ochimath

Just another WordPress.com site

PENINGKATAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA ARITMATIKA SOSIAL DENGAN MENGGUNAKAN STRATEGI DEEP DIALOGUE

A.    PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang Masalah

Salah satu tujuan nasional negara Indonesia yang dirumuskan dalam pembukaan UUD’45 adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Salah satu upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa adalah dengan pendidikan. Pendidikan adalah aktifitas pembelajaran yang ditandai dalam bentuk interaksi edukatif dengan menempatkan peserta didik sebagai subjek pendidikan, masih juga pendidikan dipersyaratkan untuk penunaian yang mengarah pada upaya memberi arah dan watak pada peserta didik (Jumali dkk, 2008: 18)

Dalam proses belajar mengajar yang sedang berlangsung di kelas hendaknya mampu menarik perhatian siswa terhadap materi yang sedang dipelajari. Guru sebagai pendidik mempunyai tugas untuk mendorong, membimbing, dan memberikan fasilitas belajar yang optimal. Namun demikian dalam proses pendidikan tidak semua tanggung jawab dibebankan kepada pendidik, untuk dapat mencapai tujuan pendidikan yang lebih efektif diperlukan suatu peran yang mendukung dari peserta didik juga.

Motivasi sangat besar peranannya dalam proses belajar mengajar untuk meningkatkan hasil belajar matematika. Dengan adanya motivasi dapat menumbuhkan minat untuk belajar sehingga dapat meningkatkan hasil belajar. Siswa yang memiliki motivasi yang kuat akan mempunyai keinginan untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Sehingga boleh jadi siswa yang memiliki tingkat intelegensi yang cukup tinggi menjadi gagal karena kurangnya motivasi. Sebab hasil belajar akan optimal bila terdapat motivasi yang tepat. Oleh sebab itu bila siswa mengalami kegagalan dalam belajar halitu bukan semata-mata karena kesalahan siswa, tetapi mungkin juga karena guru tidak berhasil dalam membangkitkan motivasi belajar.

Berikut gambaran sekilas keadaan siswa dalam pembelajaran matematika adalah sebagai berikut: (1) di ruang kelas siswa relatif tenang mendengarkan guru mengajar, (2) siswa sibuk mencatat, (3) tidak ada keberanian siswa dalam mengajukan pertanyaan, (4) siswa cenderung takut dan enggan menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru.

Berdasarkan informasi di atas dapat ditunjukkan bahwa motivasi belajar matematika siswa masih sangat memprihatinkan. Hal ini disebabkan beberapa faktor yang mempengaruhi motivasi belajar antara lain: cita-cita atau aspirasi siswa, kemampuan siswa, kondisi siswa, kondisi lingkungan siswa, dan unsur-unsur dinamis dalam belajar dan pembelajaran (Dimyati dan Mudjiono, 1999).

Cita-cita atau aspirasi siswa merupakan segi manipulasi kemandirian, keinginan yang tidak terpuaskan dapat memperbesar kemauan dan semangat belajar, dari segi pembelajaran penguatan dengan hadiah atau hukuman akan dapat mengubah keinginan menjadi kemauan dan kemauan menjadi cita-cita. Cita-cita dapat berlangsung dalam waktu sangat lama bahkan sampai sepanjang hayat. Cita-cita seseorang akan memperkuat semangat belajar dan mengarahkan perilaku belajar.

Kemampuan siswa merupakan keinginan siswa yang perlu diikuti dengan kemampuan atau kecakapan untuk mencapainya. Kemampuan akan memperkuat motivasi siswa untuk melakukan tugas-tugas perkembangannya. Faktor kondisi siswa meliputi kondisi jasmani dan rohani. Seorang siswa yang sedang sakit, lapar, lelah atau marah akan mengganggu perhatiannya dalam belajar.

Faktor kondisi lingkungan siswa dapat berupa keadaan alam, lingkungan tempat tinggal, pergaulan sebaya dan kehidupan kemasyarakatan. Sebagai anggota masyarakat, maka siswa dapat terpengaruh oleh lingkungan sekitar. Unsur-unsur dinamis dalam belajar dan pembelajaran siswa memiliki perasaan, kemauan, ingatan, dan pikiran yang mengalami perubahan karena pengalaman hidup. Pengalaman dengan teman sebaya berpengaruh pada motivasi dan perilaku belajar. Lingkungan alam, tempat tinggal dan pergaulan juga mengalami perubahan. Lingkungan budaya seperti surat kabar, majalah, radio, televisi semakin menjangkau siswa akan dapat meningkatkan motivasi belajar.

