ochimath

Just another WordPress.com site

ANALISIS ARTIKEL MATHEMATICS TEACHERS’ PREPARATION PROGRAM: DETERMINING THE BALANCE BETWEEN CONTENTS IN MATHEMATICS AND PEDAGOGI

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Matematika sebagai cabang ilmu pengetahuan yang memegang peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Matematika mulai di perkenalkan pada siswa sejak mengenyam pendidikan di Taman Kanak – Kanak sampai pada tingkat Perguruan Tinggi. Hal itu disebabkan karena Matematika berfungsi sebagai ilmu dasar untuk mempelajari ilmu – ilmu yang lain.
Akan tetapi, pada kenyataannya menunjukkan bahwa kondisi pengajaran Matematika memang belum sempurna seperti yang diharapkan yaitu ditandai dengan rendahnya prestasi belajar siswa pada pelajaran Matematika yang masih relatif sangat rendah bila dibanding dengan mata pelajaran yang lainnya.
Untuk mengatasi masalah tersebut, maka dari pihak guru dan siswa harus melakukan perbaikan. Dari pihak siswa dapat merubah cara belajarnya, meningkatkan minat dan motivasi belajarnya, dsb. Adapun dari pihak guru dapat mengubah metode mengajar, kurikulum, kesesuaian bahan ajar, serta peningkatan kualitas tenaga pendidik (SDM).
Peningkatan kualitas ini menuntut peningkatan kualitas pendidikan, baik pada tahapan anak usia dini, anak – anak, remaja maupun dewasa. Adapun upaya peningkatan kualitas pendidikan antara lain mempersyaratkan peningkatan kualitas tenaga pendidik dengan dukungan ilmu pengetahuan yang releven dan terus dikembangkan agar menjadi tenaga pendidik yang profesional.
(Shulman & Grossman, 1988; Wilson et al 1987) dalam Hamzah Ramlah (2008) menyebutkan seorang guru professional harus memiliki tujuh domain guru professional antara lain: pengetahuan tentang materi pelajaran, pengetahuan konten pedagogi, pengetahuan isi lain, pengetahuan dari kurikulum, pengetahuan peserta didik, pengetahuan tentang tujuan pendidikan, dan pengetahuan pedagogi umum.

Secara umum semua pengembang kurikulum dalam pendidikan matematika harus memenuhi syarat komponen yang telah ditetapkan. Seperti pada kurikulum yang digunakan di Malaysia seseorang yang akan mengajar di tingkat sekolah menengah harus memenuhi dua syarat diantaranya: pertama, Guru Matematika merupakan lulusan sarjana program studi yang mengkhususkan diri di bidang Pendidikan Matematika yang memperoleh gelar Bachelor of Science (Matematika dengan pendidikan) atau sarjana Matematika (Pendidikan). Kedua, melalui proses seleksi yang menyeluruh.
Ada dua pendapat Perencanaan untuk guru, pertama untuk menjadi guru matematika yang kompeten pengembangannya didasarkan pada keyakinan bahwa seseorang harus memiliki pengetahuan yang mendalam dan beberapa dasar dalam pedagogi dianggap telah memadai untuk memulai profesi mengajar, ketrampilan mengajar akan datang dengan sendirinya.
Sedangkan pendapat di pihak lain pengembangan guru matematika cenderung lebih menekankan pada pedagogi yang dikembangkan berdasarkan keyakinan yang kuat bahwa pengetahuan tentang pedagogi dan peserta didik adalah sama pentingnya dengan pengetahuan tentang matematika. Meskipun pengetahuan tentang matematika ada nilai tambanhya dalam lingkungan pendidik.
Didasarkan dua pendapat yang berbeda, maka sebaiknya harus ada upaya untuk menyeimbangkan antara ilmu tentang matematika dengan pedagogi agar keseimbangan dalam proses belajar mengajar dapat terlaksana dengan baik.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah persiapan mengajar dibutuhkan dalam proses belajar mengajar?
2. Adakah pengaruh keyakinan kemampuan keguruan dengan prestasi belajar siswa?

C. Tujuan
Tujuan umum
Untuk mengetahui apakah persiapan mengajar dibutuhkan dalam proses belajar mengajar dan pengaruh keyakinan kemampuan keguruan dengan prestasi belajar siswa.

Tujuan Khusus
Untuk mengetahui keseimbangan kemampuan materi ajar mata pelajaran matematika dengan kemampuan pedagogi dalam persiapan mengajar.

D. Manfaat
Manfaat Teoritis
Secara umum review ini memberikan pengalaman baru kepada dunia pendidikan untuk dapat meningkatkan kualitas pembelajaran matematika. Sehingga prestasi belajar matematika dapat meningkat pula.
Manfaat Praktis
Secara praktis, studi ini dapat dimanfaatkan
 Bagi guru: sebagai masukan untuk meningkatkan kemampuannya dalam mengajar
 Bagi sekolah: untuk meningkatkan kualitas dalam bidang pendidikan

BAB II
ISI

A. Ringkasan Artikel
1. Pendidikan Guru Matematika
Tabel 1 menampilkan program pendidikan Matematika di setiap Universitas berbasis pada kategori kursus. Kategori-kategori utama dianalis adalah program dalam pendidikan (pedagogi), kursus matematika, kursus dalam mata pelajaran wajib maupun pilihan.
Untuk mengkategorikan dua jenis penekanan dalam kurikulum, perbedaan kurang dari 10% antara kursus di bidang pendidikan dengan kursus dalam matematika dikategorikan dalam program sebagai Guru Matematika (MT) sedangkan perbedaan lebih dari 10% antara kursus di bidang pendidikan dengan kursus dalam matematika dikategorikan dalam program sebagai Guru Cum Matematikawan (M). seperti pada tabel 1, empat universitas menekankan pada program MT sedangkan dua lainnya pada program M. Program MT ditangani oleh Fakultas Pendidikan dan program M ditangani oleh Fakultas Sains/Matematika.
Hal ini lebih menekankan bahwa fakultas pendidikan menekankan bahwa guru yang baik harus memiliki pengetahuan pedagogi, sementara fakultas sains menekankan bahwa guru yang baik harus menguasai bahan/materi yang akan diajarkan.
2. Pra-Layanan Pemahaman Guru
Umumnya, persepsi responden pengetahuan konten pedagogi mereka percaya dalam pengajaran dan pandangan mereka tentang matematika yang positif dan moderat. Persepsi mereka tentang aspek-aspek apa yang penting dalam mengajar cukup tinggi, sementara tingkat kecemasan yang masih rendah (seperti pada tabel 2). Hal ini didasarkan pada umumnya aturan yang diberikan oleh Kubiszyn dan Borich (1996) yang menyatakan bahwa titik cut off rating rata-rata adalah 3,0 dan bahwa skor yang lebih tinggi 3,0 dianggap positif, sedangkan yang kurang dari 3,0 dianggap negatif.
Secara umum penelitian ini menunjukkan bahwa siswa yang telah menjalani program guru cum matematikawan lebih percaya diri, memiliki pandangan yang lebih baik, dan memiliki pengetahuan pedagogi yang sangat baik.
3. Keseimbangan komponen Matematika dan Pedagogi
Dalam membandingkan dua jenis program yang telah dibahas, perbedaan yang signifikan untuk dirasakan pentingnya penerapan aspek pengajaran tertentu, pandangan matematika, dan PCK. Strukur kurikulum untuk program guru cum matematikawan menunjukkan bahwa siswa dikembangkan lebih positif dalam pemahaman tentang matematika.

B. Metodologi Penelitian
Penelitian program persiapan guru matematika dilakukan di beberapa universitas di Malaysia dan Singapura, dan pemilihannya dilakukan secara acak. Subyek yang dipilih adalah mahasiswa tingkat akhir dari Sarjana Sains dan mahasiswa Sarjana Pendidikan.
Kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini dikembangkan berdasarkan aspek identifikasi ebagai kontribusi keyakinan pra-layanan guru yang berkonteks Malaysia, (i) strategi tertentu melaksanakan pengajaran, (ii) pengajaran khusus, (iii) pengajaran matematika topik tertentu. Selain melalui kuesioner data juga didapat melalui wawancara.

C. Kesimpulan
Penelitian ini menghasilkan suatu kesimpulan bahwa persiapan mengajar sangat dibutuhkan agar proses pembelajaran berjalan dengan baik. Persiapan tersebut meliputi keseimbangan antara pengetahuan tentang matematika (materi) dengan Pengetahuan mengajar (pedagogi)

BAB III
PEMBAHASAN

A. Hakekat Matematika
Hakekat matematika berkenaan dengan ide-ide, struktur-struktur dan hubungan-hubungan yang diatur menurut aturan yang logis sehingga matematika itu berkaitan dengan konsep-konsep yang abstrak. Sesuatu kebenaran matematika dikembangkan berdasarkan atas alasan yang logis dengan menggunakan pembuktian deduktif.
Dari pengertian di atas, maka dapat dikatakan bahwa matematika adalah ilmu deduktif yang tidak menerima generalisasi yang didasarkan pada pengalaman secara induktif saja. Matematika merupakan ilmu tentang struktur terorganisasikan mulai dari unsur yang tidak terdefinisikan ke unsur yang didefinisikan, ke aksioma, postulat dan akhirnya dalil.

B. Persiapan Mengajar
Sudrajat(2008) menyebutkan bahwa persiapan mengajar pada hakekatnya merupakan perencanaan jangka pendek untuk memperkirakan atau memproyeksikan tentang apa yang dilakukan. Dengan demikian, persiapan mengajar merupakan upaya untuk memperkirakan tindakan yang akan dilakukan dalam kegiatan pembelajaran, terutama berkaitan dengan pembentukan kompetensi.
Pengertian mengajar ada dua sudut pandang yaitu pandangan tradisional dan pandangan modern. Pandangan Tradisional memberi makna mengajar adalah menanamkan pengetahuan pada anak. Pengertian tersebut menempatkan guru pada posisi sentral, yaitu sebagai sumber pengetahuan yang harus mencurahkan ilmunya kepada peserta didik sementara peserta didik diposisikan sebagai penerima yang pasif.
Adapun pandangan modern telah memberi warna yang berbeda, yang mendefinisikan mengajar adalah teaching is guidance of learning atau bimbingan kepada siswa dalam proses belajar. Dari pengertian tersebut dapat dipahami bahwa dalam proses pengajaan terdapat dua pihak yang sama – sama aktif yaitu guru yang bertugas memberi bimbingan dan anak yang melakukan kegiatan belajar karena bimbingan guru, Surtikanti(2008:17).
Sedangkan menurut Arifin dalam Syah (2010:179) mendefinisikan mengajar sebagai “…. Suatu rangkaian kegiatan penyampaian bahan pelajaran kepada murid agar dapat menerima, menanggapi, menguasai, dan mengembangkan bahan pelajaran itu”.
Kumpulan atau set model mengajar yang dianggap komprehensif, menurut Tardif dalam Syah (2010:187) adalah set model yang dikembangkan oleh Bruce Joyce dan Marsha Weil dengan kategori sebagai berikut:
1. Model Information Processing ( Tahapan Pengolahan Informasi )
2. Model Personal ( Pengembangan Pribadi )
3. Model Sosial ( Hubungan Bermasyarakat )
4. Model Behavioral ( Pengembangan perilaku )
Sehingga dapat disimpulkan bahwa mengajar itu pada asasnya adalah kegiatan mengembangkan seluruh ranah psikologis melalui penataan lingkungan sebaik – baiknya dan menghubungkannya kepada siswa agar terjadi proses belajar.
Dalam Syah (2010:229) menyebutkan dalam menjalankan kewenangan profesionalnya, guru dituntut memiliki keanekaragaman kecakapan (competencies) psikologis, yang meliputi:
1. Kompetensi kognitif (kecakapan ranah cipta)
2. Kompetensi afektif (kecakapan ranah rasa)
3. Kompetensi psikomotor (kecakapan ranah karsa)
Kompetensi yang terkait dalam pembahasan artikel ini adalah kompetensi kognitif guru. Kompetensi kognitif guru merupakan kompetensi utama yang wajib dimiliki oleh setiap calon guru dan guru profesional. Pengetahuan dan ketrampilan ranah cipta dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori, yaitu:
a. Kategori pengetahuan kependidikan/keguruan (ilmu pedagogik)
Menurut sifat dan kegunaannya, displin ilmu kependidikan terdiri atas dua macam, yaitu: pengetahuan kependidikan umum dan pengetahuan kependidikan khusus. Pengetahuan kependidikan umum meliputi: ilmu pendidikan, psikologi pendidikan, administrasi pendidikan, dsb. Sedangkan pengetahuan kependidikan khusus meliputi: metode mengajar, metodik khusus pengajaran materi tertentu, teknik evaluasi, praktik keguruan, dsb.
Pengetahuan pendidikan umum itu meliputi segenap pengetahuan kependidikan yang tidak langsung berhubungan dengan proses belajar mengajar, sedangkan ilmu pendidikan khusus langsung berhubungan dengan praktik pengelolaan proses belajar mengajar.
b. Kategori pengetahuan materi bidang studi
Ilmu pengetahuan materi bidang studi meliputi semua bidang studi yang akan menjadi keahlian atau pelajaran yang akan diajarkan oleh guru. Dalam hal ini, penguasaan atas pokok-pokok bahasan materi pelajaran yang terdapat dalam bidang studi yang menjadi bidang tugas guru, mutlak diperlukan.
Penguasaan guru atas materi-materi bidang studi itu sebaiknya dikaitkan langsung dengan pengetahuan kependidikan khusus terutama dengan metode khusus dan praktik mengajar. Jenis kompetensi kognitif lain yang juga perlu dimiliki oleh seorang guru adalah kemampuan mentransfer strategi kognitif kepada para siswa agar dapat belajar secara efektif dan efisien.
Guru sebagai pengajar professional bukan hanya dalam hal menyajikan materi pelajaran di depan kelas saja, melainkan juga dalam hal mendayagunakan keterbatasan ruang, waktu, dan peralatan yang berhubungan dengan proses belajar mengajar.
Dalam persiapan mengajar harus jelas kompetensi dasar yang akan dikuasai peserta didik, apa yang harus dilakukan, apa yang harus dipelajari, bagaimana mempelajarinya, serta bagaimana guru mengetahui bahwa peserta didik telah menguasai kompetensi tertentu. Aspek-aspek tersebut merupakan unsur utama yang secara minimal harus ada dalam setiap persiapan mengajar sebagai pedoman guru dalam melaksanakan pembelajaran dan membentuk kompetensi peserta didik.
Terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam pengembangan persiapan mengajar, diantaranya :
1. Kompetensi yang dirumuskan dalam persiapan mengajar harus jelas, makin konkrit kompetensi makin mudah diamati, dan makin tepat kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan untuk membentuk kompetensi tersebut.
2. Persiapan mengajar harus sederhana dan fleksibel serta dapat dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran dan pembentukan kompetensi peserta didik.
3. Kegiatan-kegiatan yang disusun dan dikembangkan dalam persiapan mengajar harus menunjang dan sesuai dengan kompetensi dasar yang telah ditetapkan.
4. Persiapan mengajar yang dikembangkan harus utuh dan menyeluruh serta jelas pencapaiannya.
5. Harus ada koordinasi antarkomponen pelaksana program di sekolah, terutama apabila pembelajaran dilaksakan secara tim (team teaching) atau moving class.

C. Pengertian Pedagogi
Menurut Surtikanti ( 2008:18) Pedagogi berasal dari bahasa Yunani kuno Paidos dan Agoo. Paidos artinya budak dan Agoo artinya membimbing. Akhirnya Pedagogi diartikan sebagai “budak yang mengantarkan anak majikan untuk belajar”. Dalam perkembangannya Pedagogi dimaksudkan sebagai “Ilmu Mendidik”.
Mahmuddin (2008) pedagogik juga merupakan suatu ilmu, sehingga orang menyebutnya ilmu pedagogik. Ilmu pedagogik adalah ilmu yang membicarakan masalah atau persoalan-persoalan dalam pendidikan dan kegiatan-kegiatan mendidik, antara lain seperti tujuan pendidikan, alat pendidikan, cara melaksanakan pendidikan, anak didik, pendidik dan sebagainya.
Undang-undang guru dan dosen No. 14 tahun 2005, dan PP No 19/2005 menyatakan kompetensi guru meliputi kompetensi kepribadian, pedagogik, professional, dan sosial.
Menurut Peraturan Pemerintah tentang Guru, bahwasanya kompetensi pedagogik Guru merupakan kemampuan Guru dalam pengelolaan pembelajaran peserta didik yang sekurang-kurangnya meliputi:
1. Pemahaman wawasan atau landasan kependidikan.
Guru memiliki latar belakang pendidikan keilmuan sehingga memiliki keahlian secara akademik dan intelektual. Merujuk pada sistem pengelolaan pembelajaran yang berbasis subjek (mata pelajaran), guru seharusnya memiliki kesesuaian antara latar belakang keilmuan dengan subjek yang dibina. Selain itu, guru memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam penyelenggaraan pembelajaran di kelas.
Secara otentik kedua hal tersebut dapat dibuktikan dengan ijazah akademik dan ijazah keahlian mengajar (akta mengajar) dari lembaga pendidikan yang diakreditasi pemerintah.
2. Pemahaman terhadap peserta didik
Guru memiliki pemahaman akan psikologi perkembangan anak, sehingga mengetahui dengan benar pendekatan yang tepat yang dilakukan pada anak didiknya. Guru dapat membimbing anak melewati masa-masa sulit dalam usia yang dialami anak. Selain itu, Guru memiliki pengetahuan dan pemahaman terhadap latar belakang pribadi anak, sehingga dapat mengidentifikasi problem-problem yang dihadapi anak serta menentukan solusi dan pendekatan yang tepat.
3. pengembangan kurikulum/silabus
Guru memiliki kemampuan mengembangkan kurikulum pendidikan nasional yang disesuaikan dengan kondisi spesifik lingkungan sekolah.
4. Perancangan pembelajaran
Guru memiliki merencanakan sistem pembelajaran yang memanfaatkan sumber daya yang ada. Semua aktivitas pembelajaran dari awal sampai akhir telah dapat direncanakan secara strategis, termasuk antisipasi masalah yang kemungkinan dapat timbul dari skenario yang direncanakan.
5. pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis
Guru menciptakan situasi belajar bagi anak yang kreatif, aktif dan menyenangkan. Memberikan ruang yang luas bagi anak untuk dapat mengeksplor potensi dan kemampuannya sehingga dapat dilatih dan dikembangkan.
6. Pemanfaatan teknologi pembelajaran.
Dalam menyelenggarakan pembelajaran, guru menggunakan teknologi sebagai media. Menyediakan bahan belajar dan mengadministrasikan dengan menggunakan teknologi informasi. Membiasakan anak berinteraksi dengan menggunakan teknologi.
7. Evaluasi hasil belajar
Guru memiliki kemampuan untuk mengevaluasi pembelajaran yang dilakukan meliputi perencanaan, respon anak, hasil belajar anak, metode dan pendekatan. Untuk dapat mengevaluasi, guru harus dapat merencanakan penilaian yang tepat, melakukan pengukuran dengan benar, dan membuat kesimpulan dan solusi secara akurat.
8. Pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya
Guru memiliki kemampuan untuk membimbing anak, menciptakan wadah bagi anak untuk mengenali potensinya dan melatih untuk mengaktualisasikan potensi yang dimiliki.
D. Prestasi Belajar
WJS Poerwadarminto (1985:768) memberikan pengertian bahwa prestasi adalah hasil yang telah dicapai, dilakukan, dikerjakan, dan dihasilkan. Sedangkan menurut Zainal Arifin (1988:3) prestasi adalah kemampuan ketrampilan dan sikap seseorang dalam menyelesaikan suatu hal.
Nana Sudjana (2000:28) menyatakan bahwa belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Seseorang dikatakan belajar apabila dirinya telah mengalami perubahan. Sedangkan menurut Oemar Hamalik (1990:21) belajar adalah suatu bentuk perumusan atau perubahan dalam diri seseorang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan.
Pandangan seseorang guru terhadap pengertian belajar akan mempengaruhi tindakan dalam membimbing siswa untuk belajar. Seorang guru yang mengartikan belajar sebagai hafalan fakta tentunya akan lain cara mengajarnya dibandingkan dengan guru lain mengartikan bahwa belajar sebagai suatu proses perubahan tingkah laku. Untuk itu penting artinya pemahaman guru akan pengertian belajar tersebut (Usman 1993:5)
Indikator keberhasilan/prestasi siswa dapat dilihat melalui peningkatan nilai hasil belajar siswa ketika mengikuti pelajaran matematika.

BAB IV
PENUTUP

A. Simpulan
Dalam penelitian ini menghasilkan suatu kesimpulan bahwa:
1. persiapan mengajar sangat dibutuhkan agar proses pembelajaran berjalan dengan baik. Persiapan tersebut meliputi keseimbangan antara pengetahuan tentang matematika (materi) dengan Pengetahuan mengajar (pedagogi).
2. Guru dan calon guru yang kurang memiliki keyakinan terhadap kemampuan keguruannya menyebabkan merosotnya prestasi belajar siswa.

B. Implikasi
Penelitian ini memberikan implikasi bahwa program pendidikan keguruan masih perlu menambah jam untuk praktik mengajar kepada para mahasiswa calon guru. Agar terjadi keseimbangan antara belajar di kampus dengan dengan belajar langsung di lapangan.

C. Saran
Berdasarkan kesimpulan dan implikasi dari penelitian tersebut di atas maka ada beberapa hal yang perlu peneliti sarankan, antara lain :
1. Kepada guru atau calon guru mata pelajaran matematika, penulis menyarankan agar keyakinan guru dalam konsep pembelajaran matematika harus ditingkatkan supaya tidak terjadi salah penafsiran bagi siswa tentang materi yang di ajarkan.
2. Siswa dan guru harus dipacu untuk selalu aktif dan bersemangat dalam proses belajar mengajar sehingga daya serap siswa terhadap pelajaran tertentu dapat di serap dan di pahami dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA

Md. Yunus, Aida Suraya, dkk. 2008. Mathematics Teachers’ Preparation Program: Determining the Balance between Contents in Mathematics and Pedagogi. European Jurnal of Social Sciences Vol 6 No 4.
Syah, Muhibbin. 2010. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Surtikanti, Joko santoso. 2008. Strategi Belajar Mengajar. Surakarta: BP. FKIP UMS.
M. Jumali, dkk. 2008. Landasan Pendidikan. Surakarta: Muhammadiyah University Press.
TIM. 2004. Manajemen Pendidikan. Surakarta: Muhammadiyah University Press.
Mahmudin. 2008. Kompetensi Pedagogik Guru Indonesia. On line pada http://mahmuddin.wordpress.com/2008/03/19/kompetensi-pedagogik-guru-indonesia/. Diakses pada tanggal 1 April 2011.
Sudrajat, Akhmad. 2008. Persiapan Mengajar. On line pada http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/08/02/persiapan-mengajar/. Diakses tanggal 1 April 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: