ochimath

Just another WordPress.com site

PERAN MANAJEMEN DALAM MENCIPTAKAN SEKOLAH BERMUTU

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Manajemen merupakan sebuah kegiatan yang sangat penting dalam sebuah organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Pengelolaan manajemen yang baik akan dapat mempermudah, memperlancar, dan mempercepat guna mancapai tujuan organisasi secara efektif dan efesien.  Maka dari itu, manajemen yang baik diperlukan dalam mengelola pendidikan agar dapat berhasil dengan baik.

Salah satu upaya meningkatkan mutu pendidikan ialah dengan menciptakan sekolah yang bermutu agar dapat mewujudkan lulusan sesuai harapan para lulusan, orang tua, pendidikan lanjut, pemerintah dan dunia usaha serta masyarakat secara luas.

Dalam pengelolaan sekolah yang efektif dan berorientasi pada mutu pendidikan memerlukan suatu komitmen yang penuh kesungguhan dalam peningkatan mutu, berjangka panjang (human investment) dan membutuhkan penggunaan peralatan dan teknik-teknik tertentu. Komitmen tersebut harus didukung oleh dedikasi yang tinggi terhadap mutu melalui penyempurnaan proses yang berkelanjutan oleh semua pihak yang terlibat yang dikenal dengan istilah MMT (Manajemen Mutu Terpadu).

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas dapat dirumuskan berbagai rumusan masalah antara lain :

  1. Apakah menejemen sekolah itu?
  2. Apakah ruang lingkup manajemen sekolah itu?
  3. Apakah sekolah bermutu itu?
  4. Bagaimana peran manajemen dalam menciptakan sekolah bermutu?

C. TujuanAdapun tujuan penulisan makalah ini yaitu:

  1. Pembaca dapat mengetahui dan memahami menejemen sekolah.
  2. Pembaca dapat mengetahui dan memahami ruang lingkup manajemen sekolah.
  3. Pembaca dapat mengetahui dan memahami tentang sekolah bermutu.
  4. Pembaca dapat mengetahui dan memahami peran manajemen dalam menciptakan sekolah bermutu.

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. A.       Pengertian Manajemen
    1. Manajemen adalah proses untuk mencapai tujuan – tujuan organisasi dengan melakukan kegiatan dari empat fungsi utama yaitu merencanakan (planning), mengorganisasi (organizing), memimpin (leading), dan mengendalikan (controlling). Dengan demikian, manajemen adalah sebuah kegiatan yang berkesinambungan”.
    2. Menurut Terry sebagaimana dikutip oleh Mulyono (2008 : 16) mengemukakan bahwa : “Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya – sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan”.
    3. Manajemen sekolah adalah pengorganisasian unsur – unsur Pendidikan disekolah untuk mencapai tujuan Pendidikan.
  1. B.       Ruang lingkup Manajemen Sekolah

Adapun ruang lingkup manajemen sekolah antara lain :

  1. Manajemen Kurikulum/pengajaran

Kurikulum di sekolah merupakan penentu utama kegiatan sekolah. Kurikulum yang dirumuskan harus sesuai dengan filsafat dan cita-cita bangsa, perkembangan siswa, tuntutan, dan kemajuan masyarakat. Arti kurikulum secara sempit adalah sejumlah mata pelajaran yang diberikan di sekolah. Secara luas, kurikulum berarti semua pengalaman belajar yang diberikan sekolah pada siswa selama mereka mengikuti pendidikan di sekolah (Sucipto & Raflis, 1994: 142). Manajemen kurikulum membicarakan pengorganisasian sumber-sumber yang ada di sekolah sehingga kegiatan manajemen kurikulum ini dapat dilakukan dengan epektif dan efisien. Dalam merumuskan tujuan pendidikan, setidaknya mempertimbangkan empat fungsi dasar dalam pendidikan, yaitu :

a)         Pengembangan individu yang meliputi aspek-aspek hidup pribadi, etis, estetis, emosional, fisis.

b)        Pengembangan cara berpikir dan teknik penyelidikan berkenaan dengan kecerdasan yang terlatih.

c)        Pemindahan warisan budaya, menyangkut nilai-nilai sivik dan moral bangsa.

d)       Pemenuhan kebutuhan sosial yang vital yang menyumbang pada kesejahteraan ekonomi, sosial, politik, dan lapangan kerja Rohiat (2009 : 22-23).

  1. Manajemen Peserta didik

Manajemen kesiswaan merupakan kegiatan yang bersangkutan dengan masalah kesiswaan di sekolah. Tujuan manajemen kesiswaan adalah menata proses kesiswaan mulai dari proses perekrutan, mengikuti pembelajaran sampai dengan lulus sesuai dengan tujuan institusional agar dapat berlangsung secara epektif dan efisien. Kegiatan manajemen kesiswaan meliputi: perencanaan penerimaan siswa baru, pembinaan siswa, dan kelulusan. Dalam penerimaan siswa baru, terdapat beberapa kegiatan yang dilakukan, seperti: penetapan daya tampung, penetapan persyaratan siswa yang akan diterima, dan pembentukan panitia dalam penerimaan siswa baru Rohiat (2009 : 25). Sedangkan pembinaan siswa merupakan pemberian pelayanan kepada siswa di sekolah baik pada jam sekolah atau di luar jam pelajaran sekolah. Pembinaan yang dilakukan kepada siswa adalah agar siswa menyadari posisi dirinya sebagai pelajar dan dapat menyadari tugasnya secara baik. Beberapa hal yang dilakukan dalam pembinaan siswa, diantaranya: memberikan orientasi pada siswa baru, mencatat kehadiran siswa, mencatat prestasi dan kegiatan siswa, membina disiplin siswa, dan membina siswa yang tamat belajar Rohiat (2009 : 26).

  1. Manajemen Ketenagaan/kepegawaian

Ketenagaan di sekolah yang menjadi tanggung jawab kepala sekolah menuntut kemampuan dalam manajemen personil yang memadai karena telah menjadi tuntutan bahwa kepala sekolah harus ikut memikul tanggung jawab untuk keberhasilan atau kegagalan anggota sekolah. Kesanggupan manajemen yang dituntut, meliputi: memperoleh dan memilih anggota yang cakap, membantu anggota menyesuaikan diri pada tugas-tugas barunya, menggunakan anggota dengan lebih epektif, dan menciptakan kesempatan untuk perkembangan anggotanya secara berkesinambungan Rohiat (2009 : 27).

  1. Manajemen keuangan

Manajemen keuangan meliputi kegiatan perencanaan, penggunaan, pencatatan data, pelaporan dan pertanggung jawaban penggunaan dana sesuai dengan yang direncanakan. Tujuan manajemen keuangan adalah untuk mewujudkan tertib administrasi keuangan sehingga penggunaan keuangan dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Kepala sekolah sebagai pimpinan sekolah dan menjabat sebagai otorisator berfungsi sebagai orang yang bisa memerintahkan pembayaran. Sedangkan bendaharawan sekolah bertugas sebagai ordonator yang bisa melakukan pengujian atas pembayaran Rohiat (2009 : 28).

  1. Manajemen Perlengkapan/sarana-prasarana

Manajemen sarana dan prasarana adalah kegiatan yang mengatur untuk mempersiapkan segala peralatan/material bagi terselenggaranya proses pendidikan di sekolah. Sarana dan prasarana pendidikan adalah semua benda yang bergerak dan tidak bergerak yang dibutuhkan untuk menunjang penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar secara langsung maupun tidak langsung. Manajemen sarana dan prasarana merupakan keseluruhan proses rencana pengadaan, pendayagunaan, dan pengawasan sarana dan prasarana yang digunakan agar tujuan pendidikan di sekolah dapat tercapai dengan epektif dan efisien. Kegiatan manajemen sarana dan prasarana itu dapat meliputi: perencanaan kebutuhan, pengadaan, penyimpanan, penginvestasian, pemeliharaan, dan penghapusan sarana dan prasarana pendidikan Rohiat (2009 : 26).

  1. Manajemen hubungan sekolah dan masyarakat

Sekolah dan masyarakat memiliki hubungan timbal balik untuk menjaga kelestarian dan kemajuan masyarakat itu sendiri. Pelaksanaan sekolah bertujuan untuk menjaga kelestarian nilai positif masyarakat, dengan harapan sekolah dapat mewariskan nilai positif masyarakat dengan baik dan benar. Sekolah juga berperan sebagai agen perubahan (agent of change), di mana sekolah dapat mengadakan perubahan nilai dan tradisi sesuai dengan kemajuan dan tuntutan masyarakat dalam kemajuan dan pembangunan Rohiat (2009 : 28).

  1. Manajemen layanan khusus

Manajemen layanan khusus dilakukan dengan tujuan mendukung keberhasilan proses belajar mengajar. Keberhasilan belajar tersebut di antaranya harus ditunjang dengan pusat sumber belajar, pusat kesehatan sekolah, bimbingan konseling, dan kantin sekolah. Manajemen layanan khusus merupakan usaha yang secara tidak langsung berhubungan dengan proses belajar mengajar di kelas, tetapi secara khusus diberikan atau ditangani oleh kepala sekolah kepada para siswa agar mereka lebih optimal dalam melaksanakan proses belajar mengajar Rohiat (2009 : 28).

  1. C.       Sekolah Bermutu
    1. Pengertian sekolah bermutu

Sekolah bermutu adalah sekolah yang mampu mewujudkan siswa-siswa yang bermutu, yang sesuai dengan tujuan pendidikan yaitu manusia yang cerdas, trampil, beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan memiliki kepribadian.

  1. Standar sekolah bermutu

Baker (2005) yang dikutip menurut Engkoswara (2010: 310) memaparkan standar sekolah yang bermutu, adalah sebagai berikut:

a)     Administrator dan jajarannya serta guru – guru adalah para profesional yang handal.

b)     Tersedia kurikulum yang luas bagi seluruh siswa.

c)     Memiliki filosofi yang selalu dikomunikasikan bahwa seluruh anak dapat belajar dengan harapan yang tinggi.

d)    Iklim yang baik untuk belajar, aman, bersih, mempedulikan dan terorganiusasi dengan baik.

e)      Suatu sistem penilaian berkelanjutan yang didukung supervisi.

f)       Keterlibatan masyarakat yang tinggi

g)      Membantu para guru mengembangkan strategi, teknik instruksional dan mendorong kerja sama kelompok

h)      Menyusun jadwal secara terprogram untuk memberikan pelatihan dalam jabatan dan seminar untuk seluruh staf.

i)        Pengorganisasian SDM untuk melayani seluruh siswa

j)        Komunikasi dengan orang tua dan menyediakan waktu cukup untuk dialog .

k)      Menetapkan dan mengartikulasikan tujuan secara jelas.

l)        Pelihara staf yang memiliki kesemimbangan ketrampilan dan kemampuan dan ketahui kekuatan dan kapabilitas khusus dari staff.

m)    Bekerja untuk memelihara moril tinggi yang berkontribusi terhadap stabilitas organisasi dan membatasi tingkat turn – over (Perputaran guru)

n)      Bekerja keras untuk memelihara ukuran kelas sesuai dengan mata pelajaran dan tingkatan kelas siswa sesuai dengan aturan yang ada.

  • o)      Kembangkan dengan staf dan orang tua kebijakan sekolah dalam disiplin, penilaian, kehadiran, pengujian, promosi dan ingatan.

p)      Kerja sama guru dan orang tua untuk menyediakan dukungan pelayanan dalam pemecahan permasalahan siswa.

q)      Memelihara hubungan baik dengan pemerintah daerah.

  1. Merujuk pada pemikiran Edward Sallis, Sudarwan Danim (2006) mengidentifikasi ciri-ciri sekolah bermutu, yaitu:

a) Sekolah berfokus pada pelanggan, baik pelanggan internal maupun eksternal.

b) Sekolah berfokus pada upaya untuk mencegah masalah yang muncul, dengan komitmen untuk bekerja secara benar dari awal.

c) Sekolah memiliki investasi pada sumber daya manusianya, sehingga terhindar dari berbagai “kerusakan psikologis” yang sangat sulit memperbaikinya.

d) Sekolah memiliki strategi untuk mencapai kualitas, baik di tingkat pimpinan, tenaga akademik, maupun tenaga administratif.

e) Sekolah mengelola atau memperlakukan keluhan sebagai umpan batik untuk mencapai kualitas dan memposisikan kesalahan sebagai instrumen untuk berbuat benar pada masa berikutnya

f)   Sekolah memiliki kebijakan dalam perencanaan untuk mencapai kualitas, baik untuk jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang.

g) Sekolah mengupayakan proses perbaikan dengan melibatkan semua orang sesuai dengan tugas pokok, fungsi dan tanggung jawabnya.

h) Sekolah mendorong orang dipandang memiliki kreativitas, mampu menciptakan kualitas dan merangsang yang lainnya agar dapat bekerja secara berkualitas.

i)   Sekolah memperjelas peran dan tanggung jawab setiap orang, termasuk kejelasan arah kerja secara vertikal dan horizontal.

j)   Sekolah memiliki strategi dan kriteria evaluasi yang jelas.

k) Sekolah memandang atau menempatkan kualitas yang telah dicapai sebagai jalan untuk memperbaiki kualitas layanan lebih lanjut.

l)   Sekolah memandang kualitas sebagai bagian integral dari budaya kerja.

m) Sekolah menempatkan peningkatan kualitas secara terus menerus sebagai suatu keharusan

4. Sekolah yang bermutu pada umumnya memiliki sejumlah karakteristik “proses” sebagai berikut:

a) Proses belajar mengajar yang efektivitasnya tinggi Sekolah yang menerapkan peningkatan mutu, memiliki efektivitas proses belajar mengajar yang tinggi. Hal ini ditunjukkan pada pemberdayaan peserta didik. Dimana proses belajar mengajar tidak sekedar memorisasi dan recall, bukan sekedar penekanan pada penguasaan pengetahuan tentang apa yang diajarkan, akan tetapi lebih menekankan pada internalisasi tentang apa yang diajarkan sehingga tertanam dan berfungsi sebagai muatan nurani dan dihayati serta dipraktekkan dalam kehidupan sehari- hari oleh peserta didik.

b) Kepemimpinan sekolah yang kuat. Pada sekolah yang menerapkan peningkatan mutu, kepala sekolah memiliki peran yang kuat dalam mengkoordinasikan, menggerakkan dan menyerasikan semua sumber daya pendidikan yang tersedia. Kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu factor yang dapat mendorong sekolah untuk dapat mewujudkan visi, misi, tujuan, dan sasaran sekolahnya melalui program-program yang dilaksanakan secara terencana dan bertahap. Oleh karena itu, kepala sekolah dituntut memiliki kemampuan manajemen dan kepemimpinan yang tangguh agar mampu mengambil keputusan dan inisiatif/prakarsa untuk meningkatkan mutu sekolah.

c)   Lingkungan sekolah yang aman dan tertib Sekolah memiliki lingkungan (iklim) belajar yang aman, tertib, dan nyaman sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan nyaman. Karena itu, sekolah yang efektif selalu menciptakan iklim sekolah yang aman, nyaman, tertib melalui pengupayaan faktor-faktor yang dapat menumbuhkan iklim tersebut.

d)  Pengelolaan tenaga kependidikan yang efektif. Pengelolaan tenaga kependidikan mulai dari analisis kebutuhan, perencanaan, pengembangan, evaluasi kinerja, hubungan kerja, hingga sampai pada imbal jasa, merupakan pekerjaan penting bagi seorang
kepala sekolah. Terlebih pada pengembangan tenaga kependidikan, ini harus dilakukan secara terus-menerus mengingat kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi yang sedemikian pesat. Jadi, tenaga kependidikan yang diperlukan untuk menyukseskan peningkatan mutu
sekolah adalah tenaga kependidikan yang mempunyai komitmen yang
tinggi, selalu mampu dan sanggup menjalankan tugasnya dengan baik.

e)   Sekolah memiliki budaya mutu. Budaya mutu memiliki elemen-elemen sebagai berikut:

1) Informasi kualitas harus digunakan untuk perbaikan, bukan untuk
mengadili/mengontrol orang.

2)  Kewenangan harus sebatas tanggung jawab

3)  Hasil harus diikuti penghargaan atau sanksi

4) Kolaborasi dan sinergi, bukan kompetisi, harus merupakan basis
untuk kerjasama

5)  Warga sekolah merasa aman terhadap pekerjaannya

6) Atmosfer keadilan harus ditanamkan

7) Imbal jasa harus sepadan dengan nilai pekerjaannya

8)  Warga sekolah merasa memiliki sekolah

f) Sekolah memiliki “teamwork” yang kompak, cerdas dan dinamis
Kebersamaan (teamwork) merupakan karakteristik yang dituntut
oleh sekolah yang menerapkan peningkatan mutu, karena output
pendidikan merupakan hasil kolektif warga sekolah, bukan hasil
individual. Karena itu, budaya kerjasama antar fungsi dalam sekolah,
antar individu dalam sekolah, harus merupakan kebiasaan hidup
sehari- hari warga sekolah.

g)  Sekolah memiliki kewenangan (kemandirian) Sekolah memiliki kewenangan untuk melakukan yang terbaik bagi sekolahnya, sehingga dituntut untuk memiliki kemampuan dan kesanggupan kerja yang tidak selalu menggantungkan pada atasan. Untuk menjadi mandiri, sekolah harus memiliki sumber daya yang cukup untuk menjalankan tugasnya.

h)  Partisipasi yang tinggi dari warga sekolah dan masyarakat Sekolah yang menerapkan peningkatan mutu, memiliki karakteristik bahwa partisipasi masyarakat merupakan bagian kehidupannya. Hal ini dilandasi oleh keyakinan bahwa makin tinggi tingkat partisipasi, makin besar rasa memiliki; makin besar rasa memiliki, makin besar pula rasa tanggung jawab; dan makin besar rasa tanggung jawab, makin besar pula dedikasinya.

i)   Sekolah memiliki keterbukaan (transparansi) manajemen
Keterbukaan/transparansi dalam pengelolaan sekolah merupakan
karakteristik sekolah yang menerapkan peningkatan mutu.
Keterbukaan/transparansi ini ditunjukkan dalam pengambilan
keputusan, perencanaan dan pelaksanaan kegiatan, penggunaan uang,
dan sebagainya, yang selalu melibatkan pihak-pihak terkait sebagai
alat kontrol.

j) Sekolah memiliki kemauan untuk berubah (psikologis dan fisik)
Perubahan sekolah merupakan sesuatu yang menyenangkan bagi
semua warga sekolah. Yang dimaksud perubahan adalah peningkatan,
baik bersifat fisik maupun psikologis. Artinya, setiap dilakukan
perubahan, hasilnya diharapkan lebih baik dari sebelumnya (ada
peningkatan) terutama mutu peserta didik.

k)  Sekolah melakukan evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan
Fungsi evaluasi menjadi sangat penting dalam rangka
meningkatkan mutu peserta didik dan mutu sekolah secara
keseluruhan dan secara terus menerus. Perbaikan secara terus menerus
harus merupakan kebiasaan warga sekolah. Tiada hari tanpa
perbaikan. Karena itu, system mutu yang baku sebagai acuan bagi
perbaikan harus ada. System mutu yang dimaksud harus mencakup
organisasi, tanggung jawab, prosedur, proses dan sumber daya untuk
menerapkan manajemen mutu.

D. Peran Manajemen dalam Menciptakan Sekolah Bermutu

Manajemen Mutu Terpadu merupakan metodologi yang jika diterapkan secara tepat dapat membantu para pengelola atau penyelenggara pendidikan di lembaga pendidikan termasuk sekolah dalam mewujudkan penyelenggaraan pendidikan dan lulusan yang dapat memenuhi atau melebihi keinginan atau harapan para stakeholder-nya.

Manajemen Mutu Terpadu yang sering disebut dengan  TQM (Total Quality Management) oleh Fandy diartikan suatu pendekatan dalam menjalankan usaha yang berusaha memaksimalkan daya saing organisasi melalui perbaikan terus menerus atas produk, jasa, tenaga kerja, proses dan lingkungannya. Berdasarkan pengertian tersebut, maka penyelenggaraan pendidikan dengan manajemen mutu terpadu adalah menyelenggarakan pendidikan dengan mengadakan perbaikan berkelanjutan, baik produk lulusannya, penyelenggaraan atau layanannya, sumber daya manusia (SDM) yang memberikan layanan, yaitu kepala sekolah, para guru dan staf, proses layanan pembelajarannya dan lingkungannya.

Proses menuju sekolah bermutu terpadu, maka kepala sekolah, komite sekolah, para guru, staf, siswa dan komunitas sekolah harus memiliki obsesi dan komitmen terhadap mutu, yaitu pendidikan yang bermutu. Memiliki visi dan misi mutu yang difokuskan pada pemenuhan kebutuhan dan harapan para pelanggannya, baik pelanggan internal, seperti guru dan staf, maupun pelanggan eksternal seperti siswa, orang tua siswa, masyarakat, pemerintah, pendidikan lanjut dan dunia usaha.

Oleh karena itu, upaya mewujudkan sekolah yang bermutu terpadu dituntut untuk berfokus kepada pelanggannya, adanya keterlibatan total semua warga sekolah, adanya ukuran baku mutu pendidikan, memandang pendidikan sebagai sistem dan mengadakan perbaikan mutu pendidikan berkesinambungan.

BAB III

PENUTUP

 

  1. Kesimpulan
  2. Manajemen sekolah adalah pengorganisasian unsur – unsur Pendidikan disekolah untuk mencapai tujuan Pendidikan.
  3. Adapun ruang lingkup manajemen sekolah antara lain : Manajemen Kurikulum/pengajaran, manajemen Peserta didik, manajemen ketenagaan/kepegawaian, manajemen keuangan, manajemen perlengkapan/sarana-prasarana, manajemen hubungan sekolah dan masyarakat, manajemen layanan khusus.
  4. Sekolah bermutu adalah sekolah yang mampu mewujudkan siswa-siswa yang bermutu, yang sesuai dengan tujuan pendidikan yaitu manusia yang cerdas, trampil, beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan memiliki kepribadian.
  5. Penyelenggaraan pendidikan dengan manajemen mutu terpadu adalah menyelenggarakan pendidikan dengan mengadakan perbaikan berkelanjutan, baik produk lulusannya, penyelenggaraan atau layanannya, sumber daya manusia (SDM) yang memberikan layanan, yaitu kepala sekolah, para guru dan staf, proses layanan pembelajarannya dan lingkungannya. Oleh karena itu, upaya mewujudkan sekolah yang bermutu terpadu dituntut untuk berfokus kepada pelanggannya, adanya keterlibatan total semua warga sekolah, adanya ukuran baku mutu pendidikan, memandang pendidikan sebagai sistem dan mengadakan perbaikan mutu pendidikan berkesinambungan.
    1. Saran

Sebagai calon guru diharapkan kita lebih mengetahui dan memahami tentang manajemen mutu terpadu, agar kelak kita  dapat membantu terselenggaranya sekolah yang bermutu guna memenuhi tuntutan zaman yang semakin maju.

     


DAFTAR PUSTAKA

Muhammad Zainal Abidin. 2011. “Profesionalisme Guru” (online), (http://www.masbied.com/2011/04/01/makalah-tentang-profesionalisme-guru/, diakses tanggal 29 Oktober 2011).

Samino. 2011. Manajemen Pendidikan. Kartasura: Fairus Media.

Subagio. 2011. “Ciri-ciri Sekolah Bermutu” (online), (http://subagio-subagio.blogspot.com/2011/02/ciri-ciri-sekolah-bermutu.html, diakses tanggal 29 Oktober 2011)

MANUSIA, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Sebagaimana kita maklumi, manusia adalah salah satu makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna keadaannya. Selain diberi bentuk atau rupa yang paling baik dan sempurna, ia masih juga dibekali dengan kemampuan akalnya. Dengan dibekali kemampuan akal inilah manusia mampu menciptakan berbagai macam peralatan hidup, menciptakan berbagai pengetahuan, membentuk masyarakat, menyelenggarakan pemerintahan, melakukan praktik jual beli atau perdagangan, melaksanakan peribadatan, menciptakan kesenian atau hiburan, dan lain-lain. Singkat kata, manusia dengan bekal kemampuan akal atau budinya itu, mereka mampu menciptakan berbagai macam kebudayaan atau peradaban.

Ilmu Pengetahuan, teknologi dan seni atau biasa disingkat Ipteks adalah salah satu contoh dari hasil olah pikiran atau akal atau budi manusia yang kemudian disebut dengan nama kebudayaan. Selanjutnya, sejalan dengan perkembangan umat manusia itu sendiri berbagai macam hasil-hasil kebudayaan manusia ini terus berkembang hingga kini. Ipteks sebagai salah satu hasil dari kebudayaan manusia itu juga terus berkembang, terlebih lagi pada era sekarang ini, di mana Ipteks telah mencapai tahapan perkembangan yang sangat spektakuler. Pencapaian Ipteks yang sangat pesat tersebut, misalnya saja yang terjadi di bidang teknologi informasi dan komunikasi, mengakibatkan seakan-akan dunia ini tanpa mengenal batas, yakni baik dalam pengertian teritorial, ekonomi, politik, sosial-budaya, agama, pendidikan, dan lain-lain.

Dengan tanpa batasnya dunia serta diperpendeknya jarak akibat kemajuan di bidang teknologi informasi dan komunikasi itu pula, seakan-akan dunia yang kita pijak ini semakin kecil, pendek, dan sempit saja. Oleh karena dengan mengakses informasi dan komunikasi, kita dengan mudahnya dapat mengubah jarak yang tadinya jauh menjadi semakin dekat, wilayah yang tadinya terasa luas menjadi semakin sempit, persoalan yang tadinya sulit menjadi semakin mudah, serta masalah yang tadinya erat menjadi semakin ringan. Dari uraian di atas, penulis merasa perlu mengetahui lebih dalam tentang manusia, teknologi, dan pendidikan itu sendiri. Maka makalah ini penulis beri judul “Manusia, Teknologi, dan Pendidikan”.

B.     Perumusan Masalah

    1. Apa yang dimaksud dengan manusia?
    2. Apa yang dimaksud dengan teknologi?
    3. Apa yang dimaksud dengan pendidikan?
    4. Bagaimana hubungan manusia dengan teknologi?
    5. Bagaimana hubungan manusia dengan pendidikan?
    6. Bagaimana karakteristik manusia, teknologi dan pendidikan masa depan?
    7. Bagaimana upaya mengantisipasi masyarakat masa depan dalam upaya pendidikan?
  1. C.    Tujuan Penulisan
    1. Mengetahui pengertian manusia, teknologi, dan pendidikan
    2. Mengetahui hubungan manusia dengan teknologi
    3. Mengetahui hubungan manusia dengan pendidikan
    4. Mengetahui upaya pendidikan dalam mengantisipasi masa depan
  1. D.    Manfaat Penulisan
    1. Mahasiswa dapat memahami tentang ilmu dan teknologi, serta kegunaannya dalam kehidupan manusia
    2. Mahasiswa dapat memahami kedudukan manusia dalam teknologi dan pendidikan
    3. Mahasiswa dapat memahami ciri-ciri manusia, teknologi dan pendidikan masa depan
    4. Mahasiswa dapat mengantisipasi masyarakat masa depan dalam upaya pendidikan

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A.    Pengertian Manusia

Pada hakikatnya manusia merupakan makhluk yang berfikir, merasa, bersikap dan bertindak.

Manusia atau orang dapat diartikan berbeda-beda menurut biologis, rohani, dan istilah kebudayaan, atau secara campuran. Secara biologis, manusia diklasifikasikan sebagai Homo sapiens (Bahasa Latin untuk manusia), sebuah spesies primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi. Dalam hal kerohanian, mereka dijelaskan menggunakan konsep jiwa yang bervariasi di mana, dalam agama, dimengerti dalam hubungannya dengan kekuatan ketuhanan atau makhluk hidup; dalam mitos, mereka juga seringkali dibandingkan dengan ras lain. Dalam antropologi kebudayaan, mereka dijelaskan berdasarkan penggunaan bahasanya, organisasi mereka dalam masyarakat majemuk serta perkembangan teknologinya, dan terutama berdasarkan kemampuannya untuk membentuk kelompok dan lembaga untuk dukungan satu sama lain serta pertolongan.

Penggolongan manusia yang paling utama adalah berdasarkan jenis kelaminnya. Secara alamiah, jenis kelamin seorang anak yang baru lahir entah laki-laki atau perempuan. Anak muda laki-laki dikenal sebagai putra dan laki-laki dewasa sebagai pria. Anak muda perempuan dikenal sebagai putri dan perempuan dewasa sebagai wanita.

 

  1. B.     Pengertian Teknologi

Teknologi berasal dari istilah teckne yang berarti seni (art) atau keterampilan. Menurut Dictionary of Science, teknologi adalah penerapan pengetahuan teoritis pada masalah-masalah praktis.

Untuk membatasi pengertian teknologi yang luas, maka pengertian teknologi dapat dikelompokan sebagai berikut:

  • Teknologi sebagai barang buatan. Tidak ada manusia yang sempurna, semua pasti memiliki kelemahan. Kelemahan yang ada pada diri manusia itu kemudian diminimalisir dengan adanya teknologi agar kelemahan yang dimiliki manusiapun menjadi sedikit berkurang. Tetapi barang-barang buatan tidak hanya terbatas pada kelemahan manusia saja tetapi sesuatu yang tadinya belum terpikirkan.
  • Teknologi sebagai kegiatan manusia. Kegiatan manusia tidak lepas dari kegiatan membuat dan menggunakan. Kegiatan manusia itu merupakan bentuk dari teknologi itu sendiri.
  • Teknologi sebagai kumpulan pengetahuan. Kegiatan membuat dan menggunakan pasti tidak akan lepas dari ilmu membuat (produk) dan ilmu menggunakan (komsumsi). Ilmu tersebut merupakan kumpulan dari pengetahuan yang didapat manusia dari berbagai sumber.
  • Teknologi sebagai kebulatan sistem. Pembahasan yang bulat dan menyeluruh akan tercapai kalau teknologi ditinjau sebagai suatu sistem. Ini berarti teknologi dibahas sebagai suatu kebulatan unsure-unsur yang saling berkaitan dan saling mempengaruhi dalam lingkungan sistem itu sendiri.
  1. C.    Pengertian Pendidikan

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1991:232), pendidikan berasal dari kata “didik”, lalu diberikan awalan kata “me” sehingga  menjadi “mendidik” yang artinya memelihara dan memberi latihan. Dalam memelihara dan memberi latihan diperlukan adanya ajaran, tuntutan dan pimpinan mengenai akhlak dan kecerdasan pemikiran.

Menurut Ki Hajar Dewantara, Pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran, serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya.

Sedangkan menurut UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, bahwa pendidikan adalah usaha sadar terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan darinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

  1. D.    Hubungan Manusia dengan Teknologi

Teknologi adalah karya yang dilahirkan manusia. Maka tanpa adanya manusia teknologi tidak akan ada.  Teknologi diciptakan manusia sebagai instrumen dalam usaha memenuhi kebutuhannya. Teknologi merupakan suatu fenomena sosial. Oleh karena itu tanpa manusia, tanpa masyarakat, teknologipun tiada.

Teknologi diciptakan manusia melalui penerapan (exercise) budidaya akalnya. Manusia harus mendayakan akal pikirannya dalam me-reka teknologi berdasarkan rasio (nalar) dan kemudian membuatnya, merekayasanya, menjadi suatu produk yang kongkrit. Jadi perlu penerapan rekayasa dalam menciptakan teknologi, dan sebaliknya teknologi kemudian akan membantu manusia dalam merekayasa. Inter-relasi dan interaksi antara rekayasa dan teknologi sering sulit dipahami karena seakan terjadi secara obvious atau terjadi sepenuhnya dilatar belakang sehingga luput dari pengamatan. Maka untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas dari peran rekayasa dalam penciptaan teknologi dan sebaliknya, perlu digresi sebentar sampai pada saat asal mula terbentuknya masyarakat manusia.

  1. E.     Hubungan Manusia dengan Pendidikan

Pendidikan adalah proses penyesuian diri secara timbal balik antara manusia dengan alam, dengan sesama manusia atau juga pengembangan dan penyempurnaan secara teratur dari semua potensi moral, intelektual, dan jasmaniah manusia oleh dan untuk kepentingan pribadi dirinya dan masyarakat yang ditujukan untuk kepentingan tersebut dalam hubungannya dengan Sang Maha Pencipta sebagai tujuan akhir.

Pendidikan mutlak harus ada pada manusia, karena pendidikan merupakan hakikat hidup dan kehidupan. Pendidikan berguna untuk membina kepribadian manusia. Dengan pendidikan maka terbentuklah pribadi yang baik sehingga di dalam pergaulan dengan manusia lain, individu dapat hidup dengan tenang. Pendidikan membantu agar tiap individu mampu menjadi anggota kesatuan sosial manusia tanpa kehilangan pribadinya masing-masing.

Pada hakikatnya pendidikan menjadi tanggung jawab bersama, yakni keluarga, masyarakat, dan sekolah/ lembaga pendidikan. Keluarga sebagai lembaga pertama dan utama pendidikan, masyarakat sebagai tempat berkembangnya pendidikan, dan sekolah sebagai lembaga formal dalam pendidikan. Pendidikan keluarga sebagai peletak dasar pembentukan kepribadin anak.

  1. F.     Perkiraan Masyarakat Masa Depan
    1. Perkembangan Ipteks makin cepat
    2. Perkembangan arus informasi makin padat dan cepat
    3. Kecenderungan globalisasi makin kuat
    4. Tuntutan layanan profesional

Era pasar bebas sangat mungkin dapat menjadi lahan empuk bagi masyarakat/ bangsa yang siap bermitra dan berkompetisi pada aneka penalaran kehidupan dan penghidupan. Ketika bangsa Indonesia dilanda krisis ekonomi sejak pertengahan tahun 1997 dan diikuti oleh multi krisis lain, termasuk krisis kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dan dunia usaha, tidak relevan lagi untuk secara konotatif mempersepsi kemiskinan sebatas dari perspektif ekonomi saja. Pada multi tataran perilaku sosial dan kemanusiaan sebagian dari bangsa kita benar-benar miskin, ditandai dengan perilaku mengabnormalkan normalitas atau sebaliknya menormalkan abnormalitas.

Permasalahan multidimensi :

  1. Muncul standar di segala bidang, misalnya :
  2. ajakan untuk pemberantasan korupsi, korupsi malah merajalela
  3. ajakan disiplin kerja, disiplin kerja malah melorot
  4. ajakan berperilaku secara moral, malah terjadi pelanggaran moral
  5. ajakan pembaruan, malah mempertahankan statusquo
  6. kampanye persamaan jender, malah terjadi perkosaan, kekerasan, pelecehan seksual dan sebagainya
    1. Di dunia pendidikan terjadi penjungkir-balikan norma edukasi, dan akademik, misalnya : pemalsuan nilai, budaya nyontek, sekedar mencari ijazah dan bukan mencari ilmu, tak mau dikritik, dan sebagainya
    2. Penjungkir-balikan nilai HAM, misalnya : halal/ haram ukurannya dapat atau tidaknya memiliki
    3. Ketertiban umum makin tak terbentuk, baik di pasar, jalan raya, tempat-tempat rekreasi, dan lain-lain
    4. Ketidak pedulian elit penguasa dan elit politik atas kepentingan rakyat, misalnya : mereka malah minta dilayani, bukannya melayani
    5. Pencurian, perampokan, pemerkosaan, pembunuhan, dan lain-lain semakin meraja lela sehingga masyarakat menjadi resah dan tak nyaman
    6. Mass media dalam mengemas berita dan pesan-pesan sesuka hati, bahkan menelanjangi pribadi seseorang, sehingga terkesan terlalu bebas.
    7. G.    Upaya Pendidikan dalam Mengantisipasi Masa Depan
      1. Tuntutan bagi manusia masa depan :
        1. Pengembangan kehidupan secara pribadi antara lain : Memperkuat dasar keimanan dan ketaqwaan, membiasakan untuk berperilaku yang baik, memberikan pengetahuan dan ketrampilan dasar, memelihara kesehatan jasmani dan rohani, dan memberikan kesempatan dan kemampuan untuk belajar
        2. Pengembangan kehidupan sebagai anggota masyarakat, antara lain: memperkuat kesadaran hidup beragama dalam masyarakat, menumbuhkan rasa tanggung jawab dalam masyarakat, dan memberikan pengetahuan dan ketrampilan yang diperlukan dalam masyarakat
        3. Pengembangan kehidupan sebagai warganegara, antara lain: mengembangkan perhatian pengetahuan tentang hak dan kewajiban sebagai warganegara yang baik, menanamkan rasa ikut bertanggung jawab terhadap kemajuan bangsa dan negara, dan memberikan pengetahuan dan ketrampilan dasar yang diperlukan untuk berperan serta dalam kehidupan berbangsa dan bernegara
        4. Pengembangan kehidupan sebagai umat manusia, antara lain: meningkatkan harga diri sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat, meningkatkan kesadaran tentang HAM, memberikan pengertian tentang ketertiban dunia, dan  meningkatkan kesadaran pentingnya persahabatan antar bangsa.
  7. Upaya mengantisipasi masa depan
    1. Perubahan nilai dan sikap
    2. Pengembangan kebudayaan
    3. Pengembangan sarana pendidikan

BAB III
PENUTUP

 

  1. A.    Kesimpulan

Manusia adalah makhluk yang berfikir, merasa, bersikap dan bertindak. Teknologi adalah penerapan pengetahuan teoritis pada masalah-masalah praktis. Pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran, serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya.

Teknologi adalah karya yang dilahirkan manusia. Maka tanpa adanya manusia teknologi tidak akan ada.  Teknologi diciptakan manusia sebagai instrumen dalam usaha memenuhi kebutuhannya.

Pendidikan mutlak harus ada pada manusia, karena pendidikan merupakan hakikat hidup dankehidupan. Pendidikan berguna untuk membina kepribadian manusia. Dengan pendidikan maka terbentuklahpribadi yang baik sehingga di dalam pergaulan dengan manusia lain, individu dapat hidup dengan tenang.

Perkiraan masyarakat masa depan:

  1. Perkembangan Ipteks makin cepat
  2. Perkembangan arus informasi makin padat dan cepat
  3. Kecenderungan globalisasi makin kuat
  4. Tuntutan layanan profesional

Upaya mengantisipasi masa depan:

  1. Perubahan nilai dan sikap
    1. Pengembangan kebudayaan
    2. Pengembangan sarana pendidikan
    3. B.     Saran

Sebagai manusia masa depan kita sebagai mahasiswa harus paham apa itu teknologi dan pendidikan. Kita harus menguasai kedua hal tersebut. Harus paham dan tanggap terhadap perubahan jaman dan tantangan masa depan. Serta harus siap dengan segala upaya-upaya untuk menghadapi permasalahan tentang teknologi dengan pendidikan yang kita miliki.

DAFTAR PUSTAKA

Herimanto & Winarno. 2008. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Jakarta : Bumi Aksara

Suwarno. 2011. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar (ISBD). Surakarta : Qinant

 

PENINGKATAN KEAKTIFAN BELAJAR MATEMATIKA MELALUI METODE PEMBELAJARAN BERBASIS JOYFUL LEARNING

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara  (Jumali, 2008: 91).

Tujuan pendidikan itu sendiri adalah untuk membentuk sumber daya manusia yang berkualitas tinggi, yaitu manusia yang mampu menghadapi perkembangan zaman. Oleh karena itu, bidang pendidikan perlu mendapatkan perhatian, penanganan, dan prioritas secara intensif baik dari pemerintah, masyarakat maupun pihak- pihak pengelola pendidikan.

Peningkatan mutu pendidikan perlu ditunjang dengan adanya perkembangan dan perubahan di bidang pendidikan. Salah satu upaya peningkatan mutu pendidikan secara keseluruhan adalah melalui peningkatan kualitas pembelajaran yang salah satunya adalah pembaharuan pendekatan atau peningkatan relevansi metode mengajar. Metode mengajar dikatakan relevan jika dalam prosesnya mampu mengantarkan siswa mencapai tujuan pendidikan melalui pembelajaran.

1Menurut Paling dalam Mulyono Abdurrahman (2003: 252) ide manusia tentang matematika berbeda-beda, tergantung pada pengalaman dan pengetahuan masing-masing. Ia mengemukakan bahwa matematika adalah suatu cara untuk menemukan jawaban terhadap masalah yang dihadapi manusia, suatu cara menggunakan infrasi, menggunakan pengetahuan tentang bentuk dan ukuran, menggunakan pengetahuan mengitung dan  yang paling penting adalah memikirkan dalam diri manusia sendiri dalam melihat dan menggunakan hubungan-hubungan. Dengan demikian matematika merupakan pelajaran yang sangat penting karena mendasari pelajaran-pelajaran yang lainnya.

Keberhasilan pembelajaran matematika dapat diukur dari keberhasilan siswa yang mengikuti kegiatan pembelajaan tersebut. Keberhasilan itu dapat dilihat dari tingkat pemahaman, penguasaan materi, serta prestasi belajar siswa. Semakin tinggi pemahaman dan penguasaan materi serta prestasi belajar maka semakin tinggi pula tingkat keberhasilan pembelajaran.

Berdasarkan pengamatan pada pembelajaran matematika di SMP Negeri 2 Weru, banyak ditemukan berbagai masalah mengenai keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran di kelas diantaranya: (1) 11,11% siswa yang mengajukan pertanyaan meskipun guru sering memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya tentang hal-hal yang belum dimengerti, (2) 36,11% keaktifan dalam mengerjakan soal-soal latihan pada proses pembelajaran masih kurang, (3) 16,67% keberanian siswa untuk mengerjakan soal di depan kelas.

Permasalahan tersebut muncul karena kurangnya keaktifan dari diri siswa sendiri sehingga membuat kondisi kelas menjadi pasif. Mengingat pentingnya belajar matematika, maka seorang guru matematika dituntut untuk memahami dan mengembangkan metode pembelajaran yang tepat untuk mengatasi masalah tersebut di atas sehingga tujuan pembelajaan dapat tercapai.

Untuk mengatasi masalah yang telah dikemukakan di atas salah satunya adalah dengan menerapkan metode pembelajaran yang dapat meningkatkan keaktifan belajar peserta didik adalah dengan menggunakan metode pembelajaran berbasis Joyful Learning. Selain itu, metode Joyful Learning dapat menjadi alternatif dalam menciptakan pembelajaran yang menyenangkan sehingga kegiatan pembelajaran matematika yang umumnya monoton dan menjenuhkan tidak lagi monoton dan bahkan pembelajaran matematika akan lebih menyenangkan.

Metode pembelajaran berbasis Joyful Learning merupakan metode yang sangat baik digunakan untuk melibatkan peserta didik dalam mempelajari materi yang telah disampaikan. Dengan metode ini siswa dapat meningkatkan keaktifannya dalam belajar matematika karena siswa terlibat secara langsung dalam proses pembelajaran.

Berdasarkan latar belakang di atas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tindakan kelas dengan judul Peningkatan Keaktifan Belajar Matematika Melalui Metode Pembelajaran Berbasis Joyful Learning.

B.     Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut:

  1. Adakah peningkatan keaktifan belajar siswa dalam pembelajaran matematika melalui metode pembelajaran berbasis Joyful Learning?
  2. Bagaimana proses pembelajaran matematika melalui metode pembelajaran berbasis Joyful Learning?

C.    Tujuan Penelitian

Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mendiskripsikan proses pembelajaran melalui metode pembelajaran berbasis Joyful Learning yang dilakukan oleh guru kelas.

Secara khusus tujuan penelitian ini untuk mendiskripsikan peningkatan keaktifan belajar siswa dalam pembelajaran matematika melalui metode pembelajaran berbasis Joyful Learning.

D.    Manfaat Penelitian
Manfaat Teoritis

Secara teoritis penelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbangan terhadap pembelajaran matematika untuk dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa.

Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan solusi nyata berupa langkah-langkah untuk meningkatkan keaktifan belajar siswa pada pokok bahasan Lingkaran dalam pembelajaran matematika melalui metode pembelajaran berbasis Joyful Learning. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan manfaat bagi siswa, guru, dan sekolah.

Bagi Siswa

Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa dalam pembelajaran matematika.

Bagi Guru

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai masukan dan dasar pemikiran guru dan calon guru untuk dapat memilih metode pengajaran yang tepat.

Bagi sekolah

Hasil penelitian ini memberikan sumbangan yang baik dalam rangka perbaikan pembelajaran matematika, peningkatan mutu sekolah, dan meningkatkan profesionalisme guru.

E.     Definisi Operasional Istilah

Keaktifan Belajar Siswa

Keaktifan belajar siswa adalah aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar yang melibatkan fisik, intelektual, dan emosional.

Pendekatan Pembelajaran Berbasis Joyful Learning

Metode pembelajaran berbasis joyful learning adalah metode alternatif dalam menciptakan pembelajaran yang menyenangkan sehingga kegiatan pembelajaran matematika yang umumnya monoton dan menjenuhkan tidak lagi monoton dan bahkan pembelajaran matematika akan lebih menyenangkan.

 

BAB II

LANDASAN TEORI

A.    Kajian Teori

  1. 1.      Keaktifan Belajar Matematika
    1. Hakikat Matematika

Johnson dan Myklebust dalam Abdurrahman (2003: 252) menyatakan bahwa matematika adalah bahasa simbolis yang fungsi praktiknya untuk mengekspreksikan hubungan-hubungan kuantitatif dan keruangan sedangkan fungsi teoritisnya adalah un tuk memudahkan berpikir.

Menurut Uno B. Hamzah (2007: 129) matematika adalah sebagai suatu bidang ilmu yang merupakan alat pikir, berkomunikasi, alat untuk memecahkan berbagai persoalan praktis, yang unsur-unsurnya logika dan intuisi, analisis dan konstruksi, generalitas dan individualitas, serta mempunyai cabang-cabang antara lain aritmatika, aljabar, geometri, dan analisis.

Dapat disimpulkan bahwa matematika adalah ilmu yang mendasari berbagai ilmu pengetahuan lain dalam bentuk bahasa simbol untuk menemukan suatu jawaban terhadap permasalahan yang dihadapi manusia baik berupa informasi ataupun pengetahuan tentang bentuk dan ukuran.

  1. Hakikat Belajar

Menurut Slameto (2003: 2) belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.

Menurut Purwanto (2007: 102) faktor-faktor yang mempengaruhi belajar dibedakan menjadi dua golongan, yaitu:

1)      Faktor inidvidu yakni faktor yang ada pada diri organism itu sendiri meliputi kematangan, kecerdasan, latihan, motivasi, dan faktor pribadi.

2)      Faktor sosial yaitu faktor yang ada di luar individu meliputi faktor keluarga, guru, dan cara mengajar, alat-alat yang digunakan dalam belajar, lingkungan dan kesempatan yang digunakan serta motivasi sosial.

Dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses usaha untuk melakukan perubahan tingkah laku, bai tingkah laku berupa kemampuan berpikir, ketrampilan sebagai hasil pengalaman sendiri dalam interaksi dengan lingkungan.

  1. Keaktifan Belajar

Menurut Paul B. Dierich dalam Hamalik (2008: 172) menyimpulkan terdapat 177 macam kegiatan peserta didik yang meliputi aktivitas jasmani dan aktivitas jiwa, antara lain:

1)      Kegiatan-kegiatan visual: Membaca, melihat gambar-gambar, mengamati eksperimen, demonstrasi, pameran, dan mengamati orang lain bekerja atau bermain.

2)      Kegiatan-kegiatan lisan (oral): Mengemukakan suatu fakta atau prinsip, menghubungkan suatu kejadian, mengajukan pertanyaan, memberi saran, mengemukakan pendapat, wawancara, diskusi, dan interupsi.

3)      Kegiatan-kegiatan mendengarkan: Mendengarkan penyajian bahan, mendengarkan percakapan atau diskusi kelompok, mendengarkan suatu permainan, mendengakan radio.

4)      Kegiatan-kegiatan menulis: Menulis cerita, menulis laporan, memeriksa karangan, membuat rangkuman, mengerjakan tes, dan mengisi angket.

5)      Kegiatan-kegiatan menggambar: Menggambar, membuat grafik, chart, diagram peta, dan pola.

6)      Kegiatan-kegiatan metrik: Melakukan percobaan, memilih alat-alat, melaksanakan pameran, membuat model, menyelenggarakan permainan, menari, dan berkebun.

7)      Kegiatan-kegiatan mental: Merenungkan, mengingat, memecahkan masalah, menganalisis faktor-faktor, melihat hubungan-hubungan, dan membuat keputusan.

8)      Kegiatan-kegiatan emosional: minat, membedakan, berani, tenang, dan lain-lain.

Menurut Sudjana (2010: 61) keaktifan siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar dapat dilihat dalam:

1)      Turut serta dalam melaksanakan tugas belajarnya.

2)      Terlibat dalam pemecahan masalah.

3)      Bertanya kepada siswa lain atau kepada guru apabila tidak memahami persoalan yang dihadapinya.

4)      Berusaha mencari berbagai informasi yang diperlukan untuk memecahkan masalah.

5)      Melaksanakan diskusi kelompok sesuai dengan petunjuk guru.

6)      Menilai kemampuan dirinya dan hasil-hasil yang diperolehnya.

7)      Melatih diri dalam memecahkan soal atau masalah yang sejenis.

8)      Kesempatan menggunakan atau menerapkan apa yang telah diperolehnya dalam menyelesaikan tugas atau persoalan yang dihadapinya.

  1. 2.      Pendekatan Joyful Learning (Pembelajaran Menyenangkan)

Menurut Catur (2008) metode Joyful Learning (JFL) adalah metode belajar cepat dan tepat serta menyenangkan untuk mengimbangi kerja otak kiri dan otak kanan agar dapat berkembang secara maksimal.

Belajar akan menyenangkan (joyful) jika siswa sebagai subyek belajar melakukan proses pembelajaran berdasarkan apa yang dikendaki. Proses pembelajaran berbasis kompetensi akan sangat berkembang jika guru member keleluasaan dan ototomi kepada siswa untuk memilih kegiatan dan bahan pembelajaran yang akan dilaksanakan. Guru berperan sebagai fasilitator yang secara demokratis member arahan tentang peta proses pembelajaran yang berlangsung. Peta proses pembelajaran itu menyangkut rambu-rambu yang ditawarkan kepada siswa, misalnya waktu, proses yang akan ditempuh dengan kelompok atau mandiri, peta seluruh bahan, hasil yang harus dicapai, cara yang harus digunakan untuk mengetahui pencapaian hasil dan sebagainya.

Oleh karena itu, guru sebaiknya memperhatikan beberapa faktor sebagai berikut:

1)      Kebermaknaan

Belajar akan bermakna apabila pemahaman siswa meningkat yang diperoleh dari informasi baru sesuai dengan gagasan dan pengetahuan yang telah dicapai oleh siswa. Apabila istilah dan konsep sering sulit dipahami maka pemahaman tersebut perlu digali melalui pengalaman siswa itu sendiri.

2)      Penguatan

Penguatan terdiri atas pengulangan oleh guru dan latihan oleh siswa. Pengulangan dan latihan tersebut dapat mengurangi proses lupa. Dalam pendekatan joyful learning penguatan merupakan sesuatu yang harus diperhatikan.

3)      Umpan balik

Kegiatan pembelajaran akan lebih efektif bila siswa menerima dengan cepat tentang hasil-hasil belajar tersebut. Umpan balik sederhana misalnya respon siswa terhadap pertanyaan yang diajukan oleh guru atau koreksi pekerjaan siswa.

Beberapa model pembelajaran yang dapat mendukung pendekatan joyful learning antara lain:

1)      Diskusi

Diskusi memiliki arti penting dalam mengembangkan pemahaman. Hal ini disebabkan karena diskusi membawa siswa menggunkakan konsep yang mereka pelajarai serta mengubahnya menjadi bentuk ekspresi yang cukup menyenangkan bagi siswa.

2)      Penyelidikan Terbimbing

Penyelidikan terbimbing sangat relevan dengan pembelajaran matematika karena akan memberikan peluang bagi siswa untuk meneliti apa yang mereka pelajari dan menerapkannya pada dunia nyata. Penyelidikan terbimbing dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, diantaranya mencari pembuktian suatu rumus.

3)      Metode IODE

Istilah IODE merupakan akronim bahasa inggris dari Intake (penerimaan), Organization (pengaturan), Demonstrasi (peragaan), dan Expression (pengungkapan). Keempat huruf tersebut menunjukkan bahwa ada empat jenis kegiatan murid yang pada urutan kegiatan belajar. Model belajar tersebut merupakan cara belajar alami dan memperoleh pengetahuan baru dalam bidang studi dan cukup menyenangkan siswa.

4)      Model Pemecahan Masalah

Model ini dapat digunakan dalam pendekatan joyful learning karena dapat menarik minat siswa untuk memecahkan masalah-masalah yang muncul dalam penyelesaian soal-soal matematika.

5)      Kerja Kelompok

Melalui kerja kelompok dapat menjadi peluang untuk menentukan tujuan, mengajukan, menyeidiki, menjelaskan konsep dan membahas masalah. Kerja sama siswa dapat merangsang pemikiran mereka untuk berbagi gagasan menjadi bagian dari suatu kelompok akan menumbuhkan rasa saling memiliki, saling menghormati, dan bertanggung jawab.

  1. 3.      Pembelajaran Matematika dengan Mengunakan Joyful Learning

Johnson dan Myklebust dalam Abdurrahman (2003: 252) menyatakan bahwa Matematika adalah bahasa simbolis yang fungsi praktiknya untuk mengekspreksikan hubungan-hubungan kuantitatif dan keruangan sedangkan fungsi teoritisnya adalah untuk memudahkan berpikir.

Langkah- langkah proses belajar mengajar dengan pendekatan joyful learning adalah:

  1. Guru menjelakan materi pelajaran dengan metode ceramah dan tanya jawab.
  2. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok kecil 4-5 orang dan diberi soal latihan untuk disesuaikan pada waktu itu juga.
  3. Setelah selesai mengerjakan soal tersebut, siswa disuruh mendemonstrasikan di depan kelas.
  4. Cara menunjuk siswa untuk mengerjakan di depan dengan cara permainan.
  5. Siswa menyimpulkan materi yang dipelajari.
  6. Guru menyempurnakan kesimpulan yang telah diperoleh dari siswa dan memberikan penghargaan kepada siswa yang berani mendemonstrasikan jawaban ke depan kelas.

Dengan demikian pembelajaran matematika berbasis joyful learning dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa dan dapat mengembangkan pengetahuan, sikap, nilai, dan perilaku yang bertanggung jawab terhadap lingkungan sekitar.

  1. 4.      Pokok Bahasan Lingkaran

Lingkaran adalah kumpulan titik-titik pada bidang datar yang mempunyai jarak yang sama terhadap titik tetap. Titik tetap ini disebut titik pusat lingkaran.

Keliling lingkaran: Adalah panjang dari seluruh garis lengkung lingkaran. dilambangkan dengan K, dan dirumuskan dengan K = 2pr atau K = pd

(  = 3, 14 atau )

Luas lingkaran: Adalah luas daerah yang dibatasi oleh keliling lingkaran.

Luas daerah lingkaran = p r2. Karena r = , maka luas daerah lingkaran dapat diubah menjadi

B.     Kajian Pustaka

Terdapat beberapa penelitian yang dilakukan dalam rangka peningkatan kualitas belajar menggunakan berbagai strategi dalam beberapa mata pelajaran. Adapun penelitian pembelajaran tersebut antara lain:

Wang WEI (2011) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa JCLS dapat membantu anak-anak peserta didik untuk memiliki pengalaman belajar yang lebih baik dalam hal pengalaman belajar, belajar konstruktivis dan pembelajaran yang menyenangkan. Banyak pelajar menjawab bahwa Joyful Classroom Learning System (JCLS) dapat meningkatkan motivasi belajar mereka dan membantu mereka berkonsentrasi pada pengajaran dan kegiatan belajar.

Sri Wahyuni (2011) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa proses pembelajaran matematika melalui metode pembelajaran berbasis Joyful Learning dapat meningkatkan motivasi belajar matematika.

Anisa Rahmawati (2010) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa dengan penerapan pendekatan discovery terbimbing mempunyai peran penting dalam meningkatkan keaktifan belajar siswa. Proses pembelajaran yang menerapkan pendekatan discovery terbimbing membuat siswa lebih aktif menjawab pertanyaan, mengerjakan soal, dan meningkatkan hasil belajar matematika.

Puji Purwati (2010) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa dalam pembelajaran matematika yang menggunakan pendekatan active learning dapat meningkatkan keaktifan siswa.

Purwiyastuti (2009) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa penerapan variasi metode pembelajaran berbasis Joyful learning dapat meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar matematika.

Tabel 2. 1

Dari peneliti terdahulu di atas secara seksama dapat divisualisasi sebagai berikut:

Variabel

Nama

X1

X2

X3

X4

X5

X6

Sri Wahyuni

Purwiyastuti

Puji Purwati

Anisa Rahmawati

Wang WEI

Peneliti

Keterangan: X1 = Joyful Learning

X2 = Active Learning

X3 = Discovery terbimbing

X4 = Keatifan

X5 = Motivasi

X6 = Kualitas proses dan hasil belajar

C.    Kerangka Berpikir

Pembelajaran matematika pada saat ini masih didominasi oleh guru yang aktif dalam kegiatan belajar mengajar dan siswa hanya pasif mendengar dan menerima apa yang diberikan oleh guru padahal dalam ketentuan sekarang ini menuntut keaktifan siswa dalam pembelajaran matematika.

Pada kondisi awal rendahnya keaktifan belajar matematika siswa kelas VIII D dilihat dari indikator adalah sebagai berikut: 1) Keaktifan dalam mengajukan pertanyaan sebesar 11,11%. 2) Keaktifan mengerjakan soal-soal latihan pada proses pembelajaran sebesar 36,11%. 3) Keberanian siswa dalam mengerjakan soal di depan kelas sebesar 16,67%.

Kemudian mengimplementasikan metode pembelajaran matematika berbasis joyful learning dengan langkah-langkah: Guru menjelakan materi pelajaran dengan metode ceramah dan tanya jawab. Selanjutnya siswa dibagi menjadi beberapa kelompok 4-5 orang dan diberi soal latihan untuk diselesaikan pada waktu itu juga. Setelah selesai mengerjakan soal tersebut, siswa disuruh mendemonstrasikan di depan kelas. Cara menunjuk siswa untuk mengerjakan di depan dengan cara permainan. Selanjutnya siswa menyimpulkan materi yang telah dipelajari. Tahap akhir dengan memberikan latihan kepada siswa dan penilaian secara individu.

Dengan penelitian ini diharapkan persentase keaktifan belajar siswa dalam pembelajaran matematika meningkat dilihat dari indikatornya sebagai berikut: 1) Keaktifan dalam mengajukan pertanyaan menjadi 22,22% . 2) Keaktifan dalam mengerjakan soal-soal latihan pada proses pembelajaran menjadi 55, 56%. 3) Keberanian siswa dalam mengerjakan soal di depan kelas menjadi 30,56%.

BAB III

METODE PENELITIAN

A.    Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom Action Research (CAR) yang dilakukan secara kolaborasi antara kepala sekolah, guru matematika dan peneliti. Menurut Hopkins dalam Sutama (2010: 15) penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang mengkombinasikan prosedur penelitian dengan tindakan subtansif, suatu tindakan yang dilakukan dalam disiplin inkuiri, atau suatu usaha seseorang untuk memahami apa yang sedang terjadi, sambil terlibat dalam sebuah proses perbaikan dan perubahan.

Penelitian tindakan ditandai dengan adanya perbaikan terus menerus sehingga tercapainya sasaran dari penelitian tersebut. Perbaikan tersebut dilakukan pada setiap siklus yang dirancang oleh peneliti. PTK bercirikan perbaikan terus menerus sehingga kepuasan peneliti menjadi tolak ukur berhasil tidak nya siklus-siklus tersebut.

B.     Tempat dan Waktu Penelitian
Tempat Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan di SMP Negeri 2 Weru. Penelitian di tempat ini didasarkan atas pertimbangan bahwa sekolah tersebut  memiliki jumlah siswa yang representatif untuk diteliti. Selain itu lokasi mudah dijangkau peneliti sehingga lebih efisien dalam mendapatkan data. Sekolah ini termasuk sekolah favorit, hal ini ditunjukkan dari kualitas yang cukup baik dan banyak siswa baru yang terus bertambah dari tahun ke tahun.

Waktu Penelitian

Penelitian ini direncanakan akan dilaksanakan pada tahun ajaran 2011/2012. Adapun rincian waktu penelitian sebagai berikut:

Tabel 3. 1

Tabel kegiatan penelitian di SMP Negeri 2 Weru

Kegiatan Penelitian

November

Desember

Januari

Februari

Minggu

I

II

III

IV

I

II

III

IV

I

II

III

IV

I

II

III

Perencanaan

X

X

X

X

X

X

X

Pelaksanaan

X

X

X

Analisis Data

X

X

X

Pelaporan

X

X

 

  1. C.    Subyek Penelitian

Dalam penelitian ini guru kelas bertindak sebagai subyek yang memberi tindakan kelas. Siswa kelas VIII D SMP Negeri 2 Weru yang terdiri dari 36 siswa sebagai subyek yang menerima tindakan. Peneliti dibantu mitra guru matematika sebagai observer.

  1. D.    Rancangan Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa dalam belajar matematika. Kepala sekolah, guru kelas dan peneliti dilibatkan sejak: 1) dialog awal, 2) perencanaan tindakan, 3) pelaksanaan tindakan, 4) observasi, 5) refleksi, 6) evaluasi, dan 7) penyimpulan.

  1. Dialog Awal

Suatu pertemuan antara peneliti dan guru matematika bersama-sama melakukan pengenalan, penyatuan ide, dan berdiskusi membahas masalah dan cara-cara peningkatan keaktifan belajar siswa yang terfokus pada interaksi siswa dan guru. Membuat kesepakatan untuk memecahkan masalah peningkatan keaktifan belajar siswa melalui metode pembelajaran berbasis joyful learning.

  1. Perencanaan Tindakan Kelas

Hasil dari dialog awal yang telah diputuskan dan disepakati bersama diharapkan membawa kesadaran pentingnya peningkatan keaktifan belajar siswa di SMP N 2 Weru, selanjutnya disusun langkah-langkah pesiapan tindakan yang terdiri.

  1. Memperbaiki kompetensi material guru dalam bidang matematika.
  2. Identifikasi masalah dan penyebabnya.
  3. Perencanaan solusi masalah.
  4. Pelaksanaan Tindakan

Tindakan dilaksanakan berdasarkan perencanaan, namun tindakan tidak mutlak dikendalikan oleh rencana. Rencana tindakan harus bersifat sementara, fleksibel dan siap diubah sesuai dengan keadaan yang ada sebagai upaya perbaikan.

  1. Observasi dan Monitoring

Observasi dan monitoring dilakukan dengan mengamati atas hasil atau dampak dari tindakan yang dilaksanakan atau dikenakan terhadap siswa. Pada waktu observasi dilakukan, observer mengamati proses pembelajaran dan menyimpulkan  data mengenai segala sesuatu yang terjadi saat proses pembelajaran.

  1. Refleksi

Refleksi adalah mengingat dan merenungkan kembali suatu tindakan seperti yang telah dicatat oleh observer.

  1. Evaluasi

Evaluasi hasil penelitian dilakukan untuk mengkaji hasil perencanaan,observasi, dan refleksi penelitian pada setiap pelaksanaan penelitian.

  1. Penyimpulan

Penyimpulan merupakan pengambilan intisari dari sajian data yang telah terorganisir dalam bentuk pernyataan atau kalimat yang singkat, pada, dan bermakna. Hasil dari penelitian tersebut berupa peningkatan keaktifan siswa dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika.

E.     Metode Pengumpulan Data

Penelitian tindakan kelas dilakukan bersifat deskriptif kualitatif. Sumber data primer adalah peneliti yang melakukan tindakan dan siswa yang menerima tindakan, sedangkan data sekunder berupa data dokumentasi. Pengambilan data dapat dilakukan dengan teknik observasi, catatan lapangan,  tes, dan dokumentasi.

  1. Observasi

Menurut Arikunto (2006: 229) dalam menggunakan metode observasi cara yang paling efektif adalah melengkapinya dengan format atau blangko pengamatan sebagai instrument. Format yang disusun berisi item-item tentang kejadian atau tingkah laku yang digambarkan akan terjadi.

Dalam penelitian ini, observasi digunakan untuk mengetahui adanya perubahan tingkah laku tindakan belajar siswa yaitu peningkatan keaktifan siswa dan hasil belajar matematika melalui metode pembelajaran joyful learning. Peneliti melakukan observasi sesuai dengan pedoman observasi yang ditetapkan.

  1. Catatan Lapangan

Catatan lapangan menurut Bogdan dan Biklen (Lexy Moleong, 2008) adalah catatan tertulis tentang apa yang didengar, dilihat, dialami dan dipikirkan untuk mengumpulkan data dan refleksi terhadap data dalam penelitian kualitatif. Dalam hal ini catatan lapangan digunakan untuk mencatat kejadian-kejadian penting yang muncul pada saat proses pembelajaran matematika berlangsung.

  1. Tes

Menurut Sutama (2010: 35) tes adalah seperangkat rangsangan (stimuli) yang diberikan kepada seseorang dengan maksud untuk mendapatkan jawaban-jawaban yang dijadikan penetapan skor angka.

  1. Dokumentasi

Dokumentasi dalam penelitian ini adalah berupa RPP, buku-buku, buku presensi, dan lain-lain. Dokumentasi digunakan untuk memperoleh data sekolah, nama siswa, dan foto proses tindakan penelitian.

F.     Instrumen Penelitian

  1. Pengembangan Instrumen

Berdasarkan cara pelaksanaan dan tujuan, penelitian ini menggunakan observasi partisipasi peneliti dimana peneliti ikut ambil bagian kegiatan obyeknya, sebagaimana yang lain tidak tampak dalam sikap.

Keterlibatan peneliti dalam aktivitas penelitian dalam bentuk kegiatan dibedakan menjadi partisipasi sebagian (partial participal) dan partisipasi penuh (full participal). Partisipasi sebagian adalah suatu proses kegiatan yang berantai, peneliti hanya mengambil sebagian yang dianggap perlu untuk dilakukan pengamatan, sedangkan partisipasi penuh artinya pengamatan selalu mengambil bagian dengan melibatkan diri di dalamnya dari serangkaian pross tanpa melihat untuk membedakan momen-momen yang dianggap penting dan kurang penting. Metode ini digunakan untuk mengamati tingkah laku siswa secara langsung saat pembelajaran di dalam kelas.

  1. Validitas Instrumen

Pengujian validitas instrumen menggunakan teknik triangulasi. Menurut Moleong (2008: 330) triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan suatu yang lain diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau pembanding terhadap data tersebut. Teknik triangulasi dalam pengujian instrumen dilakukan dengan tiga cara yaitu triangulasi sumber, triangulasi teknik, dan triangulasi waktu.

G.    Teknik Analisis Data

Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode alur. Dimana langkah-langkah yang harus dilalui dalam metode alur meliputi pengumpulan data, penyajian data, dan verifikasi data.

  1. Proses Analisis Data

Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber. Setelah dikaji kemudian membuat rangkuman untuk setiap pertemuan atau tindakan di kelas.

  1. Penyajian Data

Pada langkah penelitian ini, peneliti berusaha menyusun data yang relevan sehingga dapat menjadi informasi yang dapat disimpulkan dan memiliki makna tertentu. Dengan cara menampilkan data dan membuat hubungan antara variable, peneliti mengerti apa yang terjadi dan apa yang perlu ditindaklanjuti untuk mencapai tujuan penelitian.

  1. Verifikasi Data

Verifikasi data atau penarikan kesimplan dilakukan secara bertahap untuk memperoleh derajat kepercayaan tinggi. Dengan demikian analisis data dalam penelitia ini dilakukan sejak tindakan dilaksanakan. Verifikasi data dilakukan pada setiap tindakan yang pada akhirnya dipadkan menjadi kesimpulan.

H.    Keabsahan Data

Keabsahan data menurut Sukmadinata dalam Sutama (2010: 101) dapat dilakukan melalui observasi secara terus menerus, triangulasi sumber, metode, dan peneliti lain, pengecekan anggota, diskusi teman sejawat, dan pengecekan referensi. Dalam penelitian ini, keabsahan data dilakkan dengan observasi secara terus menerus dan triangulasi data.

Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Dalam penelitian ini, keabsahan dilakukan dengan triangulasi sumber, yaitu membandingkan data hasil pengamatan tes dengan hasil observasi lain.

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, Mulyono. 2003. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Rineka Cipta

Arikunto, Suharsini. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta

Catur, Chatarina. 2008. “Joyful Learning”. http://catharinacatur.wordpress.com/2008/10/15/joyful-learning/ diakses tanggal 15 Oktober 2011

Hamalik, Oemar. 2008. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara

Jumali, M, dkk. 2008. Landasan Pendidikan. Surakarta: Muhammadiyah University Press

Moleong, Lexy J. 2008. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya

Rahmawati, Anisa. 2010. “Peningkatan Keaktifan Belajar Matematika Melalui Pendekatan Discovery Terbimbing”. Skripsi. Surakarta: UNS (Tidak Dipublikasikan)

Purwanto, M. Ngalim. 2007. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya

Purwati, Puji. 2010. “Peningkatan Keaktifan Siswa Dalam Pembelajaran Matematika Melalui Pendekatan Active Learning”. Skripsi. Surakarta: UNS (Tidak Dipublikasikan)

Purwiyastuti. 2009. “Penerapan Variasi Metode Pembelajaran Berbasis Joyful Learning Untuk Meningkatkan Kualitas Proses dan Hasil Belajar Matematika”. Skripsi. Surakarta: UMS (Tidak Dipublikasikan)

Slameto. 2003. Belajar dan Faktor – Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta

Sudirman. 2007. Cerdas Aktif Matematika. Jakarta: Ganeca Exact

Sudjana, Nana. 2010. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya

Sutama. 2010. Penelitian Tindakan Teori dan Praktek dalam PTK, PTS, dan PTBK. Semarang: Surya Offset

Uno, Hamzah B. 2007. Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif. Jakarta: Bumi Aksara

Wahyuni, Sri. 2011. “Peningkatan Motivasi Belajar Matematika Melalui Metode pembelajaran Berbasis Joyful Learning pada Siswa kelas V SD N Kleco 2 Surakarta Tahun Ajaran 2010/ 2011”. Skripsi. Surakarta: UMS (Tidak Dipublikasikan)

Wang WEI, Chun, dkk. 2011. “A Joyful Classroom Learning System With Robot Learning Companion For Children To Learn Mathematics Multiplication”. The Turkish Online Journal Of Educational Technology/ Vol. 10 No. 2, pp. 1-13

Laporan Survey Warnet

SURVEY WARNET “AURORA”

A. PENDAHULUAN

Jaringan Komputer dapat diartikan sebagai suatu himpunan interkoneksi sejumlah komputer otonom. Dua buah komputer dikatakan membentuk suatu network bila keduanya dapat saling bertukar informasi. Pembatasan istilah otonom disini adalah untuk membedakan dengan sistem master/slave. Bila sebuah komputer dapat membuat komputer lainnya aktif atau tidak aktif dan mengontrolnya, maka komputer komputer tersebut tidak otonom. Sebuah sistem dengan unit pengendali (control unit) dan sejumlah komputer lain yang merupakan slave bukanlah suatu jaringan; komputer besar dengan remote printer dan terminalpun bukanlah suatu jaringan.

Maksud dan tujuan dilakukannya survey ini adalah untuk mengetahui system jaringan apa yang dipakai “AURORA” sehingga dapat memenuhi tugas mata kuliah SISTEM KOMUNIKASI DATA yang diampu oleh Bp. Masduki.

DESKRIPSI TEMPAT SURVEY

“AURORA” terletak di depan kampus 2 Universitas Muhammadiyah Surakarta. Lokasinya sangat strategis karena dekat kampus UMS. Warnet dengan kapasitas 32 bilik ini ramai dikunjungi oleh user-user langganannya. Terlebih mahasiswa yang sering browsing untuk mencari informasi dalam menyelesaikan tugasnya. Selain itu terdapat banyak fasilitas seperti, AC, ruang tunggu, toilet, mushola, dan menyediakan makanan dan minuman dengan  harga yang terjangkau.

HASIL SURVEY DAN PEMBAHASAN

Dari hasil wawancara yang kami lakukan dengan Sdr. Bambang Yuliawan,  di warnet “AURORA” menggunakan system jaringan dengan “Client-Server”. Jaringan Client-Serve, server adalah sebuah komputer yang menyediakan fasilitas untuk komputer-komputer yang lain di dalam suatu jaringan dan client adalah komputer-komputer yang menerimaatau yang menggunakan fasilitas-fasilitas yang disediakan oleh srver. Server di jaringan tipe client-server dapat disebut Dedicated server karena hanya berperan sebagai server saja yang menyediakan fasilitas kepada workstation dan server tersebut tidak dapat berperan sebagai workstation

Client server biasa di gunakan dalam membuat jaringan pada warnet, di mana di situ ada seorang server yang berfungsi untuk mengatur dan mengendalikan fungsi dari client, tetapi client hanya bisa menerima layanan dari server tanpa bisa mengendalikan kinerja dari server, jadi dapat di simpulkan bahwa server berfungsi sebagai penyedia layanan dan client berfungsi untuk menerima layanan yang di berikan oleh server.

INOVASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA

BAB 1

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Salah satu masalah yang dihadapi dalam pembelajaran matematika adalah siswa kurang didorong untuk mengembangkan dan menerapkan konsep-konsep yang dipelajarinya dalam menyelesaikan masalah kehidupan mereka. Proses pembelajaran lebih banyak diarahkan pada kemempuan untuk menghafal informasi. Akibatnya, ketika siswa lulus sekolah, mereka hanya paham teori secara konseptual tanpa memahami makna kontekstualnya.

Sugeng, M (2001:2) menyatakan pengembangan pembelajaran matematika sangat dibutuhkan karena keterkaitan peneneman konsep pada siswa, yang nantinya para siswa tersebut juga akan ikut andil dalam pengembangan matematika lebih lanjut ataupun dalam mengaplikasikan matematika dalam kehidupan sehari-hari. Namun demikian, pengembangan matematika tersebut akan ikut terhambat oleh pandangan masyarakat yang keliru tentang kemudahan dalam proses pembelajaran. Akibatnya, mata pelajaran matematika diampu oleh guru yang tidak profesional, tidak mau kreatif dalam pengembangkan pembelajaran. Semua ini akan dapat berakibat terhadap rendahnya motivasi dan minat siswa dalam mempelajari matematika. Akibat lebih lanjut adalah rendahnya pencapaian prestasi belajar siswa.

Pendapat yang menyatakan bahwa hasil pembelajaran matematika masih kurang memenuhi harapan. Seperti Windayana (2004) mengungkapkan bahwa pembelajaran matematika masih berorientasi pada pengembangan aspek kognitif yang menstransfer pengetahuan dari guru kesiswa yang diikuti dengan latihan-latihan untuk membentuk kemampuan sesaat.

Salah satu faktor penyebab kurang berhasilan tersebut adalah proses pembelajaran yang hanya bersifat monoton sehingga membuat siswa merasa bosan. Saat ini, di kalangan guru, senantiasa berdengung istilah pembelajaran inovatif. Di mana-mana, inovatif menjadi barang yang diburu guru untuk diketahui, dipelajari, dan dipraktikkan di kelas. Seolah-olah, tanpa inovatif, dunia guru tidak harum namanya. Sebenarnya, pembelajaran inovatif itu apa?

Inovasi pembelajaran muncul dari perubahan paradigma pembelajaran. Perubahan paradigma pembelajaran berawal dari hasil refleksi terhadap eksistensi paradigma lama
yang mengalami anomali menuju paradigma baru yang dihipotesiskan mampu memecahkan masalah. Terkait dengan pembelajaran di kelas, paradigma pembelajaran yang dirasakan telah mengalami anomali, Paradigma pembelajaran yang merupakan hasil gagasan baru adalah (1) peran guru lebih sebagai fasilitator, pembimbing, konsultan, dan kawan belajar, (2) belajar diarahkan oleh siswa sendiri, (3) berbasis masalah,proyek, dunia nyata, tindakan nyata, dan refleksi, (4) fokus masyarakat, (5) komputer sebagai alat. Paradigma pembelajaran tersebut diyakini mampu memfasilitasi siswa untuk mengembangkan kecakapan hidup dan siap terjun di masyarakat.

Berdasarkan latar belakang di atas maka kami tertarik untuk melakukan observasi di SMP Muhammadiyah 7 Surakarta.

  1. B.     Tujuan
    1. Meningkatkan kompetensi guru dalam pengelolaan pembelajaran
    2. Memotivasi guru dalam memfasilitasi dan mengelola pembelajaran yang efektif
    3. C.    Manfaat

Bagi siswa:

  • Dapat meningkatkan motivasi belajar matematika.
  • Dapat meningkatkan prestasi belajar matematika.

Bagi Guru:

  • Dapat membuat variasi pembelajaran sehingga tidak membosankan.
  • Dapat meningkatkan kualitas pembelajaran.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A.    Narasumber

Nama                                             : Makhfudin, S.Pd.

Pekerjaan                                       : Guru Matematika

Jenis kelamin                                 : Laki – laki

Waktu Wawancara                        : Kamis, 26 Mei 2011

Sekolah                                         : SMP Muhammadiyah 7  Surakarta

  1. B.     Daftar Pertanyaan
    1. Apakah guru tersebut pernah melaksanakan pembelajaran yang sifatnya inovatif?
    2. Apakah latar belakang kegiatan pembelajaran tersebut dilaksanakan?
    3. Bagaimana mekanisme pelaksanaannya?
    4. Bagaimana hasilnya?
  1. C.    Hasil Observasi
  • Guru tersebut pernah melaksanakan pembelajaran inovatif, yaitu dengan menggunakan model pembelajaran dalam bentuk kelompok, seperti Student Teams Achievement Division (STAD)
  • Model pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) ini dipilih karena model pembelajaran ini memungkinkan keterlibatan siswa sebagai anggota kelompok dalam usaha pencapaian tujuan. Belajar secara berkelompok memungkinkan siswa belajar secara efektif dan mereka dapat saling membantu. Dengan demikian, dengan mengelompokkan siswa pada saat belajar dan pemberian tugas adalah langkah yang baik dikarenakan memungkinkan siswa belajar secara efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran dengan baik. Pembelajaran inovatif tujuannya dapat langsung mengena ke siswa yaitu siswa mengalami kemudian menyimpulkan materi yang dibimbing oleh guru.
  • Mekanisme pelaksanaa dari model pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) antara lain :

1)      Para siswa di dalam kelas dibagi menjadi beberapa kelompok , jadi ada 8 kelompok, masing – masing kelompok mempunyai anggota yang heterogen, baik jenis kelamin, ras, etnik, maupun kemampuannya (prestasinya).

2)      Guru menyampaikan materi pelajaran

3)      Guru membagikan materi yang berbeda pada masing-masing kelompok dengan menggunakan lembar kerja akademik, dan kemudian saling membantu untuk menguasai materi pelajaran yang telah diberikan melalui tanya jawab atau diskusi antar sesama anggota kelompok.

4)      Selanjutnya masing-masing kelompok mempresentasikan kedepan kelas.

5)      Selanjutnya tanggapan dari masing-masing kelompok.

6)      Selanjutnya guru memberikan tanggapan dan penegasan.dan tiap kelompok diberi skor atas penguasaannya terhadap materi pelajaran, dan kepada siswa secara individual atau kelompok yang meraih prestasi tinggi atau memperoleh skor sempurna diberi penghargaan.

7)      Kesimpulan Pelaksanaan tipe STAD melalui tahapan sebagai berikut :

  1. Penjelasan materi pembelajaran;
  2. Diskusi atau kerja kelompok belajar;
  3. Validasi oleh guru;
  4. Evaluasi (Tes);
  5. Menentukan nilai individu dan kelompok;
  6. Penghargaan individu atau kelompok;
  • Hasil dari penggunaan model pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) ini akan mampu membawa siswa dalam situasi yang lebih kondusif, karena siswa lebih berperan dan lebih terbuka serta sensitif dalam kegiatan belajar mengajar. Hal ini terlihat mayoritas siswa beraktivitas dalam pembelajaran, aktivitas pembelajaran didominasi oleh kegiatan siswa dan mayoritas siswa mampu mengerjakan tugas yang diberikan guru melalui model pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD).

BAB III

PENUTUP

  1. A.    SIMPULAN
    1. Pembelajaran inovatif sangat diperlukan dalam pembelajaran.
    2. Model pembelajaran STAD merupakan salah satu inovasi pembelajaran yang mampu meningkatkan hasil belajar siswa.
  1. B.     SARAN
    1. Guru lebih meningkatkan strategi pembelajaran yang inovatif yang lebih bervariasi.
    2. Siswa perlu dikondisikan belajar mandiri secara kelompok melalui kerja-sama.
    3. Perlu dilakukan suatu penelitian tindakan kelas (action research) tentang pengaruh tipe model pembelajaran STAD terhadap peningkatan prestasi belajar siswa.

MANAJEMEN TATA LAKSANA

BAB I

                                                                  PENDAHULUAN

 

A.     Latar Belakang

Administrasi pendidikan mencakup semua kegiatan yang lazim disebut dengan penataan, pengaturan, dan pengelolaan pendidikan. Kegiatan manajemen pendidikan juga telah dilakukan sejak proses pendidikan informal mulai dibentuk menjadi nonformal atau formal. Selanjutnya manajemen pendidikan mencakup banyak kegiatan yang diklasifikasikan sesuai dengan bagiannya dan satu diantaranya adalah mengenai tata laksana pendidikan. Tata laksana pendidikan sering disebut dengan administrasi tata usaha, yaitu segenap proses kegiatan pengelolaan surat-menyurat yang dimulai dari menghimpun (menerima), mencatat, mengelola, menggandakan, mengirim dan menyimpan semua bahan keterangan yang diperlukan oleh organisasi.  Maka dari itu tata laksana bukan hanya meliputi surat-menyurat saja tetapi semua bahan keterangan atau informasi berwujud warkat.

Kegiatan yang termasuk didalam tata laksana pendidikan sangat komplek. Dan diantara komponen didalamnya memiliki hubungan saling keterkaitan.  Kegiatan dalam tata laksana pendidikan  tersebut antara lain meliputi kegiatan yang menyangkut administrasi kurikulum, kegiatan yang menyangkut admintrasi murid, kegiatan yang menyangkut administrasi personil, kegiatan yang menyangkut penataan inventaris sekolah, pekerjaan surat-menyurat, kegiatan yang menunjang penataan keuangan, kegiatan yang menunjang administrasi sarana dan kegiatan yang menunjang hubungan sekolah dengan masyarakat.

Dalam pendidikan juga dibutuhkan sebuah hubungan antara sekolah sebagai lembaga pendidikan dengan masyarakat baik secara intern maupun ekstern. Sekolah sebagai wadah penanamn nilai tak mungkin bisa lepas dari peran masyarakat. Masyarakat sebagai mediator dalam memperoleh inaformasi  resmi dari instansi yang dibutuhkan oleh sekolah. Jadi manajemen yang diatur oleh sekolah tentulah tidak terlepas dengan hubungannya dengan masyarakat sekitarnya.

Dari pemaparan diatas maka penulis menyusun makalah ini dengan judul “Tata Laksana Pendidikan” agar nantinya makalah ini bermanfaat bagi pembacanya dan dapat menambah khasanah pengetahuan khususnya bagi seorang calon guru.

B.    Rumusan Masalah

Rumusan masalah dari makalah ini adalah :

  1. Apakah yang diamksud dengan tata laksana pendidikan ?
  2. Apa saja jenis-jenis kegiatan dari urusan ketatausahaan?
  3. Bagaimana mengenai manajemen surat dan kepengurusannya dalam ketatausahaan?
  4. Bagaimana mengenai ketatausahaan lain yang diperlukan sekolah ?

C.    Tujuan Penulisan

Tujuan dari penulisan makalah dengan judul tata laksana pendidikan ini antara lain adalah untuk ;

  1. Untuk mengetahui pengertian dari tata laksana dalam pendidikan
  2. Untuk mengetahui jenis-jenis dari kegiatan ketatausahaan
  3. Untuk mengetahui tenteng surat dan kepengurusannya dalam ketatausahaan
  4. Untuk mengetahui tebtang ketatausahaan lain yang diperlukan sekolah.


BAB II

PEMBAHASAN

A.     Pengertian

Masalah tata laksana sekolah pada dasarnya cukup kompleks, namun demikian untuk telaah dapat ditelusuri dari berbagai sisi, yaitu dari segi jenis, proses dan pemanfaatanya. Dari segi jenisnya, secara makro seluruh lingkungan fisik dalam suatu satuan pendidikan yang dirancang untuk memberikan fasilitas dalam proses pendidikan, sepeti rancangan halaman, tata letak gedung, taman, prasarana jalan, tempat parkir dan lain-lain. Sementar itu, secara mikro ada tiga komponen sarana pendidikan yang secara langsung mempengaruhi kualitas hasil pembelajaran, yaitu buku pelajaran dan perpustakan, peralatan laboratorium beserta bahan praktiknya dan peralatan pendidikan di dalam kelas.

Apabila dilihat dari prosesnya, persoalan tata laksana sekolah berangkat dari desain, penyusunan naskah, standarisasi spesifikasi, penggandaan atau pengadaan distribusi, sampai pada penempatan dalam sekolah yang berkaitan dengan dukungan prasarana yang diperlukan. Pada garis besarnya tata laksana sekolah meliputi  lima hal, yaitu penentuan kebutuhan, proses pengadaan, pemakaian, pencatatan atau pengurusan dan pertanggungjawaban.

Tata laksana pendidikan sering disebut dengan administrasi tata usaha, yaitu segenap proses kegiatan pengelolaan surat-menyurat yang dimulai dari menghimpun (menerima), mencatat, mengelola, menggandakan, mengirim dan menyimpan semua bahan keterangan yang diperlukan oleh organisasi. Dengan pengertian ini maka tata laksana atau tata usaha bukan hanya meliputi surat-surat saja tetapi semua bahan atau informasi yang berwujud warkat.

Menurut William Leffingwe dan Edwin Robinson yang telah diterjemahkan oleh The Liang Gie (2000:60) pekerjaan kantor atau tata laksana ini pekerjaannya menyangkut segala usaha perbuatan menyangkut warkat, pemakaian warkat-warkat dan pemeliharaannya guna dipakai untuk mencari keterangan dikemudian hari. Warkat-warkat ini mungkin merupakan sejarahdari pelaksanaan urusan-urusan badan usaha itu sebagaimana digambarkan oleh daftar-daftar perhitungan, surat-menyurat, surat-surat perjanjian, surat-surat pesanan, daftar harta benda, rencana-rencana, laporan-laporan dan semua jenis-jenis nota yang tertulis atau tercetak.

Keterangan yang perlu dipahami dalam tata laksana :

  1. Keterangan adalah pengetahuan tentang sesuatu hal atau peristiwa yang diperoleh melalui pembacaan dan pengamatan.
  2. Warkat adalah catatn tertulis atau bergambar mengenai sesuatu hal  untuk keperluan pengingatan agar apabila sewaktu-waktu diperlukan dapat disiapkan.
  3. Satuan kerja tata usaha yaitu sekelompok petugas yang terdiri dari seorang atau lebih petugas yang telah mendapatkan tugas tertentu di bidang ketatausahaan. Kelompok tugas yang demikian  ada yang terorganisasi dalam stu unit atau satuan kerja (misalnya again tat usaha pada sekolah, kantor pendidikan, fakultas) atau tidak (masih merupakan kelompok kerja)
  4. Margin adalah garis tepi tegak.
  5. Kartu kendali adalah suatu alat yang berfungsi untuk menelusuri dan mengendalikan proses pengelolaan surat-surat dinas.
  6. Penerima adalah seseorang atau lebih petugas yang merupakan satu unsur kegiatan ketatausahaan mengenai penerimaan surat-surat.
  7. Arsip atau berkas adalah lembaran-lembaran warkat yang disimpan karena mempunyai nilai kegunaan sejarah, hukum dan pertanggungjawaban organisasi.
  8. Kait atau baris adalah jarak dari alinea atau kalimat di atas dengan alinea atau kalimat dibawahnya.

Pekerjaan tata usaha meliputi rangkaian aktifitas menghimpun, mencatat, mengelola, menggandakan, mengirim, dan menyimpan keterangan-keterangan yang diperlukan dalam setiap usaha kerjasama.

Menurut The Liang Gie (2000:50).

  1. Menghimpun yaitu suatu kegiatan mencari dan mengusahakan tersedianya segala keterangan yang tadinya belum ada atau berserakan dimana-mana sehingga siap dipergunakan apabila diperlukan.
  2. Mencatat yaitu meliputi kegiatan membubuhkan dengan berbagai alat tulis-menulis mengenai keterangan-keterangan yang diperlukan sehingga terwujudlah tulisan-tulisan yang dapat dibaca, dikirim atau disimpan.
  3. Mengolah yaitu bermacam-macam kegiatan mengerjakan keterangan-keterangan dengan maksud menyajikan dalam bentuk yang lebih berguna atau lebih jelas untuk dipakai.
  4. Manggandakan yaitu kegiatan memperbanyak dengan berbagai cara dan alat sebanyak jumlah yang diperlukan.
  5. Mengirim yaitu kegiatan menyampaikan dengan berbagai cara dan alat dari pihak pertama ke pihak lain.
  6. Menyimpan yaitu kegiatan manaruh dengan berbagai cara dan alat ditempat tertentu yang aman.

Secara ringkas kegiatan penyelenggaraan pengelolaan keterangan-keterangan tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Aktivitas : menghimpun, mencatat, mengolah, menggandakan, mengirim dan menyimpan.
  2. Sasaran kegiatan : keterangan-keterangan yang berupa warkat.
  3. Kerja yang nampak di kantor : mengetik, menghitung, mentensil, men cap, menelfon, menyalin, mendikte, memilah-milah, melekatkan, menandai, menyampuli, mambagi-bagi, melubangi dst
  4. Ciri-ciri :
    1. Bersifat pelayanan
    2. Merembes kamana-mana
    3. Dilakukan oleh semua pihak
    4. Banyak memakai alat tulis, berkas mata dan pikiran.
  1. Peranan
    1. Membantu pelaksanaan pekerjaan induk dalam setiap organisasi.
    2. Menyediakan keterangan untuk pimpinan.
    3. Melancarkan perkembangan organisasi.
    4. Peralatan
      1. Material lembaran.
      2. Material non lembaran.
      3. Alat tulis dan non tulis.
      4. Mesin kantor dan perabot kantor serta perlengkapan lain.
      5. Hasil kerja : formulir, surat-surat, warkat lain, buku, benda-benda, berketerangan dan sebagainya.

B.    Jenis-Jenis Kegiatan Dalam Urusan Ketatausahaan

Pekerjaan ketatausahaan bukan monopoli petugas administrasi saja, tetapi juga pegawai edukatif. Dalam bagian ini akan disajikan kegiatan tatausaha khususnya yang dilakukan oleh tenaga administratif.

Bagian ketatausahaan sekolah yang dimaksudkan untuk dapat mempermudah proses penyelenggaraan di sekolah. Secara terperinci kegiatan yang dibantu kemudahannya adalah :

  1. Kegiatan yang menyangkut manajemen kurukulum

Manajemen kurikulum adalah segala proses penyelenggaraan yang bertujuan untuk memperlancar pelaksanaan proses belajar mengajar agar efektif dan efisien. Kegiatannya meliputi ; penyusunan jadwal , pembuatan kalender akademik dan sebagainya yang biasa dilakukan oleh kepala sekolah atau diserahkan kepada seorang atau beberapa guru. Mereka hanya mengerjakan penyususnannya tetapi pengerjaan penulisan ke papan besar diserahkan ke tata usaha.

  1. Kegiatan yang menyangkut manajemen siswa

Pekerjaan tat usaha yang menunjang manajemen siswa banyak berhubungan dengan hak dan kewajibannya sebagai pegawai negeri sipil antara lain :

  1. Mendaftar calon siswa (mulai dari pengadaan formulir)
  2. Mengisi buku induk dan buku klapor
  3. Mengurus dan mengatur warkat-warkat jika ada pemindahan siswa
  4. Mengisi daftar presensi sampai menghitung prosentasenya
  5. Mengatur ruang kelas, ruang laboraturium dan ruang kegiatan yang lain
  6. Membuat laporan dan statistik mengenai keadaan siswa setiap bulan dan setiap tahun
  7. Kegiatan yang menyangkut manajemen personil

Pekerjaan tata usaha yang menunjang manajemen personil banyak berhubungan dengan hak dan kewajibannya sebagai pegawai negeri sipil antara lain :

  1. Melaksanakan pengetikan dan pengaturan warkat untuk pengangkatan sebagai pegawai negeri, mengatur permintaan tanda tangan dari kepala sekolah dan mengirimkannya.
  2. Membantu memperbanyak salinan surat-surat keputusan serta lampiran-lampiran yang dibuthkan  untuk pengurusan kenaikan pangkat, penggunaan hak cuti atau pensiun.
  3. Menyiapkan, menyimpan, dan mengisi kartu pegawai.
  4. Menyiapkan blangko-blangko presensi pegawai.
  5. Membantu kepala sekolah dalam mebuat laporan statistik keadaan pegawai adukatif dan administratif.
  6. Mengerjakan tugas-tugas lain, baik bersifat rutin maupun insidental.
  1. Kegiatan yang mengenai penataan inventaris sekolah

Pekerjaan inventaris sebenarnya menyangkut bagian manajemen sarana, yaitu mancatat keluar masuknya barang, pemeliharaan dan penyimpanannya. Pekerjaan ketatausahaan yang menyangkut penataan inventaris meliputi :

  1. Pencatatan masuknya barabg-barabg, memberi label dan nomor inventaris, mengklasifikasikannya.
  2. Pencatatan keluarnya barang-barang misalnya digunakan, dipinjam, dihibahkan, diberikan pada lembaga lain, atau perseorangan, disingkirkan.
  3. Kegiatan yang menunjang penataan keuangan

Bermacam-macam bendahara yang ada mengerjakan administrasi keuangan. Bendahara negara yang diangkat dan ditetapkan dengan surat keputusan mempunyai tugas menerima, membagikan dan mempertanggungjawabkan. Yang dimaksud adalah bendahara yang mengurusi gaji pegawai, dan mengurusi uang otorisasi (UUDP). Uang otorisasi atau uang yang dipertanggungjawabkan, proses pengajuan permintaanya samapi dengan proses pengambilan gaji.

  1. Kegiatan yang mengenai pekerjaan surat-menyurat

Kegiatan yang dilakukan dalam penataan surat-menyurat dipisahkan menjadi :

Pengurusan surat masuk, pengurusan penyimpanan surat(kearsipan) dan pengurusan surat-surat keluar.

  1. Pengurusan surat-surat masuk (agenda)

a)     Mencatat nomor dan tanggal surat dalam buku agenda surat masuk yang terdiri dari kolom : tanggal diterima surat, nomor urut, kode, alamat surat, nomor surat, pokok surat atau keterangan.

b)     Menyerahakan surat kepada alamat yang dituju

c)     Surat dibaca oleh yang dituju dan diberi disposisi

d)     Surat dikembalikan kepada tata usaha untuk dibuatkan balasan (jika memang dikehendaki demikian)

e)     Tata usaha melaksanakan disposisi

f)      Tata usaha menyerahkan kembali surat tersebut kepada bagian yang mengurus surat keluar

g)     Pengarsipan surat

  1. Pengurusan surat keluar (ekspedisi)

Pengurusan surat keluar dilakukan dengan urutan :

  1. Surat yang sudah diketik diserahkan kepada kepala sekolah untuk disetujui dan dimintakan tanda tangan.
  2. Membubuhkan cap di sebelah kiri tanda tangan pimpinan.
  3. Memasukan surat yang akan dikirim kedalam sampul dan mempersiapkan surat tembusannya menurut cara pengarsipan.
  4. Mencatat surat kedalam akan dikirim kedalam buku ekspedisi.
  5. Mengirimkan surat tersebut ke alamat
  6. Pengaturan penyimpanan surat (pengarsipan)

Surat-surat yang telah selesai diproses lalu di arsipkan. Kegiatan kearsipan adalah menyimpan dan memelihara arsip tersebut dalam filing cabinet atau almari arsip agar tetap utuh dab mudah dicari kembali apabila diperlukan. Penanganan arsip yang baik menjadi  satu pertanda bahwa kantor atau lembaga itu pengelolaan usahanya baik. Arsip adalah suatu barang-barang yang berharga yang mengandung nilai kegunaan sejarah. Apabila pengarsipan dilakukan dengan baik maka warkat yang sudah lama disimpan pun akan mudah ditemukan kembali.

Cara-cara yang digunakan sebagai pedoman dalam penyimpanan arsip dilakukan :

  1. Menurut tanggal masuknya surat
  2. Manurut pokok surat
  3. Menurut daerah asal surat
  4. Menurut abjad nama pengirim surat

Untuk lebih mudah, warkat biasanya disimpan dalam adner agar bahan-bahan yang terbuat dari kertas tidak mudah rusak.

  1. Kegiatan yang menunjang manajemen sarana

Kegiatan ketatausahaan yang menyangkut administrasi sarana yang  sebenarnya sebagian besar berhubungan dengan inventarisasi. Di samping penataan inventaris, tata usaha yang lain adalah ketatausahaan mengenai perencanaan  pengadaan yang dimulai dari mendaftar alat atau sarana, menyeleksi dan mendata kebutuhan.

Selain kegiatan yang telah disebutkan yang berhubungan dengan bidang garapan administrasi sekolah, masih ada satu kegiatan lain yaitu kegiatan yang menunjang pengaturan tata ruang kantor, termasuk juga halaman dan ruang-ruang lain. Kegiatan ini kadang-kadang disatukan dengan kegiatan sarana menjadi kegiatan sarana dan prasarana.

Kegiatan terakhir ini hampir seluruhnya dikerjakan oleh  para pekerja atau pesuruh. Kegiatannya mencakup:

  1. Menjaga kebersihan ruangan, halaman dan tempat-tempat lain yang masih termasuk wilayah sekolah.
  2. Menjaga keamanan khususnya pada waktu sedang tidak berlangsung kegiatan belajar mengajar di sekolah.
  3. Mengurus kebun dan tanaman-tanaman yang ada.
  4. Mengedarkan surat edaran, pengumuman sekolah, mengurus surat ke instansi lain atau orang tua siswa
  5. Menyediakan minuman bagi pegawai dan tamu.
  6. Kegiatan yang menunjang hubungan sekolah dengan masyarakat

Dalam Manajemen hubungan sekolah dengan masyarakat ) kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat (publisitas sekolah) itu dapat dibedakan menjadi 2 yaitu internal dan eksternal. Hubungan sekolah dengan masyarakat internal yaitu meliputi unsur-unsur kepala sekolah, guru, pegawai dan siswa. Sedangkan hubungan sekolah dengan masyarakat internal itu mengutamakan hubungan sekolah dengan orang tua siswa (dewan sekolah) dan masyarakat pada umumnya. Hubungan sekolah dengan masyarakat yang mencakup hubungan sekolah dengan sekolah lain, sekolah dengan pemerintah setempat, sekolah dengan instansi lain dan sekolah dengan masyarakat pada umumnya, dan hubungannya pada umumnya merupakan hubungan kerjasama yang mendatangkan perbaikan serta kemajuan semua pihak.

Menurut kurikulum 1975 (buku IIId hal 4) kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat meliputi :

  1. Mengatur hubungan sekolah dengan orang tua siswa
  2. Memelihara hubungan baik dengan dewan sekolah
  3. Memelihara dan mengembangkan hubungan sekolah dengan lembaga-lembaga pemerintah, swasta dan organisasi sosial.
  4. Memberi pengertian pada masyarakat tentang fungsi sekolah melalui berbagai teknik komunikasi.

C. Surat  dan Kepengurusannya

  1. 1.     Jenis-jenis surat

Beberapa jenis surat yang sering beredar di dalam maupun antar instansi adalah: surat dinas, nota dinas, memorandum (memo), surat pengantar,surat kawat, surat  edaran, surat undangan, surat keputusan, instruksi, surat tugas, dan pengumunnan.

  1. Surat Dinas

Beberapa hal yang perlu diketahui sehubungan dengan surat dinas adalah sebagai berikut :

1)     Klasifikasi surat dilakukan menurut sifat dan derajat

Menurut sifatnya surat dinas dapat dibedakan atas:

a)     Surat Rahasia :yaitu sangat rahasia dan rahasia. Sangat rahasia dipakai untuk dokumen, naskahm dan surat yang berhubungan dengn keamanan nefara, yang aoabila disiarkan secara tidak sah dan jatuh ke tangan yang ridak berhak, dapat membahayakan keamanan negara.

Rahasia dipakai untuk dokumen, naskah , atau surat yang disiarkan secara tidak sah atau jatuh ke tangan yang tidak berhak dapat merugikan kepentingan, martabat pejabat atau lembaga yang bersangkutan.

b)     Surat Penting ialah surat yang isinya mengandung kepentingan mengikat, memerlukan tindak lanjut dan mengandung informasi yang diperlukan dalam waktu lama.

c)     Surat biasa ialah surat yang informasinya tidak penting, tidak memerlukan tindak lanjut.

Menurut derajat atau tingkat kesepakatan penyelesaian atau penyempaian surat dinas, maka surat dinas terdiri dari dua tingkat yaitu : sangat segera dan segera.

Sangat degera atau kilat berarti surat tersebut harus secepat itu disaijkan atau dikirim kepada pejabat yang bersangkutan.

Segera berarti bahwa surat itu harus dikirim pada waktu itu pula kepada pejabat yang bersangkutan.

2)     Susunan Surat

Susunan surat dinas terdiri dari tiga bagian:

a)     Kepala surat terdiri dari :

  1. Nama instansi
  2. Lambang instansi
  3. Tanggal, bulan, tahun
  4. Nomor surat
  5. Sifat surat
  6. Lampiran
  7. Hal
  8. Alamat

b)     Isi surat terdiri dari :

  1. Pendahuluan
  2. Isi pokok atau inti surat
  3. Penutup

c)     Kaki surat bagian terakhir dari surat terdiri dari :

  1. Nama jabatan pejabat penanda tanganan dan tanda tangannya
  2. Nama terang oenanda tangan dan di bawahnya tertulis NIP-nya
  3. Cap dinas
  4. Tembusan, dibatasi hanya kepada pejabat atau instansi yang benar-benar memerlukan dalam rangka penyelesaian masalah yang tercantum dalam surat tersebut.

d)     Penggunaan singkatan “a.n.” dan “u.b.”

  1. a.n. (atas nama) dipergunakan jika yang berwenang menandatangani surat telah mengusahakan kepada pejabat setingkat di bawahnya. Akan tetapi pada pertanggungjawabannya tetap di tangan yang memberi kuasa.
  2. u.b. (untuk beliau) dipergunakan jika yang diberi kuasa memberi kuasa lagi kepada pejabat satu tingkat di bawahnya dalam menyelesaikan masalah-masalah yang rutin tanggungjawabnya.

e)     Pemberian kode surat keluar

Pemberian kode pada surat disesuaikan dalam masalah yang terkandung dalam isi surat. Ketentuan yang kini berlaku adalah sebagai berikut:

Siswa (kode S)

S.1 : penerimaan siswa

S.2 : mutasi siswa

S.3 : absensi dan teguran

S.4 : kegiatan ekstrakurikuler

Dan sebagainya

Keuangan (kode U)

U.1 : permintaan/ penerimaan uang

U.2 : penggunaan keuangan

U.3 : laporan pertanggungjawaban keuangan

Dan sebagainya

Personalia (kode P)

P.1 : pengangkatan pegawai

P.2 : kenaikan pangkat / gaji

P.3 : mutasi pegawai

P.4 : guru tidak teta                     p

Dan sebagainya

Teknik edukatif (kode E)

E.1                 : instruksi dan pengaturan mengenai penyelenggaraan sekolah

E.2 : evaluasi belajar tahap akhir

E.3 : evaluasi belajar semesteran

E.4 : jadwal pelajaran

Dan sebagainya

SPP (kode SP)

SP.1              : penetapanSPP

SP.2              : pemungutan SPP

SP.3              : penyetoran SPP

Dan sebagainya

Sarana (kode SR)

SR.1              : gedung

SR.2              : perabot

SR.3              : mesin kantor

SR.4              : alat tulis kantor

SR.5              : alat kesenian

Dan sebagainya

Lain-lain (kode DP)

Untuk surat-surat yang tidak tercakup dalam S, P, U, E, SP, SR nomor surat diberi kode DP.

  1. Nota Dinas

Nota dinas merupakan salah satu alat komunikasi kedinasan antara pejabat atau unit organisasidi lingkungan instansi (sifatnya intern) untuk meminta penjelasan dan keputusan.

Susunan nota dinas :

1)     Kepala nota dinas terdiri dari :

Nama instansi , kata  “NOTA DINAS”, nomor, kepada, dari, hal, tanggal, bulan, tahun.

2)     Isi nota dinas: pada dasarna sama dengan surat dinas tetapi lebih singkat dan jelas.

3)     Kaki nota: terdiri dari :

Nama jabatan pejabat yang mengirim nota, disusul tanda tangannya, nama teran, dan tembusan.

  1. Memorandum

Memorandum merupakan salah satu  alat komunikasi di lingkungan instansi yang bersifat penyampaiannya tidak resmi (lugas). Isi memorandum dapat ditulis tangan atau diketik.

Susunan memo : kepala memo, isi memo, kaki memo.

  1. Surat pengantar

Surat pengantar adalah surat yang digunakan untuk mengantarkan sesuatu. Adapun bentuknya dapat berupa surat bias atau formulir.

  1. Surat kawat

Surat kawat atau telegram, merupakan berita yang disampaikan atau diterima melalui radio atau telegrafi mengenai sesuatu hal yang perlu segera mendapat penyelesaian dengan cepat. Formulir surat kawat sudah disediakan oleh PERUMTEL.

  1. Surat edaran

Surat edaran merupakan pemberitahuan tertulis yang ditujukan kepada pejabat-pejabat tertentu tanpa memuat kebijaksanaan pokok, melainkan hanya memberikan penjelasan atau petunjuk-petunjuk tentagcar pelaksanaan sesuatu peraaturan atau perintah yang telah ada.

  1. Surat undangan

Surat undangan merupakan surat pemberitahuan yang meminta agar yang bersangkutan datang pada waktu, tempat, dan acara yang telah ditentukan

  1. Surat keputusan

Surat keputusan merupakan suatu produk statuter yang memuat:

1)     Pembentukan, pengaturan, pengesahan, perubahan statuta, atau pembubaran  suatu organisasi, badan, panitia, tim, dan lain-lainnya

2)     Pelimpahan atau penyerahan wewenang tertentu kepada seorang pejabat

3)     Penunjukan, pengangkatan, dan pemberhentian pejabat/pegawai pada suatu jabatan atau pangkat, mutasi, dan lain-lainnya

4)     Penempatan hal-hal yang bersifatumum atau prinsipil dalam rangka kebijaksanaan pokok.

Susunan surat keputusan :

a)     Kepala surat keputusan

b)     Nomor

c)     Perihal (tentangkeputusan)

d)     Masa jabatan seorang pejabat yang berwenang mengeluarkan keputusan

e)     Konsideran

f)      Diktum

g)     Kaki surat keputusan

h)     Distribusi (memuat daftar alamat yang dituju, biasanya merupakan salinan surat keputusan)

  1. Instruksi

Instruksi merupakan suatu produk statuter yang berlandaskan atau bersumber pada peraturan yang lebih tinggi ata  berdasarkan kebijaksanaan pimpinan, yang berisi :

1)     Petunjuk-petunjuk secara teknis dan terperinci mengenai apa yang harus dilakukan dalam rang ka pelaksanaan suatu ketetapan.

2)     Petunjuk dan tuntunan mengenai pelaksanaan suatu ketetapan/ kebijaksanaan dalam rangka melaksanakan ketetapan/ kebijaksanaan tersebut.

  1. Surat tugas

Surat tugas merupakan surat yang berisi penugasan dari atasan yang harus dilakukan oleh staf/ bawahan dan memuat perunjuk apa yang harus dilakukan seseorang atau kelompok orang dalam bentuk satuan organisasi atau satuan kerja.

  1. Pengumuman

Pengumuman merupakan surat yangberisi pemberitahuan suatu hal yang ditujukan kepada karyawan atau masyarakat umum, ataupun dalam pihak-pihak yangterlibat dalam isi atau perihal yang dicakup dalam pengumuman tersebut.

  1. 2.     Pengurusan Surat

Dalam penyusuna surat menyurat dikenal petugas penghimpun (penerima), penyortir, pencatat, pengarah, pengolah, dan penata arsip.

a)     Penerima surat bertugas:

1)     Menerima surat

2)     Menerima jumlah dan alamat surat

3)     Memberi paraf dan nama terang pada buku ekspedisi / lembar pengantar surat

4)     Meneliti tanda-tanda kerahasiaan surat, kesesuaian isi surat, serta kesahan surat

5)     Meneruskan kepada penyortir surat

b)     Penyortir surat bertugas:

1)     Menerima surat masuk

2)     Mengelompokkan surat ke dalam kelompok surat dinas dan kelompok surat pribadi

3)     Menyortir surat berdasarkan klasifikasi surat

4)     Membuka surat dinas berdasarkan jenis surat penting dan surat biasa ; dan tidak boleh membuka surat jenis surat rahasia (tertetup) dan surat pribadi.

5)     Meneliti lampiran surat

6)     Membubuhkan tanda penerimaan pada setiap surat

7)     Menyampaikan surat yang telah terbuka atau masih tertutup kepada pencatat surat dengan melampirkan amplopnya

c)     Pencatat surat bertugas:

1)     Menerima, menghitung, dan mencatat surat yang sudah diteliti

2)     Mencatat surat tersebut pada pengantar surat, kartu kendali, lembar pengantar surat rahasia

3)     Menyampaikan surat di atas setelah dilampiri lembar pengantar dan kartu kendali kepada pengarah

d)     Pengarah bertugas :

1)     Menerima, meneliti surat yangtelah dilampiri lembaran pengantar atau kartu kendali, untuk itu serahkan dengan menunjukkan siapa pengolah surat

2)     Menyampaikan surat tersebut di atas kepada pengolah, dengan melalu petugas tata usaha sekolah

3)     Menyimpan arsip kartu kendali 1 lembar

e)     Pengolah bertugas

1)     Menerima surat, membahas sendiri atau membahas dengan memberikan disposisi pada lembar disposisi yang telah tersedia

2)     Mengembalikan surat yang telah diolah kepada pengarah melalui petugas tata usaha yang ditempatkan padany. Dalam pengembalian ini disertakan tindasan pengendalian surat dan lembar-lembar pengantar surat, sedang surat rahasia hanya lembar pengantarnya saja yang dikembalikan.

f)      Penata arsip bertugas :

1)     Menerima surat dari pengarah yang telah diolah untuk sidimpan pada alamat berklas sesuai dengan sistem klasifikasi yang berlaku.

2)     Menerima kartu kendali untuk disimpan pada tempatnya

3)     Mengirim kartu kendali lain pada pengolah sebagai bukti bahwa surat yang sudah diolah sudah disimpan di bagian arsip.

D. Ketatausahaan Yang Lain

Disamping ketatausahaan yang menyangkut pekerjaan administrasi dan surat-menyurat, masih ada beberapa adminisitrasi  yang diperlukan oleh sekolah , antara lain :

1.  Daftar Hadir Pegawai

Daftar hadir merupakan alat untuk mengetahui kerajinan atau kedisiplinan pegawai, baik edukatif ataupun administrative. Daftar hadir ini diletakan di meja  kantor guru atau ruang kepala sekolah yang harus ditandatangani oleh pegawai apabila ia masuk kerja. Dengan demikian dapat diketahui dengan pasti kerajinan pegawai. Data daftar hadir akan membantu objektivitas kepala sekolah dalam mengisi  format BP3.

2. Buku Piket

Selain buku daftar hadir, perlu juga di sekolah disediakan buku piket. Buku ini diisi oleh guru piket agar kejadian yang muncul tiap hari dapat diketahui oleh semua guru yang bekerja di sekolah itu dan terutama oleh kepala sekolah. Data yang tertulis dalam buku piket merupakan bukti otik dari semua kejadian setiap harinya.

3. Buku Notulen Rapat Sekolah

Rapat sekolah merupakan momentum penting yang tidak dapat diabaikan. Hal yang dibicarakan dalam rapat serta keputusannya harus dituliskan dalam bentuk notulen rapat. Pengisian buku notula rapat dapat dilakukan oleh guru yang ditunjuk kepala sekolah secara bergilir.

Hal-hal yang harus dicatat dalam buku notulen rapat antara lain :

  1. hari, tanggal rapat
  2. waktu dan tempat diselenggarakannya rapat
  3. daftar hadir rapat (siapa yang diundang dan siapa yang hadir, siapa yang tidak hadir, alasannya kanapa)
  4. risalah jalannya rapat
  5. keputusan rapat
  6. tanda tangan kepala sekolah dan notulis

 


 

BAB III

PENUTUP

 

A.     Kesimpulan

Tata laksana yaitu segenap proses kegiatan pengelolaan surat-menyurat yang dimulai dari menghimpun (menerima), mencatat, mengelola, menggandakan, mengirim dan menyimpan semua bahan keterangan yang diperlukan oleh organisasi.

Bagian ketatausahaan sekolah yang dimaksudkan untuk dapat mempermudah proses penyelenggaraan di sekolah. Secara terperinci kegiatan yang dibantu kemudahannya antar lain meliputi :

  1. Kegiatan yang menyangkut manajemen kurukulum
  2. Kegiatan yang menyangkut manajemen siswa
  3. Kegiatan yang menyangkut manajemen personil
  4. Kegiatan yang mengenai penataan inventaris sekolah
  5. Kegiatan yang menunjang penataan keuangan
  6. Kegiatan yang mengenai pekerjaan surat-menyurat
  7. Kegiatan yang menunjang manajemen sarana
  8. Kegiatan yang menunjang hubungan sekolah dengan masyarakat.

B.    Saran

Sebagai calon pendidik tentulah kita harus mengetahui tentang manajemen pendidikan. Karena denagn begitu tentulah akan menunjang proses belajar mengajar disekolah. Walaupun untuk tata laksana pendidikan di sekolah sudah ada yang menengani namun alangkah lebih baiknya kita tetap mempelajari agar nantinya tidak terjadi kesenjangan antara kegiatan belajar dengan urusan administratif.

Alat Peraga Konversi Satuan

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah

Hakekat Matematika dan aplikasinya menjadi salah satu tujuan pendidikan matematika. Oleh karena itu pemahaman konsep dalam pembelajaran matematika sangat diperlukan, konsep merupakan bagian dasar untuk membangun pengetahuan yang mantap karena konsep merupakan bagian dasar ilmu pengetahuan. Konsep dalam matematika adalah ide atau gagasan yang memungkinkan kita untuk mengelompokkan benda (obyek) ke dalam contoh. Akan dapat diartikan bahwa konsep matematika abstrak yang memungkinkan kita untuk mengelompokkan (mengklasifikasikan) obyek atau kejadian. Konsep dapat dipelajari definisi atau pengamatan langsung seperti melihat, mendengar, mendiskusikan, dan memikirkan tentang kebenaran contoh. Untuk menanamkan satu konsep agar pemahaman konsep dapat tercapai dengan memberikan contoh-contoh yang berhubungan dengan suatu konsep. Sebagai implikasinya, maka dalam penyampaian materi pembelajaran matematika haruslah menarik perhatian siswa, agar dapat meningkatkan rasa antusias siswa serta memberikan motivasi pada siswa. secara singkat dapat dikatakan bahwa hakekat matematika berkenaan denngan ide-ide, struktur-struktur dan hubungan-hubunganya diatur menurut urutan yang logis.

Hamzah B.Uno (2007) menyebutkan bahwa motivasi terjadi apabila seseorang mempunyai keinginan dan kemauan untuk melakukan suatu kegiatan atau tindakan dalam rangka mencapai tujuan tertentu.

Dalam proses pembelajaran matematika kreativitas siswa untuk melakukan percobaan dengan alat peraga yang disediakan oleh guru sangat diperlukan. Sehingga kreativitas tidak hanya dari guru saja tetapi siswa harus ikut dalam proses pembelajaran. Siswa yang kreatif berarti paham tentang materi yang sedang dipelajari dan mendukung peningkatan pemahaman konsep matematika siswa.

Heruman (2007) menyebutkan dalam matematika, setiap konsep yang abstrak, yang baru dipahami siswa perlu segera diberi penguatan, agar mengendap dan bertahan lama dalam memori siswa, sehingga akan melekat dalam pola pikir dan pola tindakannya. Untuk keperluan inilah, maka diperlukan adanya pembelajaran melalui perbuatan dan pengertian, tidak hanya sekedar hafalan atau mengingat fakta saja, karena hal ini akan mudah dilupakan siswa. Pepatah Cina mengatakan, “ Saya mendengar maka saya lupa, saya melihat maka saya tahu, saya berbuat maka saya mengerti”.

Sebagai masukan instrumental untuk membantu siswa dalam  memahami pengembangan konsep-konsep dan prinsip-prinsip matematika yang bersifat abstrak, maka dalam proses pembelajaran matematika diperlukan bantuan penyajian materi yang berupa benda konkrit, dimana benda ini dapat kita sebut sebagai alat peraga.

Alat peraga matematika mempunyai peranan yang sangat penting dalam memahami konsep matematika, bahkan dalam hal-hal tertentu akan menentukan keberhasilan proses belajar itu sendiri, karena dalam hal ini siswa belajar melalui hal-hal yang bersifat untuk memahami konsep yang abstrak sebagai perantara atau visualisasi.

Alat peraga matematika diperlukan bagi seorang pengajar dalam menyampaikan pelajaran matematika. Hal ini dapat dikatakan bahwa alat peraga merupakan media transfer pengetahuan dari pendidik kepada peserta didik. Disamping itu alat peraga dapat digunakan untuk menarik perhatian siswa dalam mempelajari matematika. Siswa dapat dengan cara melihat dan memperagakan secara langsung maka pembelajaran akan lebih membekas pada diri peserta didik sehingga hasil belajar yang diharapkan dapat tercapai untuk mendapatkan hasil yang sempurna.

  1. Perumusan Masalah
  1. Apakah penggunaan alat peraga dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam belajar matematika?
  2. Apakah penggunaan alat peraga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa?

 

  1. Tujuan

Berdasarkan latar belakang di atas, maka tujuan dari pembuatan alat peraga “Konversi Satuan” adalah sebagai berikut:

  1. Membantu siswa dalam memahami konsep konversi satuan
  2. Menarik minat siswa dalam belajar konversi satuan
  3. Mempertahankan daya ingat agar siswa tidak mudah lupa
  1. Manfaat

Manfaat yang diharapkan dari alat peraga ini adalah:

  1. Manfaat teoritis
    1. Sebagai pengembangan dalam pembuatan alat peraga untuk mata pelajaran matematika
  1. Manfaat praktis
  • Bagi siswa
  1. Menarik perhatian siswa dalam proses belajar
  2. Merangsang siswa agar lebih menyukai pelajaran matematika
  • Bagi guru
  1. Membantu dalam mengembangkan alat peraga yang tepat dalam mengajarkan matematika
  2. Menambah variasi dalam proses belajar mengajar

 

 

 

 

BAB II

LANDASAN TEORI

  1. Pembahasan Materi  

Berikut ini adalah satuan ukuran secara umum yang dapat dikonversi untuk berbagai keperluan sehari-hari yang disusun berdasarkan urutan dari yang terbesar hingga yang terkecil :

km  = kilo meter
hm   = hekto meter

dam = deka meter
m     = meter
dm   = desi meter
cm   = centi meter
mm  = mili meter

  1. B.     Penerapan Alat Peraga terhadap Pembelajaran Matematika

Konversi satuan ini diterapkan dalam mata pelajaran matematika pada khususnya pokok bahasan besaran. Pada tingkatan Sekolah dasar kelas 3 yang terdapat pokok bahasan satuan panjang dan berat, satuan luas pada kelas 4 dan 5, serta satuan volume pada kelas 5 dan 6 . Sebagai contoh penerapanya yaitu:

Satuan Panjang

1 m    =  = cm

5 km  = m

3 dm = cm

   Satuan Berat

3 kg    = =  ons

4 gr   = = kg

5 dg    = = mg

   Satuan Luas

1m2    = = dm2

1 ca  = 1m2  = = cm2

20 ha = 20 hm2 = =dam2 = are

Satuan Volume

1 dam3 = 1 x 1.000.000 = 1.000.000 dm3 = 1.000.000 liter

4 liter = 4 dm3 = 4 x 1.000 = 4.000cm3 = 4.000 cc

600 mm3 = 600 : 1.000.000 = 0.0006 dm3 = 0,0006 liter

BAB III

METODE PEMBUATAN ALAT PERAGA

  1. Alat dan Bahan
  1. Alat
    1. Gergaji
    2. Mesin bor
    3. Palu
    1. Bahan

a. Tripleks 1 buah

b. Cat 5 warna ( biru, merah, kuning, hijau, orange)

c. Papan  ( 1,25m x 1m )

d. Lis Alumunium 4m

e. Paku

f. Skrup / poros

  1. Estimasi Dana
  1. Tripleks 1 buah                                    Rp.  70.000,00
  2. Cat 5 warna  @ 5.000                        Rp.   25.000,00
  3. Spidol  2 buah                                     Rp.   10.000,00
  4. Papan 1m X 1,25m                            Rp.   30.000,00
  5. Lis Alumunium  4m                            Rp.   10.000,00
  6. Paku                                                    Rp.     2.000,00
  7. Skrup / poros                                       Rp.     2.000,00

Rp. 149.000,00

  1. Prosedur Pembuatan
  1. 1 buah tripleks dipotong dengan ukuran 1m x 1m sehingga berbentuk persegi
  2. 8 buah tripleks dipotong sehingga berbentuk 8 buah lingkaran dengan diameter yang berbeda.
  3. Tiap lingkaran digaris dengan 28 diameter sehingga membentuk 56 juring kecil dengan sudut yang sama.
  4. Angka – angka yang telah direncanakan ditulis pada tiap lingkaran dengan spidol.
  5. Tiap pusat lingkaran dilubangi.
  6. Empat buah lingkaran dilubangi untuk menampakkan angka – angka pada lingkaran di bawahnya.
  7. Susun lingkaran dari diameter terbesar ditempatkan di bawah hingga diameter terkecil ditempatkan di atas, kemudian direkatkan dengan tripleks persegi.
  8. Lingkaran tanpa angka diputar dan ditempatkan pada kolom satuan yang akan dicari
  9. Melihat pada masing – masing kolom dari tujuh kolom yang lain, maka dalam lubang akan terlihat konversi satuan yang diinginkan.
  1. Cara Penggunaan

BAB IV

PENUTUP

  1. A.    Kesimpulan

Dari uraian di depan, dapat ditarik kesimpulan bahwa penggunaan alat peraga “Konversi Satuan”  dalam pembelajaran konversi satuan baik satuan panjang, satuan berat, satuan luas maupun satuan volume sangat dibutuhkan.

Selain untuk menarik perhatian siswa, juga untuk mempermudah guru dalam menerangkan materi tersebut.

  1. B.     Saran

Dalam pembelajaran Konversi Satuan, kami menyarankan kepada guru agar menggunakan alat peraga supaya siswa tertarik untuk belajar matematika. Di samping itu, siswa tidak jenuh dalam mengikuti pembelajaran dan membantu guru dalam memahamkan siswa.

DAFTAR PUSTAKA

 

B. Uno, Hamzah. 2007. Teori Motivasi dan Pengukurannya. Jakarta: Bumi Aksara.

Heruman. 2007. Model Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar. Bandung:  PT Remaja Rosdakarya

Khafid, M. dan Suyati. 2007. Pelajaran Matematika untuk SD kelas 4. Jakarta: Erlangga.

Tim Bina Karya Guru. 2006. Terampil Berhitung Matematika untuk SD kelas 5. Jakarta: Erlangga.

PENINGKATAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA ARITMATIKA SOSIAL DENGAN MENGGUNAKAN STRATEGI DEEP DIALOGUE

A.    PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang Masalah

Salah satu tujuan nasional negara Indonesia yang dirumuskan dalam pembukaan UUD’45 adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Salah satu upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa adalah dengan pendidikan. Pendidikan adalah aktifitas pembelajaran yang ditandai dalam bentuk interaksi edukatif dengan menempatkan peserta didik sebagai subjek pendidikan, masih juga pendidikan dipersyaratkan untuk penunaian yang mengarah pada upaya memberi arah dan watak pada peserta didik (Jumali dkk, 2008: 18)

Dalam proses belajar mengajar yang sedang berlangsung di kelas hendaknya mampu menarik perhatian siswa terhadap materi yang sedang dipelajari. Guru sebagai pendidik mempunyai tugas untuk mendorong, membimbing, dan memberikan fasilitas belajar yang optimal. Namun demikian dalam proses pendidikan tidak semua tanggung jawab dibebankan kepada pendidik, untuk dapat mencapai tujuan pendidikan yang lebih efektif diperlukan suatu peran yang mendukung dari peserta didik juga.

Motivasi sangat besar peranannya dalam proses belajar mengajar untuk meningkatkan hasil belajar matematika. Dengan adanya motivasi dapat menumbuhkan minat untuk belajar sehingga dapat meningkatkan hasil belajar. Siswa yang memiliki motivasi yang kuat akan mempunyai keinginan untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Sehingga boleh jadi siswa yang memiliki tingkat intelegensi yang cukup tinggi menjadi gagal karena kurangnya motivasi. Sebab hasil belajar akan optimal bila terdapat motivasi yang tepat. Oleh sebab itu bila siswa mengalami kegagalan dalam belajar halitu bukan semata-mata karena kesalahan siswa, tetapi mungkin juga karena guru tidak berhasil dalam membangkitkan motivasi belajar.

Berikut gambaran sekilas keadaan siswa dalam pembelajaran matematika adalah sebagai berikut: (1) di ruang kelas siswa relatif tenang mendengarkan guru mengajar, (2) siswa sibuk mencatat, (3) tidak ada keberanian siswa dalam mengajukan pertanyaan, (4) siswa cenderung takut dan enggan menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru.

Berdasarkan informasi di atas dapat ditunjukkan bahwa motivasi belajar matematika siswa masih sangat memprihatinkan. Hal ini disebabkan beberapa faktor yang mempengaruhi motivasi belajar antara lain: cita-cita atau aspirasi siswa, kemampuan siswa, kondisi siswa, kondisi lingkungan siswa, dan unsur-unsur dinamis dalam belajar dan pembelajaran (Dimyati dan Mudjiono, 1999).

Cita-cita atau aspirasi siswa merupakan segi manipulasi kemandirian, keinginan yang tidak terpuaskan dapat memperbesar kemauan dan semangat belajar, dari segi pembelajaran penguatan dengan hadiah atau hukuman akan dapat mengubah keinginan menjadi kemauan dan kemauan menjadi cita-cita. Cita-cita dapat berlangsung dalam waktu sangat lama bahkan sampai sepanjang hayat. Cita-cita seseorang akan memperkuat semangat belajar dan mengarahkan perilaku belajar.

Kemampuan siswa merupakan keinginan siswa yang perlu diikuti dengan kemampuan atau kecakapan untuk mencapainya. Kemampuan akan memperkuat motivasi siswa untuk melakukan tugas-tugas perkembangannya. Faktor kondisi siswa meliputi kondisi jasmani dan rohani. Seorang siswa yang sedang sakit, lapar, lelah atau marah akan mengganggu perhatiannya dalam belajar.

Faktor kondisi lingkungan siswa dapat berupa keadaan alam, lingkungan tempat tinggal, pergaulan sebaya dan kehidupan kemasyarakatan. Sebagai anggota masyarakat, maka siswa dapat terpengaruh oleh lingkungan sekitar. Unsur-unsur dinamis dalam belajar dan pembelajaran siswa memiliki perasaan, kemauan, ingatan, dan pikiran yang mengalami perubahan karena pengalaman hidup. Pengalaman dengan teman sebaya berpengaruh pada motivasi dan perilaku belajar. Lingkungan alam, tempat tinggal dan pergaulan juga mengalami perubahan. Lingkungan budaya seperti surat kabar, majalah, radio, televisi semakin menjangkau siswa akan dapat meningkatkan motivasi belajar.

Dari sekian faktor tersebut faktor yang paling dominan adalah kemampuan siswa. Karena kurangnya kemampuan siswa dalam berkomunasi yang efektif selama proses pembelajaran akan mempersulit guru dalam mengidentifikasi permasalahan-permasalahan yang terjadi dalam proses pembelajaran. Hal ini akan sangat mempengaruhi motivasi belajar siswa, khususnya dalam pembelajaran matematika, dan selanjutnya akan mempengaruhi hasil belajar siswa.

Permasalahan komunikasi di atas pada dasarnya berhubungan erat dengan masalah dialog. Proses belajar mengajar adalah proses dialog, secara sederhana dialog merupakan percakapan antara orang-orang. Dan melalui dialog tersebut dua kelompok masyarakat atau lebih yang memiliki pandangan beerbeda-beda bertukar ide, informasi dan pengalaman. Komunikasi yang interaktif, efektif dan penuh dengan keterbukaan akan memunculkan suasana yang lebih demokratis dan nyaman dalam proses pembelajaran. Sehingga dengan dialog yang mendalam pendidik dan peserta didik akan jauh lebih mudah dalam mengidentifikasi kesulitan-kesulitan serta dapat mencari solusi yang tepat.

Suasana yang demokratis tersebut juga akan lebih memudahkan guru dalam menentukan strategi yang akan digunakan dalam proses belajar mengajar. Pembelajaran yang menekankan proses dialog adalah dengan menggunakan pendekatan Deep Dialogue (Dialog Mendalam).

Berdasarkan uraian di atas, maka akan diadakan peneltian mengenai  “PENINGKATAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA ARITMATIKA SOSIAL DENGAN MENGGUNAKAN STRATEGI DEEP DIALOGUE”.

2.      Rumusan Masalah

  1. Apakah dengan strategi Deep Dialogue dapat meningkatkan motivasi siswa pada Aritmatika Sosial dalam pembelajaran matematika?
  2. Apakah dengan strategi Deep Dialogue dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada Aritmatika Sosial dalam pembelajaran matematika?

3.      Tujuan Penelitian

Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mendiskripsikan proses pembelajaran melalui strategi Deep Dialogue yang dilakukan oleh guru kelas.

Secara khusus tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Untuk mendiskripsikan peningkatan motivasi belajar siswa pada Arimatika Sosial dalam pembelajaran matematika melalui strategi Deep Dialogue.
  2. Untuk mendiskripsikan peningkatan hasil belajar siswa pada Arimatika Sosial dalam pembelajaran matematika melalui strategi Deep Dialogue.

4.      Manfaat Penelitian

Manfaat Teoritis

Secara teoritis penelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbangan terhadap pembelajaran matematika untuk dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa, utamanya pada bahasan Aritmatika Sosial.

Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan solusi nyata berupa langkah-langkah untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar pada Aritmatika Sosial dalam pembelajaran matematika melalui strategi Deep Dialogue. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan manfaat bagi siswa, guru, dan sekolah.

1)        Bagi Siswa

Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar dan memberikan informasi tentang pentingnya motivasi dalam pembelajaran matematika.

2)        Bagi Guru

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai masukan dan dasar pemikiran guru dan calon guru untuk dapat memilih metode pengajaran yang tepat.

3)        Bagi sekolah

Hasil penelitian ini memberikan sumbangan yang baik dalam rangka perbaikan pembelajaran matematika, peningkatan mutu sekolah, dan meningkatkan profesionalisme guru

5. Definisi Istilah

a.         Motivasi Belajar Matematika

Motivasi adalah kondisi psikologis yang merupakan kekuatan untuk mendorong seseorang melakukan suatu tujuan tertentu yang ingin dicapai untuk memperoleh hasil yang diinginkan atau yang diciptakan. Dalam proses belajar mengajar motivasi merupakan hal yang penting karena dengan adanya motivasi belajar pada siswa berarti ada dorongan untuk belajar.

b.        Hasil Belajar Matematika

Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melakukan kegiatan belajar (Abdurrahman, 1999). Hasil belajar merupakan pencapaian bentuk perubahan perilaku yang cenderung menetap dari ranah kognitif, afektif, dan psikomotoris dari proses belajar yang dilakukan dalam waktu tertentu.

c.         Strategi Deep Dialogue

Deep Dalogue (dialog mendalam) dapat diartikan sebagai percakapan antara orang-orang (dialog) yang harus diwujudkan dalam hubungan yang interpersonal, saling keterbukaan, jujur, dan mengandalkan kebaikan (GDI, 2001).

Beberapa prinsip yang harus dikembangkan dalam Deep Dialogue antara lain adalah: adanya komunikasi dua arah dan prinsip saling memberi yang terbaik, menjallin hubungan kesederajatan dan keberadaban serta empatisitas yang tinggi dari setiap pelakunya. Dengan demiikian Deep Dialogue mengandung nilai-nilai demokratis dan etis.

B.     TINJAUAN PUSTAKA

  1.   Kajian Teori

a.      Hakikat Belajar

Menurut Slameto (2003: 2) “belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”.

Sedangkan menurut para pedagog dan psikolog dalam Burhanudin Salam (2004: 15) menyatakan bahwa belajar adalah proses perubahan perilaku. Perilaku yang mengandung arti luas, meliputi pengetahuan kemampuan berpikir, skill atau ketrampilan, penghargaan terhadap suatu sikap, minat dan semacamnya.

Jadi belajar adalah suatu proses usaha untuk melakukan perubahan tingkah laku, bai tingkah laku berupa kemampuan berpikir, ketrampilan sebagai hasil pengalaman sendiri dalam interaksi dengan lingkungan.

b.      Hakikat Matematika

Johnson dan Myklebust dalam Mulyono Abdurrahman (2003: 252) menyatakan bahwa Matematika adalah bahasa simbolis yang fungsi praktiknya untuk mengekspreksikan hubungan-hubungan kuantitatif dan keruangan sedangkan fungsi teoritisnya adalah untuk memudahkan berpikir.

Menurut Paling dalam Mulyono Abdurrahman (2003: 252) ide manusia tentang matematika berbeda-beda, tergantung pada pengalaman dan pengetahuan masing-masing. Ia mengemukakan bahwa matematika adalah suatu cara untuk menemukan jawaban terhadap masalah yang dihadapi manusia, suatu cara menggunakan infrasi, menggunakan pengetahuan tentang bentuk dan ukuran, menggunakan pengetahuan mengitung dan  yang paling penting adalah memikirkan dalam diri manusia sendiri dalam melihat dan menggunakan hubungan-hubungan.

Sedangkan menurut Hamzah (2007: 129) menyatakan bahwa matematika adalah sebagai suatu bidang ilmu yang merupakan alat pikir berkomunikasi, alat untuk memecakan berbagai persoalan praktis, yang unsur-unsurnya logika dan intuisi, analisis dan kontruksi, generalitas dan individualitas.

Dapat disimpulkan bahwa matematika adalah ilmu yang mendasari berbagai ilmu pengetahuan lain dalam bentuk bahasa simbol-simbol untuk menemukan suatu jawaban terhadap permasalahan yang dihadapi manusia baik berupa informasi ataupun pengetahuan tentang bentuk dan ukuran.

c.       Motivasi Belajar

Kata “motif” diartikan sebagai daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motif dapat dikatakan sebagai daya penggerak dari dalam dan di dalam subyek untuk melakukan aktifitas-aktifitas tertentu demi mencapai suatu tujuan (Sardiman, 2001: 71).

Berawal dari kata motif itu maka motivasi dapat diartikan sebagai serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu sehingga seseorang itu mau dan ingin melakukan sesuatu, dan bila tidak suka maka akan berusaha untuk meniadakan perasaan tidak suka itu (Sardiman A. M, 1996: 75).

Beberapa ahli psikologi mengungkapkan bahwa motivasi seseorang dapat muncul dari dua sumber, yaitu dari dalam diri dan dari luar diri siswa. Oemar Hamalik (2008: 158-159) menyatakan bahwa “motivasi adalah perubahan dalam diri (pribadi) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan”. Dan terdapat tida unsure yang saling berkaitan yaitu: (1) motivasi dimulai dari adanya perubahan energi dalam pribadi, (2) motivasi ditandai dengan timbulnya perasaan affective arousal, dan (3) motivasi ditandai dengan reaksi-reaksi untuk mencapai tujuan.

Motivasi selalu berkaitan dengan suatu tujuan, dengan demikian motivasi akan mempengaruhi setiap adanya kegiatan termasuk dalam kegiatan belajar, Sadirman (2001: 83) telah mengemukakan ada beberapa fungsi motivasi, antara lain:

1)      Mendorong manusia untuk sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi, motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari kegiatan yang akan dikerjakan.

2)      Menentukan arah kegiatan yakni ke arah tujuan yang hendak dicapai, dengan demikian motivasi dapat menberikan arah kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dnegan rumusan tjuan.

3)      Menyeleksi perbuatan yakni mementukan perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan dengan menyisihkan perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan.

Indikator dari motivasi menurut Hamzah B. Uno (2006: 31) yaitu sebagai berikut:

1)         Adanya hasrat dan keinginan berhasil,

2)         Adanya dorongan dan kebutuhan dalam beajar,

3)         Adanya harapan dan cita-cita masa depan,

4)         Adanya penghargaan dalam belajar,

5)         Adanya kegiatan yang menarik dalam belajar,

6)         Adanya lingkungan belajar yang kondusif sehingga memungkinkan seorang siswa dapat belajar dengan baik.

Dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah kondisi psikologis yang merupakan kekuatan untuk mendorong seseorang melakukan suatu tujuan tertentu yang ingin dicapai untuk memperoleh hasil yang diinginkan atau yang diciptakan. Dalam proses belajar mengajar motivasi merupakan hal yang penting karena dengan adanya motivasi belajar pada siswa berarti ada dorongan untuk belajar.

d.      Hasil Belajar

Menurut Winkel dalam Purwanto (2009: 45) hasil belajar adalah perubahan yang mengakibatkan manusia berubah dalam sikap dan tingkah lakunya. Aspek perubahan itu mengacu kepada taksonomi tujuan pengajaran yang dikembangkan oleh Bloom Simpson dan Harrrow mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Sedangkan menurut Nana Sudjana (2006: 22) hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya.

Jadi dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui proses pembelajaran baik kemampuan kognitif, afektif maupun psikomotorik.

e.       Hakikat Pembelajaran

Pembelajaran menurut Hamalik (2007:57) pembelajaran ialah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi pencapaian tujuan pembelajaran.

Menurut Piaget dalam Dimyati dan Mudjiono (2006: 14-15), pembelajaran terdiri dari empat langkah yaitu:

1)      Menentukan topik yang dapat dipelajari oleh siswa sendiri.

2)      Memahami dan mengembangkan aktivitas khusus dengan topik tersebut.

3)      Mengetahui adanya kesempatan bagi guru untuk mengemukakan pertanyaan yang menunjukkan proses pemecahan masalah.

4)      Memiliki pelaksanaan terhadap kegiatan, memperhatikan kebersamaan dan melakukan revisi.

Menurut Sagala (2006: 61-62) pembelajaran mengandung arti setiap kegiatan yang dirancang untuk membantu seseorang mempelajari suatu kemampuan dan atau nilai yang baru. Proses pembelajaran pada awalnya meminta guru untuk mengetahui kemampuan dasar ang dimiliki oleh siswa meliputi kemampuan dasarnya, motivasinya, latar belakang akademisnya, latar belakang sosial ekonominya, dan lain sebagainya. Kesiapan guru untuk mengenal karakteristik siswa dalam pembelajaran merupakan modal utama penyampaian bahan belajar dan menjadi indikator suksesnya pelaksanaan pembelajaran.

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah setiap kegiatan yang dirancang oleh guru untuk membantu seorang peserta didik mempelajari suatu kemampuan dan atau nilai baru dalam suatu proses yang sistematis melalui tahapan rancangan, pelaksanaan dan evaluasi dalam konteks kegiatan belajar mengajar.

f.       Strategi Deep Dialogue

Deep Dialogue (dialog mendalam) dapat diartikan sebagai percakapan antara orang-orang (dialog) yang harus diwujudkan dalam hubungan yang interpersonal, saling keterbukaan, jujur dan mengandalkan kebaikan (GDI, 2001). Beberapa prinsip yang harus dikembangkan dalam Deep Dialogue, antara lain adalah: adanya komunikasi dua arah dan prinsip saling memberi yang terbaik, menjalin hubungan kesederajatan dan keberadaban serta empatisitas yang tinggi dari setiap pelakunya.

Fokus kajian pendekatan Deep Dialogue dalam pembelajaran dikonsentrasikan dalam mendapatkan pengetahuan dan pengalaman, melalui dialog secara mendalam tidak saja menekankan keaktifan peserta didik pada aspek fisik, akan tetapi jga aspek intelektual, sosial, mental, emosional dan spiritual. Peserta didik yang telah belajar di kelas  yang menggunakan pendekatan Deep Dialogue diharapkan akan memiliki perkembangan koqnisi dan psikososial yang lebih baik dan meningkatkan pemahaman terhadap dirinya dan orang lain dengan adanya perbedaan pendapat.

Agar Deep Dialogue dapat diimplementasikan dalam pembelajaran perlu diperhatikan kaidah-kaidah deep dialogue sebagai berikut: Pertama, keterbukaan, merupakan langkah awal untuk melakukan dialog mendalam induvidu harus membuka diri terhadap mitra dialog, karena sifat terbuka dalam diri akan membuka peluang untuk belajar, mengubah dan mengembangkan persepsi. Kedua, kejujuran, bersikap jujur dan penuh kepercayaan diperlukan dalam deep dialogue, karena dialog hanya akan bermanfaat jika pihak-pihak yang melakukan bersikap jujur dan tulus.

Ketiga, kerjasama, untuk menanamkan kepercayaan antara personal, langkah awal yang perlu dilakukan adalah dengan menyamakan persepsi dengan cara bekerjasama dengan orang lain. Keempat, setiap personal harus mampu menjunjung nilai-nilai moral, deep dialogue terjadi apabila masing-masing pihak yang berdialog mampu menjunjung tinggi nilai-nilai moral etis atau santun, saling menghargai, demokratis dengan memperlakukan mitra dialog sedemikian rupa sehingga berketetapan hati untuk berdialog. Kelima, saling mengakui keunggulan, deep dialogue akan terjadi apabila masing-masing pihak menghadirkan hati. Keenam, membangun empati dengan tetap menjaga integritas diri mitra dialog.

Kelebihan dari pembelajaran deep dialogue adalah semua peserta didik berkesempatan untuk mengemukakan pendapatnya sehingga pembelajaran menjadi aktif, sedangkan kelemahan nya adalah suasana kelas menjadi gaduh apabila guru tidak dapat mengendalikan  proses diskusi.

Langkah-langkah penerapan pembelajaran deep dialogue adalah sebagai berikut

1)      Kegiatan awal

Dalam setiap mengawali pembelajaran dimulai dengan salam, tujuan pembelajaran, kompetensi yang akan dicapai, kemudian menggunakan elemen dinamika kelompok untuk membangun komunitas.

2)      Kegiatan inti

Guru melaksanakan kegiatan dengan menggali informasi dengan menperbanyak brain storming dan diskusi dengan melemparkan pertanyaan komplek untuk menciptakan kondisi diaog mendalam dan berpikir kritis. Kemudian dilakukan cooperative learning untuk memecahkan masalah yang diberikan oleh guru.

3)      Kegiatan Akhir

Tahapan ini dengan mengambil simpulan dari semua yang dibelajarkan, sekaligus memberikan penghargaan atas segala aktivitas dari peserta didik, kemudian membuat refleksi.

g.      Aritmatika Sosial

Dalam kegiatan perdagangan terdapat penjual dan pembeli. Ilustrasi perdagangan sebagai berikut Penjual menyerahkan barang kepada pembeli sebagai ganti uang yang diterimanya, sedangkan pembeli menyerahkan uang sebagai ganti barang yang diterimanya.

Dalam kegiatan perdagangan kita akan mengenal harga beli, harga jual, laba, rugi dan juga persentasenya. Selain itu kita juga akan menghitung nilai rabat dan netto.

1)      Harga Jual, Harga Beli, Laba, dan Rugi

Laba = Harga Jual  – Harga Beli

Rugi = Harga Beli – Harga Jual

Seorang pedagang jika memperoleh harga jual lebih besar dari harga beli maka dikatakan pedagang tersebut mengalami laba (untung), sebaliknya jika harga jual yang diterima lebih kecil dari harga beli maka pedagang tersebut mengalami kerugian.

3)      Rabat dan Netto

Rabat disebut juga potongan harga/diskon

Netto berkaitan dengan bruto dan tara.

Netto = Bruto – Tara

Netto adalah berat bersih, tara adalah potongan berat dan Brutto adalah berat kotor.

Jadi:

2.      Kajian Pustaka

Terdapat beberapa penelitian yang dilakukan dalam rangka peningkatan kualitas belajar menggunakan berbagai strategi dalam beberapa mata pelajaran. Adapun penelitian pembelajaran tersebut antara lain:

Purwati (2006) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa pembelajaran dengan pendekatan Humanitis dapat meningkatkan motivasi dan prestasi belajar matematika.

Ida Kartika Sari (2011) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa pendekatan deep dialogue dapat meningkatkan motivasi belajar sehinga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada pembelajaran IPA.

Muhammad Noor Kholid (2009) menyimpulkan bahwa penerapan metode Quantum Teaching dapat meningkatkan motivasi dan prestasi belajar matematika.

Effandi Zakaria and Norazah Mohd Nordin (2008) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa ada pengaruh motivasi belajar pada pembelajaran matriks.

3.      Kerangka Berpikir

Motivasi belajar merupakan daya penggerak bagi siswa untuk belajar dan daya ini timbul melalui dua faktor, yaitu factor intrinsik dan ekstrinsik. Kedua factor ini saling mendukung satu dengan yang lainnya dalam mempengaruhi tercapainya tujuan belajar. Dengan adanya motivasi belajar yang baik diharapkan siswa dapat memiliki minat dan keinginan untuk selalu memperhaitkan penjelasan guru dari guru, mengikuti proses pembelajaran dengan baik dan mengerjakan soal-soal latihan yang diberikan oleh guru.

Dalam upaya peningkatan motivasi belajar siswa dibutuhkan suatu dialog yang mendalam antara guru dengan siswa. Suatu dialog yang baik dapat terjalin apabila ada sikap keterbukaan, saling toleransi, menghargai dan saling percaya. Pendekatan deep dialogue adalah pembelajaran dengan menggunakan penekanan pada proses dialog yang terjalin antara guru dengan siswa. Penelitian ini dilaksanakan untuk megetahui perubahan yang mungkin terjadi setelah diterapkannya pembelajaran dengan strategi deep dialogue.

4.      Hipotesis Tindakan

Berdasarkan tinjauan pustaka dan kerangka pemikiran tersebut di atas, maka dapat dirumuskan hipotesis tindakan sebagai berikut.

  1. Penggunaan strategi pembelajaran deep dialogue dapat meningkatkan motivasi belajar matematika pada Aritmatika Sosial.
  2. Penggunaan strategi pembelajaran deep dialogue dapat meningkatkan hasil belajar matematika pada Aritmatika Sosial.

C. METODE PENELITIAN

Metode penelitian adalah cara-cara atau langkah-langkah yang akan dilakukan dalam penelitian untuk mendapatkan kebenaran yang representatif dan mengarah pada tujuan harus memiliki prosedur secara tepat. Memilih prosedur penelitian yang tepat merupakan bagian yang ikut menentukan tingkat kebenaran hasil penelitian.

Uraian mengenai pertanggungjawaban metode-metode yang digunakan melibatkan pembahasan mengenai: jenis penelitian, tempat dan waktu penelitian, subyek penelitian, rancangan penelitian, metode pengumpulan data, instrumen penelitian, teknik analisis data, dan keabsahan data.

1.      Jenis dan Desain Penelitian

Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom Action Research (CAR) yang dilakukan secara kolaborasi antara kepala sekolah, guru matematika dan peneliti. Menurut Aqib (2009: 19) penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di kelas atau di sekolah tempat ia mengajar dengan penekanan pada penyempurnaan atau peningkatan proses dan praktik pembelajaran.

Penelitian tindakan ditandai dengan adanya perbaikan terus menerus sehingga tercapainya sasaran dari penelitian tersebut. Perbaikan tersebut dilakukan pada setiap siklus yang dirancang oleh peneliti. PTK bercirikan perbaikan terus menerus sehingga kepuasan peneliti menjadi tolak ukur berhasil tidak nya siklus-siklus tersebut.

2.      Setting Penelitian

  1. Tempat Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan di SMP Negeri 1 Cawas. Penelitian di tempat ini didasarkan atas pertimbangan bahwa sekolah tersebut  memiliki jumlah siswa yang representatif untuk diteliti. Selain itu lokasi mudah dijangkau peneliti sehingga lebih efisien dalam mendapatkan data. Sekolah ini termasuk sekolah favorit di lingkungan cawas, hal ini ditunjukkan dari kualitas yang cukup baik dan banyak siswa baru yang terus bertambah dari tahun ke tahun.

2.  Waktu Penelitian

Penelitian ini direncanakan akan dilaksanakan pada tahun ajaran 2011/2012. Adapun rincian waktu penelitian sebagai berikut.

1)      Tahap Perencanaan: minggu ke III bulan Agustus 2011 sampai minggu ke III bulan September 2011.

2)      Tahap Pelaksanaan: minggu ke IV bulan September 2011 sampai minggu ke IV bulan Oktober 2011.

3)      Tahap Analisis data: minggu ke I bulan November 2011 sampai minggu ke IV bulan November 2011.

4)      Tahap Pelaporan: minggu ke I bulan Desember 2011 sampai minggu ke IV bulan Desember 2011.

3.      Subyek Penelitian

Dalam penelitian ini guru kelas bertindak sebagai subyek yang memberi tindakan kelas. Siswa kelas VII F SMP Negeri 1 Cawas yang terdiri dari 40 siswa sebagai subyek yang menerima tindakan. Peneliti dibantu mitra guru matematika sebagai observer.

4. Perencanaan Tindakan
  1. Dialog Awal

Suatu pertemuan antara peneliti dan guru matematika bersama-sama melakukan pengenalan, penyatuan ide, dan berdiskusi membahas masalah dan cara-cara peningkatan motivasi dan hasil belajarsiswa yang terfokus pada interaksi siswa dan guru. Membuat kesepakatan untuk memecahkan masalah peningkatan motivasi dan hasil belajar melalui strategi deep dialogue.

  1. Perencanaan Tindakan Kelas

Hasil dari dialog awal yang telah diputuskan dan disepakati bersama diharapkan membawa kesadaran pentingnya peningkatan motivasi dan hasil belajar siswa di SMP N 1 Cawas, selanjutnya disusun langkah-langkah pesiapan tindakan yang terdiri.

1)      Memperbaiki kompetensi material guru dalam bidang matematika.

2)      Identifikasi masalah dan penyebabnya.

3)      Perencanaan solusi masalah.

  1. Pelaksanaan Tindakan

Tindakan dilaksanakan berdasarkan perencanaan, namun tindakan tidak mutlak dikendalikan oleh rencana. Rencana tindakan harus bersifat sementara, fleksibel dan siap diubah sesuai dengan keadaan yang ada sebagai upaya perbakan.

  1. Observasi dan Monitoring

Observasi dan monitoring dilakukan dengan mengamati atas hasil atau dampak dari tindakan yang dilaksanakan atau dikenakan terhadap siswa. Pada waktu observasi dilakukan, observer mengamati proses pembelajaran dan menyimpulkan  data mengenai segala sesuatu yang terjadi saat proses pembelajaran.

  1. Refleksi

Refleksi adalah mengingat dan merenungkan kembali suatu tindakan seperti yang telah dicatat oleh observer.

  1. Evaluasi

Evaluasi hasil penelitian dilakukan untuk mengkaji hasil perencanaan,observasi, dan refleksi penelitian pada setiap pelaksanaan penelitian.

  1. Penyimpulan

Penyimpulan merupakan pengambilan intisari dari sajian data yang telah terorganisir dalam bentuk pernyataan atau kalimat yang singkat, pada, dan bermana. Hasil dari penelitian tersebut berupa peningkatan motivasi dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika.

5.      Metode Pengumpulan Data

Penelitian tindakan kelas dilakukan bersifat deskriptif kualitatif. Sumber data primer adalah peneliti yang melakukan tindaka dan siswa yang menerima tindakan, sedangkan data sekunder berupa data dokumentasi. Pengambilan data dapat dilakukan dengan teknik observasi, tes, dan dokumentasi.

  1. Observasi

Dalam penelitian ini, observasi digunakan untuk mengetahui adanya perubahan tingkah laku tindakan belajar siswa yaitu peningkatan motivasi da hasil belajarmatematika melalui strategi pembelajaran deep dialogue. Peneliti melakukan observasi sesuai dengan pedoman observasi yang ditetapkan.

  1. Tes

Suharsini Arikunto (2002: 127) menyatakan “Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan inteligensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu dan kelompok”. Tes yang digunakan dalam penelitian untuk mengukur hasil belajar matematika siswa VII.

  1. Dokumentasi

Dokumentasi dalam penelitian ini adalah berupa RPP, buku-buku, buku presensi, dan lain-lain. Dokumentasi digunakan untuk memperoleh data sekolah, nama siswa, dan foto proses tindakan penelitian.

6.      Instrumen Penelitian

  1. Penyusunan Instrumen

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini antara lain lembar observasi, catatan lapangan, dokumentasi dan tes. Tes berupa tes obyektif dan tes essay.

2. Validitas Instrumen

Pengujian validitas instrumen menggunakan teknik triangulasi. Teknik triangulasi dalam pengujian instrumen dilakukan dengan tiga cara yaitu triangulasi sumber, triangulasi teknik, dan triangulasi waktu.

7.      Teknik Analisis Data

Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode alur. Dimana langkah-langkah yang harus dilalui dalam metode alur meliputi pengumpulan data, penyajian data, dan verifikasi data.

  1. Proses Analisis Data

Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber. Setelah dikaji kemudian membuat rangkuman untuk setiap pertemuan atau tindakan di kelas.

  1. Penyajian Data

Pada langkah penelitian ini, peneliti berusaha menyusun data yang relevan sehingga dapat menjadi informasi yang dapat disimpulkan dan memiliki makna tertentu. Dengan cara menampilkan data dan membuat hubungan antara variable, peneliti mengerti apa yang terjadi dan apa yang perlu ditindaklanjuti untuk mencapai tujuan penelitian.

  1. Verifikasi Data

Verifikasi data atau penarikan kesimplan dilakukan secara bertahap untuk memperoleh derajat kepercayaan tinggi. Dengan demikian analisis data dalam penelitia ini dilakukan sejak tindakan dilaksanakan. Verifikasi data dilakukan pada setiap tindakan yang pada akhirnya dipadkan menjadi kesimpulan.

8.      Keabsahan Data

Keabsahan data menurut Sukmadinata (2005: 104) dapat dilakukan melalui observasi secara terus menerus, triangulasi sumber, metode, dan peneliti lain, pengecekan anggota, diskusi teman sejawat, dan pengecekan referensi. Dalam penelitian ini, keabsahan data dilakkan dengan observasi secara terus menerus dan triangulasi data.

Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Dalam penelitian ini, keabsahan dilakukan dengan triangulasi sumber, yaitu membandingkan data hasil pengamatan tes dengan hasil observasi lain.

D.    DAFTAR PUSTAKA

Hamalik Oemar. 2008. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.

Kartika Sari,  Ida. 2011. Upaya Peningkatan Motivasi belajar Siswa pada Mata Pelajaran IPA Menggunakan Stategi Deep Dialogue Kelas IV SDN Kleco 2 Surakarta 2011. skripsi, Surakarta: UMS (Tidak Dipublikasikan)

Noor Kholid, Muhammad. 2009. Penerapan Metode Quantum Teaching Sebagai Upaya Peningkatan Motivasi dan Prestasi Belajar Matematika pada Bangun Datar Lingkaran Siswa Kelas VII di SMPN 3 Kartasura Tahun Ajar 2009/2010. Skripsi, Surakarta: UMS (Tidak Dipublikasikan)

Pratiwi Budiarti, Gadis. 2009. Peningkatan Motivasi Belajar Siswa dengan Pendekatan Problem Possing Berbasis Portofolio. Skripsi, Surakarta: UMS (Tidak Dipublikasikan)

Purwati. 2006. Peningkatan Motivasi Belajar Siswa dalam Pembelajaran Matematika Pokok Bahasan Pecahan melalui Pendekatan Humanistis. Skripsi, Surakarta: UMS (Tidak Dipublikasikan)

Slameto. 2003. Belajar dan Faktor – Faktor Yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.

Sudjana Nana. 2006. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sutama. 2011. Penelitian Tindakan Teori dan Praktek dalam PTK, PTS, dan PTBK. Semarang: Citra Mandiri Utama.

Uno B. Hamzah. 2006. Teori Motivasi & Pengukurannya: Analisis dalam Bidang Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Zakaria, Effandi and Norazah Mohd Nordin. 2008. The Effects of Mathematics Anxiety on Matriculation Students as Related to Motivation and Achievement. Eurasia Journal Mathematics, Science & Technology Education. Vol 4 No 1.

ANALISIS ARTIKEL MATHEMATICS TEACHERS’ PREPARATION PROGRAM: DETERMINING THE BALANCE BETWEEN CONTENTS IN MATHEMATICS AND PEDAGOGI

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Matematika sebagai cabang ilmu pengetahuan yang memegang peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Matematika mulai di perkenalkan pada siswa sejak mengenyam pendidikan di Taman Kanak – Kanak sampai pada tingkat Perguruan Tinggi. Hal itu disebabkan karena Matematika berfungsi sebagai ilmu dasar untuk mempelajari ilmu – ilmu yang lain.
Akan tetapi, pada kenyataannya menunjukkan bahwa kondisi pengajaran Matematika memang belum sempurna seperti yang diharapkan yaitu ditandai dengan rendahnya prestasi belajar siswa pada pelajaran Matematika yang masih relatif sangat rendah bila dibanding dengan mata pelajaran yang lainnya.
Untuk mengatasi masalah tersebut, maka dari pihak guru dan siswa harus melakukan perbaikan. Dari pihak siswa dapat merubah cara belajarnya, meningkatkan minat dan motivasi belajarnya, dsb. Adapun dari pihak guru dapat mengubah metode mengajar, kurikulum, kesesuaian bahan ajar, serta peningkatan kualitas tenaga pendidik (SDM).
Peningkatan kualitas ini menuntut peningkatan kualitas pendidikan, baik pada tahapan anak usia dini, anak – anak, remaja maupun dewasa. Adapun upaya peningkatan kualitas pendidikan antara lain mempersyaratkan peningkatan kualitas tenaga pendidik dengan dukungan ilmu pengetahuan yang releven dan terus dikembangkan agar menjadi tenaga pendidik yang profesional.
(Shulman & Grossman, 1988; Wilson et al 1987) dalam Hamzah Ramlah (2008) menyebutkan seorang guru professional harus memiliki tujuh domain guru professional antara lain: pengetahuan tentang materi pelajaran, pengetahuan konten pedagogi, pengetahuan isi lain, pengetahuan dari kurikulum, pengetahuan peserta didik, pengetahuan tentang tujuan pendidikan, dan pengetahuan pedagogi umum.

Secara umum semua pengembang kurikulum dalam pendidikan matematika harus memenuhi syarat komponen yang telah ditetapkan. Seperti pada kurikulum yang digunakan di Malaysia seseorang yang akan mengajar di tingkat sekolah menengah harus memenuhi dua syarat diantaranya: pertama, Guru Matematika merupakan lulusan sarjana program studi yang mengkhususkan diri di bidang Pendidikan Matematika yang memperoleh gelar Bachelor of Science (Matematika dengan pendidikan) atau sarjana Matematika (Pendidikan). Kedua, melalui proses seleksi yang menyeluruh.
Ada dua pendapat Perencanaan untuk guru, pertama untuk menjadi guru matematika yang kompeten pengembangannya didasarkan pada keyakinan bahwa seseorang harus memiliki pengetahuan yang mendalam dan beberapa dasar dalam pedagogi dianggap telah memadai untuk memulai profesi mengajar, ketrampilan mengajar akan datang dengan sendirinya.
Sedangkan pendapat di pihak lain pengembangan guru matematika cenderung lebih menekankan pada pedagogi yang dikembangkan berdasarkan keyakinan yang kuat bahwa pengetahuan tentang pedagogi dan peserta didik adalah sama pentingnya dengan pengetahuan tentang matematika. Meskipun pengetahuan tentang matematika ada nilai tambanhya dalam lingkungan pendidik.
Didasarkan dua pendapat yang berbeda, maka sebaiknya harus ada upaya untuk menyeimbangkan antara ilmu tentang matematika dengan pedagogi agar keseimbangan dalam proses belajar mengajar dapat terlaksana dengan baik.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah persiapan mengajar dibutuhkan dalam proses belajar mengajar?
2. Adakah pengaruh keyakinan kemampuan keguruan dengan prestasi belajar siswa?

C. Tujuan
Tujuan umum
Untuk mengetahui apakah persiapan mengajar dibutuhkan dalam proses belajar mengajar dan pengaruh keyakinan kemampuan keguruan dengan prestasi belajar siswa.

Tujuan Khusus
Untuk mengetahui keseimbangan kemampuan materi ajar mata pelajaran matematika dengan kemampuan pedagogi dalam persiapan mengajar.

D. Manfaat
Manfaat Teoritis
Secara umum review ini memberikan pengalaman baru kepada dunia pendidikan untuk dapat meningkatkan kualitas pembelajaran matematika. Sehingga prestasi belajar matematika dapat meningkat pula.
Manfaat Praktis
Secara praktis, studi ini dapat dimanfaatkan
 Bagi guru: sebagai masukan untuk meningkatkan kemampuannya dalam mengajar
 Bagi sekolah: untuk meningkatkan kualitas dalam bidang pendidikan

BAB II
ISI

A. Ringkasan Artikel
1. Pendidikan Guru Matematika
Tabel 1 menampilkan program pendidikan Matematika di setiap Universitas berbasis pada kategori kursus. Kategori-kategori utama dianalis adalah program dalam pendidikan (pedagogi), kursus matematika, kursus dalam mata pelajaran wajib maupun pilihan.
Untuk mengkategorikan dua jenis penekanan dalam kurikulum, perbedaan kurang dari 10% antara kursus di bidang pendidikan dengan kursus dalam matematika dikategorikan dalam program sebagai Guru Matematika (MT) sedangkan perbedaan lebih dari 10% antara kursus di bidang pendidikan dengan kursus dalam matematika dikategorikan dalam program sebagai Guru Cum Matematikawan (M). seperti pada tabel 1, empat universitas menekankan pada program MT sedangkan dua lainnya pada program M. Program MT ditangani oleh Fakultas Pendidikan dan program M ditangani oleh Fakultas Sains/Matematika.
Hal ini lebih menekankan bahwa fakultas pendidikan menekankan bahwa guru yang baik harus memiliki pengetahuan pedagogi, sementara fakultas sains menekankan bahwa guru yang baik harus menguasai bahan/materi yang akan diajarkan.
2. Pra-Layanan Pemahaman Guru
Umumnya, persepsi responden pengetahuan konten pedagogi mereka percaya dalam pengajaran dan pandangan mereka tentang matematika yang positif dan moderat. Persepsi mereka tentang aspek-aspek apa yang penting dalam mengajar cukup tinggi, sementara tingkat kecemasan yang masih rendah (seperti pada tabel 2). Hal ini didasarkan pada umumnya aturan yang diberikan oleh Kubiszyn dan Borich (1996) yang menyatakan bahwa titik cut off rating rata-rata adalah 3,0 dan bahwa skor yang lebih tinggi 3,0 dianggap positif, sedangkan yang kurang dari 3,0 dianggap negatif.
Secara umum penelitian ini menunjukkan bahwa siswa yang telah menjalani program guru cum matematikawan lebih percaya diri, memiliki pandangan yang lebih baik, dan memiliki pengetahuan pedagogi yang sangat baik.
3. Keseimbangan komponen Matematika dan Pedagogi
Dalam membandingkan dua jenis program yang telah dibahas, perbedaan yang signifikan untuk dirasakan pentingnya penerapan aspek pengajaran tertentu, pandangan matematika, dan PCK. Strukur kurikulum untuk program guru cum matematikawan menunjukkan bahwa siswa dikembangkan lebih positif dalam pemahaman tentang matematika.

B. Metodologi Penelitian
Penelitian program persiapan guru matematika dilakukan di beberapa universitas di Malaysia dan Singapura, dan pemilihannya dilakukan secara acak. Subyek yang dipilih adalah mahasiswa tingkat akhir dari Sarjana Sains dan mahasiswa Sarjana Pendidikan.
Kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini dikembangkan berdasarkan aspek identifikasi ebagai kontribusi keyakinan pra-layanan guru yang berkonteks Malaysia, (i) strategi tertentu melaksanakan pengajaran, (ii) pengajaran khusus, (iii) pengajaran matematika topik tertentu. Selain melalui kuesioner data juga didapat melalui wawancara.

C. Kesimpulan
Penelitian ini menghasilkan suatu kesimpulan bahwa persiapan mengajar sangat dibutuhkan agar proses pembelajaran berjalan dengan baik. Persiapan tersebut meliputi keseimbangan antara pengetahuan tentang matematika (materi) dengan Pengetahuan mengajar (pedagogi)

BAB III
PEMBAHASAN

A. Hakekat Matematika
Hakekat matematika berkenaan dengan ide-ide, struktur-struktur dan hubungan-hubungan yang diatur menurut aturan yang logis sehingga matematika itu berkaitan dengan konsep-konsep yang abstrak. Sesuatu kebenaran matematika dikembangkan berdasarkan atas alasan yang logis dengan menggunakan pembuktian deduktif.
Dari pengertian di atas, maka dapat dikatakan bahwa matematika adalah ilmu deduktif yang tidak menerima generalisasi yang didasarkan pada pengalaman secara induktif saja. Matematika merupakan ilmu tentang struktur terorganisasikan mulai dari unsur yang tidak terdefinisikan ke unsur yang didefinisikan, ke aksioma, postulat dan akhirnya dalil.

B. Persiapan Mengajar
Sudrajat(2008) menyebutkan bahwa persiapan mengajar pada hakekatnya merupakan perencanaan jangka pendek untuk memperkirakan atau memproyeksikan tentang apa yang dilakukan. Dengan demikian, persiapan mengajar merupakan upaya untuk memperkirakan tindakan yang akan dilakukan dalam kegiatan pembelajaran, terutama berkaitan dengan pembentukan kompetensi.
Pengertian mengajar ada dua sudut pandang yaitu pandangan tradisional dan pandangan modern. Pandangan Tradisional memberi makna mengajar adalah menanamkan pengetahuan pada anak. Pengertian tersebut menempatkan guru pada posisi sentral, yaitu sebagai sumber pengetahuan yang harus mencurahkan ilmunya kepada peserta didik sementara peserta didik diposisikan sebagai penerima yang pasif.
Adapun pandangan modern telah memberi warna yang berbeda, yang mendefinisikan mengajar adalah teaching is guidance of learning atau bimbingan kepada siswa dalam proses belajar. Dari pengertian tersebut dapat dipahami bahwa dalam proses pengajaan terdapat dua pihak yang sama – sama aktif yaitu guru yang bertugas memberi bimbingan dan anak yang melakukan kegiatan belajar karena bimbingan guru, Surtikanti(2008:17).
Sedangkan menurut Arifin dalam Syah (2010:179) mendefinisikan mengajar sebagai “…. Suatu rangkaian kegiatan penyampaian bahan pelajaran kepada murid agar dapat menerima, menanggapi, menguasai, dan mengembangkan bahan pelajaran itu”.
Kumpulan atau set model mengajar yang dianggap komprehensif, menurut Tardif dalam Syah (2010:187) adalah set model yang dikembangkan oleh Bruce Joyce dan Marsha Weil dengan kategori sebagai berikut:
1. Model Information Processing ( Tahapan Pengolahan Informasi )
2. Model Personal ( Pengembangan Pribadi )
3. Model Sosial ( Hubungan Bermasyarakat )
4. Model Behavioral ( Pengembangan perilaku )
Sehingga dapat disimpulkan bahwa mengajar itu pada asasnya adalah kegiatan mengembangkan seluruh ranah psikologis melalui penataan lingkungan sebaik – baiknya dan menghubungkannya kepada siswa agar terjadi proses belajar.
Dalam Syah (2010:229) menyebutkan dalam menjalankan kewenangan profesionalnya, guru dituntut memiliki keanekaragaman kecakapan (competencies) psikologis, yang meliputi:
1. Kompetensi kognitif (kecakapan ranah cipta)
2. Kompetensi afektif (kecakapan ranah rasa)
3. Kompetensi psikomotor (kecakapan ranah karsa)
Kompetensi yang terkait dalam pembahasan artikel ini adalah kompetensi kognitif guru. Kompetensi kognitif guru merupakan kompetensi utama yang wajib dimiliki oleh setiap calon guru dan guru profesional. Pengetahuan dan ketrampilan ranah cipta dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori, yaitu:
a. Kategori pengetahuan kependidikan/keguruan (ilmu pedagogik)
Menurut sifat dan kegunaannya, displin ilmu kependidikan terdiri atas dua macam, yaitu: pengetahuan kependidikan umum dan pengetahuan kependidikan khusus. Pengetahuan kependidikan umum meliputi: ilmu pendidikan, psikologi pendidikan, administrasi pendidikan, dsb. Sedangkan pengetahuan kependidikan khusus meliputi: metode mengajar, metodik khusus pengajaran materi tertentu, teknik evaluasi, praktik keguruan, dsb.
Pengetahuan pendidikan umum itu meliputi segenap pengetahuan kependidikan yang tidak langsung berhubungan dengan proses belajar mengajar, sedangkan ilmu pendidikan khusus langsung berhubungan dengan praktik pengelolaan proses belajar mengajar.
b. Kategori pengetahuan materi bidang studi
Ilmu pengetahuan materi bidang studi meliputi semua bidang studi yang akan menjadi keahlian atau pelajaran yang akan diajarkan oleh guru. Dalam hal ini, penguasaan atas pokok-pokok bahasan materi pelajaran yang terdapat dalam bidang studi yang menjadi bidang tugas guru, mutlak diperlukan.
Penguasaan guru atas materi-materi bidang studi itu sebaiknya dikaitkan langsung dengan pengetahuan kependidikan khusus terutama dengan metode khusus dan praktik mengajar. Jenis kompetensi kognitif lain yang juga perlu dimiliki oleh seorang guru adalah kemampuan mentransfer strategi kognitif kepada para siswa agar dapat belajar secara efektif dan efisien.
Guru sebagai pengajar professional bukan hanya dalam hal menyajikan materi pelajaran di depan kelas saja, melainkan juga dalam hal mendayagunakan keterbatasan ruang, waktu, dan peralatan yang berhubungan dengan proses belajar mengajar.
Dalam persiapan mengajar harus jelas kompetensi dasar yang akan dikuasai peserta didik, apa yang harus dilakukan, apa yang harus dipelajari, bagaimana mempelajarinya, serta bagaimana guru mengetahui bahwa peserta didik telah menguasai kompetensi tertentu. Aspek-aspek tersebut merupakan unsur utama yang secara minimal harus ada dalam setiap persiapan mengajar sebagai pedoman guru dalam melaksanakan pembelajaran dan membentuk kompetensi peserta didik.
Terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam pengembangan persiapan mengajar, diantaranya :
1. Kompetensi yang dirumuskan dalam persiapan mengajar harus jelas, makin konkrit kompetensi makin mudah diamati, dan makin tepat kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan untuk membentuk kompetensi tersebut.
2. Persiapan mengajar harus sederhana dan fleksibel serta dapat dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran dan pembentukan kompetensi peserta didik.
3. Kegiatan-kegiatan yang disusun dan dikembangkan dalam persiapan mengajar harus menunjang dan sesuai dengan kompetensi dasar yang telah ditetapkan.
4. Persiapan mengajar yang dikembangkan harus utuh dan menyeluruh serta jelas pencapaiannya.
5. Harus ada koordinasi antarkomponen pelaksana program di sekolah, terutama apabila pembelajaran dilaksakan secara tim (team teaching) atau moving class.

C. Pengertian Pedagogi
Menurut Surtikanti ( 2008:18) Pedagogi berasal dari bahasa Yunani kuno Paidos dan Agoo. Paidos artinya budak dan Agoo artinya membimbing. Akhirnya Pedagogi diartikan sebagai “budak yang mengantarkan anak majikan untuk belajar”. Dalam perkembangannya Pedagogi dimaksudkan sebagai “Ilmu Mendidik”.
Mahmuddin (2008) pedagogik juga merupakan suatu ilmu, sehingga orang menyebutnya ilmu pedagogik. Ilmu pedagogik adalah ilmu yang membicarakan masalah atau persoalan-persoalan dalam pendidikan dan kegiatan-kegiatan mendidik, antara lain seperti tujuan pendidikan, alat pendidikan, cara melaksanakan pendidikan, anak didik, pendidik dan sebagainya.
Undang-undang guru dan dosen No. 14 tahun 2005, dan PP No 19/2005 menyatakan kompetensi guru meliputi kompetensi kepribadian, pedagogik, professional, dan sosial.
Menurut Peraturan Pemerintah tentang Guru, bahwasanya kompetensi pedagogik Guru merupakan kemampuan Guru dalam pengelolaan pembelajaran peserta didik yang sekurang-kurangnya meliputi:
1. Pemahaman wawasan atau landasan kependidikan.
Guru memiliki latar belakang pendidikan keilmuan sehingga memiliki keahlian secara akademik dan intelektual. Merujuk pada sistem pengelolaan pembelajaran yang berbasis subjek (mata pelajaran), guru seharusnya memiliki kesesuaian antara latar belakang keilmuan dengan subjek yang dibina. Selain itu, guru memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam penyelenggaraan pembelajaran di kelas.
Secara otentik kedua hal tersebut dapat dibuktikan dengan ijazah akademik dan ijazah keahlian mengajar (akta mengajar) dari lembaga pendidikan yang diakreditasi pemerintah.
2. Pemahaman terhadap peserta didik
Guru memiliki pemahaman akan psikologi perkembangan anak, sehingga mengetahui dengan benar pendekatan yang tepat yang dilakukan pada anak didiknya. Guru dapat membimbing anak melewati masa-masa sulit dalam usia yang dialami anak. Selain itu, Guru memiliki pengetahuan dan pemahaman terhadap latar belakang pribadi anak, sehingga dapat mengidentifikasi problem-problem yang dihadapi anak serta menentukan solusi dan pendekatan yang tepat.
3. pengembangan kurikulum/silabus
Guru memiliki kemampuan mengembangkan kurikulum pendidikan nasional yang disesuaikan dengan kondisi spesifik lingkungan sekolah.
4. Perancangan pembelajaran
Guru memiliki merencanakan sistem pembelajaran yang memanfaatkan sumber daya yang ada. Semua aktivitas pembelajaran dari awal sampai akhir telah dapat direncanakan secara strategis, termasuk antisipasi masalah yang kemungkinan dapat timbul dari skenario yang direncanakan.
5. pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis
Guru menciptakan situasi belajar bagi anak yang kreatif, aktif dan menyenangkan. Memberikan ruang yang luas bagi anak untuk dapat mengeksplor potensi dan kemampuannya sehingga dapat dilatih dan dikembangkan.
6. Pemanfaatan teknologi pembelajaran.
Dalam menyelenggarakan pembelajaran, guru menggunakan teknologi sebagai media. Menyediakan bahan belajar dan mengadministrasikan dengan menggunakan teknologi informasi. Membiasakan anak berinteraksi dengan menggunakan teknologi.
7. Evaluasi hasil belajar
Guru memiliki kemampuan untuk mengevaluasi pembelajaran yang dilakukan meliputi perencanaan, respon anak, hasil belajar anak, metode dan pendekatan. Untuk dapat mengevaluasi, guru harus dapat merencanakan penilaian yang tepat, melakukan pengukuran dengan benar, dan membuat kesimpulan dan solusi secara akurat.
8. Pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya
Guru memiliki kemampuan untuk membimbing anak, menciptakan wadah bagi anak untuk mengenali potensinya dan melatih untuk mengaktualisasikan potensi yang dimiliki.
D. Prestasi Belajar
WJS Poerwadarminto (1985:768) memberikan pengertian bahwa prestasi adalah hasil yang telah dicapai, dilakukan, dikerjakan, dan dihasilkan. Sedangkan menurut Zainal Arifin (1988:3) prestasi adalah kemampuan ketrampilan dan sikap seseorang dalam menyelesaikan suatu hal.
Nana Sudjana (2000:28) menyatakan bahwa belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Seseorang dikatakan belajar apabila dirinya telah mengalami perubahan. Sedangkan menurut Oemar Hamalik (1990:21) belajar adalah suatu bentuk perumusan atau perubahan dalam diri seseorang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan.
Pandangan seseorang guru terhadap pengertian belajar akan mempengaruhi tindakan dalam membimbing siswa untuk belajar. Seorang guru yang mengartikan belajar sebagai hafalan fakta tentunya akan lain cara mengajarnya dibandingkan dengan guru lain mengartikan bahwa belajar sebagai suatu proses perubahan tingkah laku. Untuk itu penting artinya pemahaman guru akan pengertian belajar tersebut (Usman 1993:5)
Indikator keberhasilan/prestasi siswa dapat dilihat melalui peningkatan nilai hasil belajar siswa ketika mengikuti pelajaran matematika.

BAB IV
PENUTUP

A. Simpulan
Dalam penelitian ini menghasilkan suatu kesimpulan bahwa:
1. persiapan mengajar sangat dibutuhkan agar proses pembelajaran berjalan dengan baik. Persiapan tersebut meliputi keseimbangan antara pengetahuan tentang matematika (materi) dengan Pengetahuan mengajar (pedagogi).
2. Guru dan calon guru yang kurang memiliki keyakinan terhadap kemampuan keguruannya menyebabkan merosotnya prestasi belajar siswa.

B. Implikasi
Penelitian ini memberikan implikasi bahwa program pendidikan keguruan masih perlu menambah jam untuk praktik mengajar kepada para mahasiswa calon guru. Agar terjadi keseimbangan antara belajar di kampus dengan dengan belajar langsung di lapangan.

C. Saran
Berdasarkan kesimpulan dan implikasi dari penelitian tersebut di atas maka ada beberapa hal yang perlu peneliti sarankan, antara lain :
1. Kepada guru atau calon guru mata pelajaran matematika, penulis menyarankan agar keyakinan guru dalam konsep pembelajaran matematika harus ditingkatkan supaya tidak terjadi salah penafsiran bagi siswa tentang materi yang di ajarkan.
2. Siswa dan guru harus dipacu untuk selalu aktif dan bersemangat dalam proses belajar mengajar sehingga daya serap siswa terhadap pelajaran tertentu dapat di serap dan di pahami dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA

Md. Yunus, Aida Suraya, dkk. 2008. Mathematics Teachers’ Preparation Program: Determining the Balance between Contents in Mathematics and Pedagogi. European Jurnal of Social Sciences Vol 6 No 4.
Syah, Muhibbin. 2010. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Surtikanti, Joko santoso. 2008. Strategi Belajar Mengajar. Surakarta: BP. FKIP UMS.
M. Jumali, dkk. 2008. Landasan Pendidikan. Surakarta: Muhammadiyah University Press.
TIM. 2004. Manajemen Pendidikan. Surakarta: Muhammadiyah University Press.
Mahmudin. 2008. Kompetensi Pedagogik Guru Indonesia. On line pada http://mahmuddin.wordpress.com/2008/03/19/kompetensi-pedagogik-guru-indonesia/. Diakses pada tanggal 1 April 2011.
Sudrajat, Akhmad. 2008. Persiapan Mengajar. On line pada http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/08/02/persiapan-mengajar/. Diakses tanggal 1 April 2011.

KETERKAITAN KECERDASAN EMOSIONAL SISWA DALAM PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA

KETERKAITAN KECERDASAN EMOSIONAL SISWA

DALAM PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA

  1. Kecerdasan Emosional
    1. Pengertian Kecerdasan

Kata kecerdasan adalah dalam bahasa latin dikenal sebagai intellectus dan intelligentia. Selanjutnya dalam bahasa inggris diterjemahkan sebagai intellect dan intelligence. Intellegence dalam bahasa indonesia disebut kecerdasan (intelegensi). Dalam perkembangannya pengertian intelegensi banyak mengalami perubahan, Namun selalu mengandung pengertian bahwa intelegensi merupakan kekuatan atau kemampuan untuk melakukan sesuatu.

Feldam mendefinisikan kecerdasan sebagai kemampuan memahami dunia, berfikir secara rasional dan menggunakan sumber-sumber secara efektif pada saat dihadapkan dengan tantangan. Dalam pengertian ini kecerdasan terkait dengan kemampuan memahami lingkungan atau alam sekitar, kemampuan penalaran atau berfikir logis, dan sikap bertahan  hidup dengan menggunakan sumber-sumber yang ada.

Sejak tahun 1904, Binet seorang ahli psikologi berbangsa perancis telah berhasil membaut suatu alat mengukur kecerdasan yang disebut intelligence Quotient (IQ). Dan Gardiner mengemukakan 7 kecerdasan dasar, yaitu :

1. Kecerdasaan Musik (Musical intelligence)

2. Kecerdasan Gerakan badan (Bodily – kinesthetic intelligence)

3. Kecerdasan Logika matematika (Logical – Mathematical intelligence)

4. Kecerdasan Linguistik (Linguistic intelligence)

5. Kecerdasan Antar pribadi (Interpersonal intelligence)

6. Kecerdasan Ruang (Spartial intelligence)

7. Kecerdasan Intra Pribadi (Interpersonal Intellegence)

    1. Pengertian Emosi

Kata Emosi berasal dari bahsa latin yaitu Emovere yang berarti bergerak menjauh. Arti kata ini menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak merupakan  hal mutlak dalam emosi. Menurut Daniel Goleman (2002 : 411) emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak.

Menurut Beck yang mengungkapkan pendapat James dan Lange yang menjelaskan bahwa “Emotion is the perception of body changes which occur in response to an event”. Emosi adalah persepsi perubahan jasmaniah yang teradi dalam memberi tanggapan terhadap suatu peristiwa.

Emosi berkaitan dengan perubahan fisiologis dan berbagai pikiran. Jadi emosi merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia, karena emosi bias menjadi motivator perilaku dalam arti meningkatkan, tapi juga dapat mengganggu perilaku intsional manusia.

Daniel Goleman (2002:411) mengemukakan beberapa macam emosi yaitu:

  1. Amarah : beringas, mengamuk, benci, jengkel, kesal hati
  2. Kesedihan : pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihi diri,
  3. Rasa takut : cemas, gugup, khawatir, was-was, perasaan takut sekali,
  4. Kenikmatan : bahagia, gembira, riang, puas, riang, senang, terhibur,   bangga
  5. Cinta : penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati,
  6. Terkejut:
  7. Jengkel : hina, jijik, muak, mual, tidak suka
  8. Malu : malu hati, kesal
    1. Pengertian Kecerdasan Emosional

Kecerdasan Emosional atau Emotional Intelligence (EI) adalah kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustasi, mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stress tidak melumpuhkan kemampuan berpikir, berempati, dan  berdoa.

Menurut Goleman (2002 : 512), kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang mengatur kehidupan emosinya dengan inteligensi (to manage our emotional life with intelligence); menjaga keselarasan emosi dan pengungkapannya (the appropriateness of emotion and its expression) melalui keterampilan kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi diri, empati dan keterampilan sosial.

Walaupun EQ merupakan hal yang relatif baru dibandingkan IQ, namun beberapa penelitian telah mengisyaratkan bahwa kecerdasan emosional tidak kalah penting dengan IQ (Goleman, 2002:44).

Ketrampilan kecerdasan emosi bekerja secara sinergi dengan ketrampilan kognitif. Orang-orang yang berprestasi tinggi memiliki keduanya. Semakin kompleks pekerjaan, semakin penting kecerdasan emosi. Emosi yang lepas kendali dapat membuat orang menjadi bodoh. Tanpa kecerdasan emosi, orang tidak akan mampu menggunakan kemampuan  kognitif mereka sesuai dengan potensi maksimum.

  1. Faktor kecerdasan Emosional

Menurut Goleman yang mengutip Salovey (2002 : 58-59) memperluas kemampuan tersebut menjadi 5 kemampuan yaitu :

  1. Mengenal Emosi Diri

Mengenali emosi diri sendiri merupakan suatu kemampuan untuk mengenali perasaan sewaktu perasan itu terjadi.

  1. Mengelola Emosi

Kemampuan Peserta Didik dalam menangani perasaan agar dapat terungkap dengan tepat atau selaras, sehinga tercapai keseimbangan dalam diri peserta didik.

  1. Memotivasi Diri Sendiri

Memberi dorongan pada dirinya sendiri untuk memberi semangat dalam mencapai prestasi yang diinginkan.

  1. Mengenali Emosi Orang Lain

Peserta didik yang memiliki kemampuan empati lebih mampu menangkap sinyal-sinyal sosial yang tersembunyi yang mengisyaratkan apa-apa yang dibutuhkan orang lain sehingga  ia lebih mampu menerima sudut pandang lain, peka terhadap perasaan orang lain dan lebih mampu untuk mendengarkan orang lain.

  1. Membina Hubungan

Ketrampialan dalam berkomunikasi merupakan kemampuan dasar dalam membina hubaungan.

  1. Pengaruh Kecerdasan dengan Penyelesaian Soal Matematika

Kecerdasan emosional berperan penting saat peserta didik dihadapkan pada suatu permasalahan, misalnya saat mengerjakan soal-soal matematika. Keadaan emosi yang dibutuhkan adalah suasana yang tenang dan merasa yakin dapat mengerjakan. Apabila keadaanya seperti itu, maka mereka akan dengan mudah mengerjakan soal tersebut. Berbeda dengan siswa yang sebelumnya sudah merasa gugup dan percaya tidak bisa mengerjakan. Hal ini mengganggu konsentrasinya, akibatnya peserta didik akan merasa kesulitan mengerjakan soal tersebut.

Apapun permasalahan yang kita hadapi, sesulit apapun soalnya, yang kita butuhkan  adalah keadaan emosi yang baik. Karena akan menguntungkan kita dalam menyelesaikan masalah. Karena keadaan emosi diri kita hanya kita sendiri yang mengetauinya maka kita harus pandai-pandai menempatkan emosi yang tepat pada keadaan kita.

  1. Keterkaitan Antara Kecerdasan Emosional dengan Prestasi Belajar Siswa

Ditengah persaingan di dunia pendidikan, apabila para siswa sering khawatir mengalami kegagalan atau ketidakberhasilanya dalam meraih prestasi khususnya pada pelajaran matematika merupakan perasaan yang wajar. Apalagi matematika yang para siswa menganggapnya pelajaran yang paling sulit.

Banyak usaha yang dilakukan para siswa untuk meraih prestasi pada pelajaran matematika agar menjadi lebih baik seperti mengikuti bimbingan belajar. Usaha tersebut jelas positif, namun faktor lain yang tidak kalah pentingnya dalam mencapai keberhasilan. Faktor tersebut adalah kecerdasan emosional, karena kecerdasan intelektual saja tidak memberikan persiapan bagi individu untuk menghadapi gejolak, kesempatan ataupun kesulitan dalam kehidupan. Dengan kecerdasan emosional individu mampu mengetahui dan menanggapi perasaan mereka sendiri dengan baik dan mampu membaca dan menghadapi perasaan orang lain dengan efektif.

Peserta didik dengan ketrampilan emosional yang berkembang baik kemungkinan besar ia akan berhasil dalam kehidupan dan memiliki motivasi untuk berprestasi. Sedangkan individu yang tidak dapat menahan kendali atas kehidupan emosionalnya akan mengalami pertarungan batin yang merusak kemampuannya untuk memusatkan perhatian pada tugas-tugasnya dan memiliki pikiran yang jernih. Akibatnya prestasi belajar tidak akan maksimal.

Sebuah laporan dari National Center For Clinical Infant Programs (1992) menyatakan bahwa keberhasilan di sekolah bukan diramalkan oleh kumpulan fakta seorang siswa atau kemampuan dirinya untuk membaca, melainkan oleh ukuran-ukuran emosional dan sosial.

  1. Kesimpulan

Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa kecerdasan emosional merupakan salah satu faktor yang penting yang seharusnya dimiliki oleh siswa yang memiliki kebutuhan untuk meraih prestasi belajar yang lebih di sekolah. Peserta didik yang memiliki tingkat kecerdasan emosional yang lebih baik, dapat menjadi lebih terampil dalam menenangkan dirinya dengan cepat dan lebih cakap dalam akademis di sekolah.

Ketrampilan dasar emosional tidak dapat dimiliki secara tiba-tiba, akan tetapi membutuhkan proses dalam mempelajarinya dan lingkungan yang membentuk kecerdasan emosional. Maka dari itu bergaulah dalam lingkungan yang baik agar tertanam kecerdasan emosional yang baik pula..

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.