Dari sekian faktor tersebut faktor yang paling dominan adalah kemampuan siswa. Karena kurangnya kemampuan siswa dalam berkomunasi yang efektif selama proses pembelajaran akan mempersulit guru dalam mengidentifikasi permasalahan-permasalahan yang terjadi dalam proses pembelajaran. Hal ini akan sangat mempengaruhi motivasi belajar siswa, khususnya dalam pembelajaran matematika, dan selanjutnya akan mempengaruhi hasil belajar siswa.

Permasalahan komunikasi di atas pada dasarnya berhubungan erat dengan masalah dialog. Proses belajar mengajar adalah proses dialog, secara sederhana dialog merupakan percakapan antara orang-orang. Dan melalui dialog tersebut dua kelompok masyarakat atau lebih yang memiliki pandangan beerbeda-beda bertukar ide, informasi dan pengalaman. Komunikasi yang interaktif, efektif dan penuh dengan keterbukaan akan memunculkan suasana yang lebih demokratis dan nyaman dalam proses pembelajaran. Sehingga dengan dialog yang mendalam pendidik dan peserta didik akan jauh lebih mudah dalam mengidentifikasi kesulitan-kesulitan serta dapat mencari solusi yang tepat.

Suasana yang demokratis tersebut juga akan lebih memudahkan guru dalam menentukan strategi yang akan digunakan dalam proses belajar mengajar. Pembelajaran yang menekankan proses dialog adalah dengan menggunakan pendekatan Deep Dialogue (Dialog Mendalam).

Berdasarkan uraian di atas, maka akan diadakan peneltian mengenai  “PENINGKATAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA ARITMATIKA SOSIAL DENGAN MENGGUNAKAN STRATEGI DEEP DIALOGUE”.

2.      Rumusan Masalah

  1. Apakah dengan strategi Deep Dialogue dapat meningkatkan motivasi siswa pada Aritmatika Sosial dalam pembelajaran matematika?
  2. Apakah dengan strategi Deep Dialogue dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada Aritmatika Sosial dalam pembelajaran matematika?

3.      Tujuan Penelitian

Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mendiskripsikan proses pembelajaran melalui strategi Deep Dialogue yang dilakukan oleh guru kelas.

Secara khusus tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Untuk mendiskripsikan peningkatan motivasi belajar siswa pada Arimatika Sosial dalam pembelajaran matematika melalui strategi Deep Dialogue.
  2. Untuk mendiskripsikan peningkatan hasil belajar siswa pada Arimatika Sosial dalam pembelajaran matematika melalui strategi Deep Dialogue.

4.      Manfaat Penelitian

Manfaat Teoritis

Secara teoritis penelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbangan terhadap pembelajaran matematika untuk dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa, utamanya pada bahasan Aritmatika Sosial.

Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan solusi nyata berupa langkah-langkah untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar pada Aritmatika Sosial dalam pembelajaran matematika melalui strategi Deep Dialogue. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan manfaat bagi siswa, guru, dan sekolah.

1)        Bagi Siswa

Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar dan memberikan informasi tentang pentingnya motivasi dalam pembelajaran matematika.

2)        Bagi Guru

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai masukan dan dasar pemikiran guru dan calon guru untuk dapat memilih metode pengajaran yang tepat.

3)        Bagi sekolah

Hasil penelitian ini memberikan sumbangan yang baik dalam rangka perbaikan pembelajaran matematika, peningkatan mutu sekolah, dan meningkatkan profesionalisme guru

5. Definisi Istilah

a.         Motivasi Belajar Matematika

Motivasi adalah kondisi psikologis yang merupakan kekuatan untuk mendorong seseorang melakukan suatu tujuan tertentu yang ingin dicapai untuk memperoleh hasil yang diinginkan atau yang diciptakan. Dalam proses belajar mengajar motivasi merupakan hal yang penting karena dengan adanya motivasi belajar pada siswa berarti ada dorongan untuk belajar.

b.        Hasil Belajar Matematika

Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melakukan kegiatan belajar (Abdurrahman, 1999). Hasil belajar merupakan pencapaian bentuk perubahan perilaku yang cenderung menetap dari ranah kognitif, afektif, dan psikomotoris dari proses belajar yang dilakukan dalam waktu tertentu.

c.         Strategi Deep Dialogue

Deep Dalogue (dialog mendalam) dapat diartikan sebagai percakapan antara orang-orang (dialog) yang harus diwujudkan dalam hubungan yang interpersonal, saling keterbukaan, jujur, dan mengandalkan kebaikan (GDI, 2001).

Beberapa prinsip yang harus dikembangkan dalam Deep Dialogue antara lain adalah: adanya komunikasi dua arah dan prinsip saling memberi yang terbaik, menjallin hubungan kesederajatan dan keberadaban serta empatisitas yang tinggi dari setiap pelakunya. Dengan demiikian Deep Dialogue mengandung nilai-nilai demokratis dan etis.

B.     TINJAUAN PUSTAKA

  1.   Kajian Teori

a.      Hakikat Belajar

Menurut Slameto (2003: 2) “belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”.

Sedangkan menurut para pedagog dan psikolog dalam Burhanudin Salam (2004: 15) menyatakan bahwa belajar adalah proses perubahan perilaku. Perilaku yang mengandung arti luas, meliputi pengetahuan kemampuan berpikir, skill atau ketrampilan, penghargaan terhadap suatu sikap, minat dan semacamnya.

Jadi belajar adalah suatu proses usaha untuk melakukan perubahan tingkah laku, bai tingkah laku berupa kemampuan berpikir, ketrampilan sebagai hasil pengalaman sendiri dalam interaksi dengan lingkungan.

b.      Hakikat Matematika

Johnson dan Myklebust dalam Mulyono Abdurrahman (2003: 252) menyatakan bahwa Matematika adalah bahasa simbolis yang fungsi praktiknya untuk mengekspreksikan hubungan-hubungan kuantitatif dan keruangan sedangkan fungsi teoritisnya adalah untuk memudahkan berpikir.

Menurut Paling dalam Mulyono Abdurrahman (2003: 252) ide manusia tentang matematika berbeda-beda, tergantung pada pengalaman dan pengetahuan masing-masing. Ia mengemukakan bahwa matematika adalah suatu cara untuk menemukan jawaban terhadap masalah yang dihadapi manusia, suatu cara menggunakan infrasi, menggunakan pengetahuan tentang bentuk dan ukuran, menggunakan pengetahuan mengitung dan  yang paling penting adalah memikirkan dalam diri manusia sendiri dalam melihat dan menggunakan hubungan-hubungan.

Sedangkan menurut Hamzah (2007: 129) menyatakan bahwa matematika adalah sebagai suatu bidang ilmu yang merupakan alat pikir berkomunikasi, alat untuk memecakan berbagai persoalan praktis, yang unsur-unsurnya logika dan intuisi, analisis dan kontruksi, generalitas dan individualitas.

Dapat disimpulkan bahwa matematika adalah ilmu yang mendasari berbagai ilmu pengetahuan lain dalam bentuk bahasa simbol-simbol untuk menemukan suatu jawaban terhadap permasalahan yang dihadapi manusia baik berupa informasi ataupun pengetahuan tentang bentuk dan ukuran.

c.       Motivasi Belajar

Kata “motif” diartikan sebagai daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motif dapat dikatakan sebagai daya penggerak dari dalam dan di dalam subyek untuk melakukan aktifitas-aktifitas tertentu demi mencapai suatu tujuan (Sardiman, 2001: 71).

Berawal dari kata motif itu maka motivasi dapat diartikan sebagai serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu sehingga seseorang itu mau dan ingin melakukan sesuatu, dan bila tidak suka maka akan berusaha untuk meniadakan perasaan tidak suka itu (Sardiman A. M, 1996: 75).

Beberapa ahli psikologi mengungkapkan bahwa motivasi seseorang dapat muncul dari dua sumber, yaitu dari dalam diri dan dari luar diri siswa. Oemar Hamalik (2008: 158-159) menyatakan bahwa “motivasi adalah perubahan dalam diri (pribadi) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan”. Dan terdapat tida unsure yang saling berkaitan yaitu: (1) motivasi dimulai dari adanya perubahan energi dalam pribadi, (2) motivasi ditandai dengan timbulnya perasaan affective arousal, dan (3) motivasi ditandai dengan reaksi-reaksi untuk mencapai tujuan.

Motivasi selalu berkaitan dengan suatu tujuan, dengan demikian motivasi akan mempengaruhi setiap adanya kegiatan termasuk dalam kegiatan belajar, Sadirman (2001: 83) telah mengemukakan ada beberapa fungsi motivasi, antara lain:

1)      Mendorong manusia untuk sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi, motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari kegiatan yang akan dikerjakan.

2)      Menentukan arah kegiatan yakni ke arah tujuan yang hendak dicapai, dengan demikian motivasi dapat menberikan arah kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dnegan rumusan tjuan.

3)      Menyeleksi perbuatan yakni mementukan perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan dengan menyisihkan perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan.

Indikator dari motivasi menurut Hamzah B. Uno (2006: 31) yaitu sebagai berikut:

1)         Adanya hasrat dan keinginan berhasil,

2)         Adanya dorongan dan kebutuhan dalam beajar,

3)         Adanya harapan dan cita-cita masa depan,

4)         Adanya penghargaan dalam belajar,

5)         Adanya kegiatan yang menarik dalam belajar,

6)         Adanya lingkungan belajar yang kondusif sehingga memungkinkan seorang siswa dapat belajar dengan baik.

Dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah kondisi psikologis yang merupakan kekuatan untuk mendorong seseorang melakukan suatu tujuan tertentu yang ingin dicapai untuk memperoleh hasil yang diinginkan atau yang diciptakan. Dalam proses belajar mengajar motivasi merupakan hal yang penting karena dengan adanya motivasi belajar pada siswa berarti ada dorongan untuk belajar.

d.      Hasil Belajar

Menurut Winkel dalam Purwanto (2009: 45) hasil belajar adalah perubahan yang mengakibatkan manusia berubah dalam sikap dan tingkah lakunya. Aspek perubahan itu mengacu kepada taksonomi tujuan pengajaran yang dikembangkan oleh Bloom Simpson dan Harrrow mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Sedangkan menurut Nana Sudjana (2006: 22) hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya.

Jadi dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui proses pembelajaran baik kemampuan kognitif, afektif maupun psikomotorik.

e.       Hakikat Pembelajaran

Pembelajaran menurut Hamalik (2007:57) pembelajaran ialah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi pencapaian tujuan pembelajaran.

Menurut Piaget dalam Dimyati dan Mudjiono (2006: 14-15), pembelajaran terdiri dari empat langkah yaitu:

1)      Menentukan topik yang dapat dipelajari oleh siswa sendiri.

2)      Memahami dan mengembangkan aktivitas khusus dengan topik tersebut.

3)      Mengetahui adanya kesempatan bagi guru untuk mengemukakan pertanyaan yang menunjukkan proses pemecahan masalah.

4)      Memiliki pelaksanaan terhadap kegiatan, memperhatikan kebersamaan dan melakukan revisi.

Menurut Sagala (2006: 61-62) pembelajaran mengandung arti setiap kegiatan yang dirancang untuk membantu seseorang mempelajari suatu kemampuan dan atau nilai yang baru. Proses pembelajaran pada awalnya meminta guru untuk mengetahui kemampuan dasar ang dimiliki oleh siswa meliputi kemampuan dasarnya, motivasinya, latar belakang akademisnya, latar belakang sosial ekonominya, dan lain sebagainya. Kesiapan guru untuk mengenal karakteristik siswa dalam pembelajaran merupakan modal utama penyampaian bahan belajar dan menjadi indikator suksesnya pelaksanaan pembelajaran.

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah setiap kegiatan yang dirancang oleh guru untuk membantu seorang peserta didik mempelajari suatu kemampuan dan atau nilai baru dalam suatu proses yang sistematis melalui tahapan rancangan, pelaksanaan dan evaluasi dalam konteks kegiatan belajar mengajar.

f.       Strategi Deep Dialogue

Deep Dialogue (dialog mendalam) dapat diartikan sebagai percakapan antara orang-orang (dialog) yang harus diwujudkan dalam hubungan yang interpersonal, saling keterbukaan, jujur dan mengandalkan kebaikan (GDI, 2001). Beberapa prinsip yang harus dikembangkan dalam Deep Dialogue, antara lain adalah: adanya komunikasi dua arah dan prinsip saling memberi yang terbaik, menjalin hubungan kesederajatan dan keberadaban serta empatisitas yang tinggi dari setiap pelakunya.

Fokus kajian pendekatan Deep Dialogue dalam pembelajaran dikonsentrasikan dalam mendapatkan pengetahuan dan pengalaman, melalui dialog secara mendalam tidak saja menekankan keaktifan peserta didik pada aspek fisik, akan tetapi jga aspek intelektual, sosial, mental, emosional dan spiritual. Peserta didik yang telah belajar di kelas  yang menggunakan pendekatan Deep Dialogue diharapkan akan memiliki perkembangan koqnisi dan psikososial yang lebih baik dan meningkatkan pemahaman terhadap dirinya dan orang lain dengan adanya perbedaan pendapat.

Agar Deep Dialogue dapat diimplementasikan dalam pembelajaran perlu diperhatikan kaidah-kaidah deep dialogue sebagai berikut: Pertama, keterbukaan, merupakan langkah awal untuk melakukan dialog mendalam induvidu harus membuka diri terhadap mitra dialog, karena sifat terbuka dalam diri akan membuka peluang untuk belajar, mengubah dan mengembangkan persepsi. Kedua, kejujuran, bersikap jujur dan penuh kepercayaan diperlukan dalam deep dialogue, karena dialog hanya akan bermanfaat jika pihak-pihak yang melakukan bersikap jujur dan tulus.

Ketiga, kerjasama, untuk menanamkan kepercayaan antara personal, langkah awal yang perlu dilakukan adalah dengan menyamakan persepsi dengan cara bekerjasama dengan orang lain. Keempat, setiap personal harus mampu menjunjung nilai-nilai moral, deep dialogue terjadi apabila masing-masing pihak yang berdialog mampu menjunjung tinggi nilai-nilai moral etis atau santun, saling menghargai, demokratis dengan memperlakukan mitra dialog sedemikian rupa sehingga berketetapan hati untuk berdialog. Kelima, saling mengakui keunggulan, deep dialogue akan terjadi apabila masing-masing pihak menghadirkan hati. Keenam, membangun empati dengan tetap menjaga integritas diri mitra dialog.

Kelebihan dari pembelajaran deep dialogue adalah semua peserta didik berkesempatan untuk mengemukakan pendapatnya sehingga pembelajaran menjadi aktif, sedangkan kelemahan nya adalah suasana kelas menjadi gaduh apabila guru tidak dapat mengendalikan  proses diskusi.

Langkah-langkah penerapan pembelajaran deep dialogue adalah sebagai berikut

1)      Kegiatan awal

Dalam setiap mengawali pembelajaran dimulai dengan salam, tujuan pembelajaran, kompetensi yang akan dicapai, kemudian menggunakan elemen dinamika kelompok untuk membangun komunitas.

2)      Kegiatan inti

Guru melaksanakan kegiatan dengan menggali informasi dengan menperbanyak brain storming dan diskusi dengan melemparkan pertanyaan komplek untuk menciptakan kondisi diaog mendalam dan berpikir kritis. Kemudian dilakukan cooperative learning untuk memecahkan masalah yang diberikan oleh guru.

3)      Kegiatan Akhir

Tahapan ini dengan mengambil simpulan dari semua yang dibelajarkan, sekaligus memberikan penghargaan atas segala aktivitas dari peserta didik, kemudian membuat refleksi.

g.      Aritmatika Sosial

Dalam kegiatan perdagangan terdapat penjual dan pembeli. Ilustrasi perdagangan sebagai berikut Penjual menyerahkan barang kepada pembeli sebagai ganti uang yang diterimanya, sedangkan pembeli menyerahkan uang sebagai ganti barang yang diterimanya.

Dalam kegiatan perdagangan kita akan mengenal harga beli, harga jual, laba, rugi dan juga persentasenya. Selain itu kita juga akan menghitung nilai rabat dan netto.

1)      Harga Jual, Harga Beli, Laba, dan Rugi

Laba = Harga Jual  – Harga Beli

Rugi = Harga Beli – Harga Jual

Seorang pedagang jika memperoleh harga jual lebih besar dari harga beli maka dikatakan pedagang tersebut mengalami laba (untung), sebaliknya jika harga jual yang diterima lebih kecil dari harga beli maka pedagang tersebut mengalami kerugian.

3)      Rabat dan Netto

Rabat disebut juga potongan harga/diskon

Netto berkaitan dengan bruto dan tara.

Netto = Bruto – Tara

Netto adalah berat bersih, tara adalah potongan berat dan Brutto adalah berat kotor.

Jadi:

2.      Kajian Pustaka

Terdapat beberapa penelitian yang dilakukan dalam rangka peningkatan kualitas belajar menggunakan berbagai strategi dalam beberapa mata pelajaran. Adapun penelitian pembelajaran tersebut antara lain:

Purwati (2006) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa pembelajaran dengan pendekatan Humanitis dapat meningkatkan motivasi dan prestasi belajar matematika.

Ida Kartika Sari (2011) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa pendekatan deep dialogue dapat meningkatkan motivasi belajar sehinga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada pembelajaran IPA.

Muhammad Noor Kholid (2009) menyimpulkan bahwa penerapan metode Quantum Teaching dapat meningkatkan motivasi dan prestasi belajar matematika.

Effandi Zakaria and Norazah Mohd Nordin (2008) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa ada pengaruh motivasi belajar pada pembelajaran matriks.

3.      Kerangka Berpikir

Motivasi belajar merupakan daya penggerak bagi siswa untuk belajar dan daya ini timbul melalui dua faktor, yaitu factor intrinsik dan ekstrinsik. Kedua factor ini saling mendukung satu dengan yang lainnya dalam mempengaruhi tercapainya tujuan belajar. Dengan adanya motivasi belajar yang baik diharapkan siswa dapat memiliki minat dan keinginan untuk selalu memperhaitkan penjelasan guru dari guru, mengikuti proses pembelajaran dengan baik dan mengerjakan soal-soal latihan yang diberikan oleh guru.

Dalam upaya peningkatan motivasi belajar siswa dibutuhkan suatu dialog yang mendalam antara guru dengan siswa. Suatu dialog yang baik dapat terjalin apabila ada sikap keterbukaan, saling toleransi, menghargai dan saling percaya. Pendekatan deep dialogue adalah pembelajaran dengan menggunakan penekanan pada proses dialog yang terjalin antara guru dengan siswa. Penelitian ini dilaksanakan untuk megetahui perubahan yang mungkin terjadi setelah diterapkannya pembelajaran dengan strategi deep dialogue.

4.      Hipotesis Tindakan

Berdasarkan tinjauan pustaka dan kerangka pemikiran tersebut di atas, maka dapat dirumuskan hipotesis tindakan sebagai berikut.

  1. Penggunaan strategi pembelajaran deep dialogue dapat meningkatkan motivasi belajar matematika pada Aritmatika Sosial.
  2. Penggunaan strategi pembelajaran deep dialogue dapat meningkatkan hasil belajar matematika pada Aritmatika Sosial.

C. METODE PENELITIAN

Metode penelitian adalah cara-cara atau langkah-langkah yang akan dilakukan dalam penelitian untuk mendapatkan kebenaran yang representatif dan mengarah pada tujuan harus memiliki prosedur secara tepat. Memilih prosedur penelitian yang tepat merupakan bagian yang ikut menentukan tingkat kebenaran hasil penelitian.

Uraian mengenai pertanggungjawaban metode-metode yang digunakan melibatkan pembahasan mengenai: jenis penelitian, tempat dan waktu penelitian, subyek penelitian, rancangan penelitian, metode pengumpulan data, instrumen penelitian, teknik analisis data, dan keabsahan data.

1.      Jenis dan Desain Penelitian

Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom Action Research (CAR) yang dilakukan secara kolaborasi antara kepala sekolah, guru matematika dan peneliti. Menurut Aqib (2009: 19) penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di kelas atau di sekolah tempat ia mengajar dengan penekanan pada penyempurnaan atau peningkatan proses dan praktik pembelajaran.

Penelitian tindakan ditandai dengan adanya perbaikan terus menerus sehingga tercapainya sasaran dari penelitian tersebut. Perbaikan tersebut dilakukan pada setiap siklus yang dirancang oleh peneliti. PTK bercirikan perbaikan terus menerus sehingga kepuasan peneliti menjadi tolak ukur berhasil tidak nya siklus-siklus tersebut.

2.      Setting Penelitian

  1. Tempat Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan di SMP Negeri 1 Cawas. Penelitian di tempat ini didasarkan atas pertimbangan bahwa sekolah tersebut  memiliki jumlah siswa yang representatif untuk diteliti. Selain itu lokasi mudah dijangkau peneliti sehingga lebih efisien dalam mendapatkan data. Sekolah ini termasuk sekolah favorit di lingkungan cawas, hal ini ditunjukkan dari kualitas yang cukup baik dan banyak siswa baru yang terus bertambah dari tahun ke tahun.

2.  Waktu Penelitian

Penelitian ini direncanakan akan dilaksanakan pada tahun ajaran 2011/2012. Adapun rincian waktu penelitian sebagai berikut.

1)      Tahap Perencanaan: minggu ke III bulan Agustus 2011 sampai minggu ke III bulan September 2011.

2)      Tahap Pelaksanaan: minggu ke IV bulan September 2011 sampai minggu ke IV bulan Oktober 2011.

3)      Tahap Analisis data: minggu ke I bulan November 2011 sampai minggu ke IV bulan November 2011.

4)      Tahap Pelaporan: minggu ke I bulan Desember 2011 sampai minggu ke IV bulan Desember 2011.

3.      Subyek Penelitian

Dalam penelitian ini guru kelas bertindak sebagai subyek yang memberi tindakan kelas. Siswa kelas VII F SMP Negeri 1 Cawas yang terdiri dari 40 siswa sebagai subyek yang menerima tindakan. Peneliti dibantu mitra guru matematika sebagai observer.

4. Perencanaan Tindakan
  1. Dialog Awal

Suatu pertemuan antara peneliti dan guru matematika bersama-sama melakukan pengenalan, penyatuan ide, dan berdiskusi membahas masalah dan cara-cara peningkatan motivasi dan hasil belajarsiswa yang terfokus pada interaksi siswa dan guru. Membuat kesepakatan untuk memecahkan masalah peningkatan motivasi dan hasil belajar melalui strategi deep dialogue.

  1. Perencanaan Tindakan Kelas

Hasil dari dialog awal yang telah diputuskan dan disepakati bersama diharapkan membawa kesadaran pentingnya peningkatan motivasi dan hasil belajar siswa di SMP N 1 Cawas, selanjutnya disusun langkah-langkah pesiapan tindakan yang terdiri.

1)      Memperbaiki kompetensi material guru dalam bidang matematika.

2)      Identifikasi masalah dan penyebabnya.

3)      Perencanaan solusi masalah.

  1. Pelaksanaan Tindakan

Tindakan dilaksanakan berdasarkan perencanaan, namun tindakan tidak mutlak dikendalikan oleh rencana. Rencana tindakan harus bersifat sementara, fleksibel dan siap diubah sesuai dengan keadaan yang ada sebagai upaya perbakan.

  1. Observasi dan Monitoring

Observasi dan monitoring dilakukan dengan mengamati atas hasil atau dampak dari tindakan yang dilaksanakan atau dikenakan terhadap siswa. Pada waktu observasi dilakukan, observer mengamati proses pembelajaran dan menyimpulkan  data mengenai segala sesuatu yang terjadi saat proses pembelajaran.

  1. Refleksi

Refleksi adalah mengingat dan merenungkan kembali suatu tindakan seperti yang telah dicatat oleh observer.

  1. Evaluasi

Evaluasi hasil penelitian dilakukan untuk mengkaji hasil perencanaan,observasi, dan refleksi penelitian pada setiap pelaksanaan penelitian.

  1. Penyimpulan

Penyimpulan merupakan pengambilan intisari dari sajian data yang telah terorganisir dalam bentuk pernyataan atau kalimat yang singkat, pada, dan bermana. Hasil dari penelitian tersebut berupa peningkatan motivasi dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika.

5.      Metode Pengumpulan Data

Penelitian tindakan kelas dilakukan bersifat deskriptif kualitatif. Sumber data primer adalah peneliti yang melakukan tindaka dan siswa yang menerima tindakan, sedangkan data sekunder berupa data dokumentasi. Pengambilan data dapat dilakukan dengan teknik observasi, tes, dan dokumentasi.

  1. Observasi

Dalam penelitian ini, observasi digunakan untuk mengetahui adanya perubahan tingkah laku tindakan belajar siswa yaitu peningkatan motivasi da hasil belajarmatematika melalui strategi pembelajaran deep dialogue. Peneliti melakukan observasi sesuai dengan pedoman observasi yang ditetapkan.

  1. Tes

Suharsini Arikunto (2002: 127) menyatakan “Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan inteligensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu dan kelompok”. Tes yang digunakan dalam penelitian untuk mengukur hasil belajar matematika siswa VII.

  1. Dokumentasi

Dokumentasi dalam penelitian ini adalah berupa RPP, buku-buku, buku presensi, dan lain-lain. Dokumentasi digunakan untuk memperoleh data sekolah, nama siswa, dan foto proses tindakan penelitian.

6.      Instrumen Penelitian

  1. Penyusunan Instrumen

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini antara lain lembar observasi, catatan lapangan, dokumentasi dan tes. Tes berupa tes obyektif dan tes essay.

2. Validitas Instrumen

Pengujian validitas instrumen menggunakan teknik triangulasi. Teknik triangulasi dalam pengujian instrumen dilakukan dengan tiga cara yaitu triangulasi sumber, triangulasi teknik, dan triangulasi waktu.

7.      Teknik Analisis Data

Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode alur. Dimana langkah-langkah yang harus dilalui dalam metode alur meliputi pengumpulan data, penyajian data, dan verifikasi data.

  1. Proses Analisis Data

Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber. Setelah dikaji kemudian membuat rangkuman untuk setiap pertemuan atau tindakan di kelas.

  1. Penyajian Data

Pada langkah penelitian ini, peneliti berusaha menyusun data yang relevan sehingga dapat menjadi informasi yang dapat disimpulkan dan memiliki makna tertentu. Dengan cara menampilkan data dan membuat hubungan antara variable, peneliti mengerti apa yang terjadi dan apa yang perlu ditindaklanjuti untuk mencapai tujuan penelitian.

  1. Verifikasi Data

Verifikasi data atau penarikan kesimplan dilakukan secara bertahap untuk memperoleh derajat kepercayaan tinggi. Dengan demikian analisis data dalam penelitia ini dilakukan sejak tindakan dilaksanakan. Verifikasi data dilakukan pada setiap tindakan yang pada akhirnya dipadkan menjadi kesimpulan.

8.      Keabsahan Data

Keabsahan data menurut Sukmadinata (2005: 104) dapat dilakukan melalui observasi secara terus menerus, triangulasi sumber, metode, dan peneliti lain, pengecekan anggota, diskusi teman sejawat, dan pengecekan referensi. Dalam penelitian ini, keabsahan data dilakkan dengan observasi secara terus menerus dan triangulasi data.

Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Dalam penelitian ini, keabsahan dilakukan dengan triangulasi sumber, yaitu membandingkan data hasil pengamatan tes dengan hasil observasi lain.

D.    DAFTAR PUSTAKA

Hamalik Oemar. 2008. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.

Kartika Sari,  Ida. 2011. Upaya Peningkatan Motivasi belajar Siswa pada Mata Pelajaran IPA Menggunakan Stategi Deep Dialogue Kelas IV SDN Kleco 2 Surakarta 2011. skripsi, Surakarta: UMS (Tidak Dipublikasikan)

Noor Kholid, Muhammad. 2009. Penerapan Metode Quantum Teaching Sebagai Upaya Peningkatan Motivasi dan Prestasi Belajar Matematika pada Bangun Datar Lingkaran Siswa Kelas VII di SMPN 3 Kartasura Tahun Ajar 2009/2010. Skripsi, Surakarta: UMS (Tidak Dipublikasikan)

Pratiwi Budiarti, Gadis. 2009. Peningkatan Motivasi Belajar Siswa dengan Pendekatan Problem Possing Berbasis Portofolio. Skripsi, Surakarta: UMS (Tidak Dipublikasikan)

Purwati. 2006. Peningkatan Motivasi Belajar Siswa dalam Pembelajaran Matematika Pokok Bahasan Pecahan melalui Pendekatan Humanistis. Skripsi, Surakarta: UMS (Tidak Dipublikasikan)

Slameto. 2003. Belajar dan Faktor – Faktor Yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.

Sudjana Nana. 2006. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sutama. 2011. Penelitian Tindakan Teori dan Praktek dalam PTK, PTS, dan PTBK. Semarang: Citra Mandiri Utama.

Uno B. Hamzah. 2006. Teori Motivasi & Pengukurannya: Analisis dalam Bidang Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Zakaria, Effandi and Norazah Mohd Nordin. 2008. The Effects of Mathematics Anxiety on Matriculation Students as Related to Motivation and Achievement. Eurasia Journal Mathematics, Science & Technology Education. Vol 4 No 1.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: