan siswa yang sebelumnya sudah merasa gugup dan percaya tidak bisa mengerjakan. Hal ini mengganggu konsentrasinya, akibatnya peserta didik akan merasa kesulitan mengerjakan soal tersebut.

Apapun permasalahan yang kita hadapi, sesulit apapun soalnya, yang kita butuhkan  adalah keadaan emosi yang baik. Karena akan menguntungkan kita dalam menyelesaikan masalah. Karena keadaan emosi diri kita hanya kita sendiri yang mengetauinya maka kita harus pandai-pandai menempatkan emosi yang tepat pada keadaan kita.

  1. Keterkaitan Antara Kecerdasan Emosional dengan Prestasi Belajar Siswa

Ditengah persaingan di dunia pendidikan, apabila para siswa sering khawatir mengalami kegagalan atau ketidakberhasilanya dalam meraih prestasi khususnya pada pelajaran matematika merupakan perasaan yang wajar. Apalagi matematika yang para siswa menganggapnya pelajaran yang paling sulit.

Banyak usaha yang dilakukan para siswa untuk meraih prestasi pada pelajaran matematika agar menjadi lebih baik seperti mengikuti bimbingan belajar. Usaha tersebut jelas positif, namun faktor lain yang tidak kalah pentingnya dalam mencapai keberhasilan. Faktor tersebut adalah kecerdasan emosional, karena kecerdasan intelektual saja tidak memberikan persiapan bagi individu untuk menghadapi gejolak, kesempatan ataupun kesulitan dalam kehidupan. Dengan kecerdasan emosional individu mampu mengetahui dan menanggapi perasaan mereka sendiri dengan baik dan mampu membaca dan menghadapi perasaan orang lain dengan efektif.

Peserta didik dengan ketrampilan emosional yang berkembang baik kemungkinan besar ia akan berhasil dalam kehidupan dan memiliki motivasi untuk berprestasi. Sedangkan individu yang tidak dapat menahan kendali atas kehidupan emosionalnya akan mengalami pertarungan batin yang merusak kemampuannya untuk memusatkan perhatian pada tugas-tugasnya dan memiliki pikiran yang jernih. Akibatnya prestasi belajar tidak akan maksimal.

Sebuah laporan dari National Center For Clinical Infant Programs (1992) menyatakan bahwa keberhasilan di sekolah bukan diramalkan oleh kumpulan fakta seorang siswa atau kemampuan dirinya untuk membaca, melainkan oleh ukuran-ukuran emosional dan sosial.

  1. Kesimpulan

Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa kecerdasan emosional merupakan salah satu faktor yang penting yang seharusnya dimiliki oleh siswa yang memiliki kebutuhan untuk meraih prestasi belajar yang lebih di sekolah. Peserta didik yang memiliki tingkat kecerdasan emosional yang lebih baik, dapat menjadi lebih terampil dalam menenangkan dirinya dengan cepat dan lebih cakap dalam akademis di sekolah.

Ketrampilan dasar emosional tidak dapat dimiliki secara tiba-tiba, akan tetapi membutuhkan proses dalam mempelajarinya dan lingkungan yang membentuk kecerdasan emosional. Maka dari itu bergaulah dalam lingkungan yang baik agar tertanam kecerdasan emosional yang baik pula..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: